Husairi Abdi

Temuan Covid-19 Omicron di Kalsel Jadi 14 Kasus, Banjarmasin Mendominasi

0

TEMUAN kasus Covid-19 varian Omicron di Provinsi Kalimantan Selatan bertambah. Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, M Muslim, mengatakan penambahan terjadi usai hasil pemeriksaan sampel dengan pola whole genome sequencing (WGS) di Lab Litbang Kemenkes RI keluar pada Selasa (8/2/2022) sore.

ADA 5 kasus tambahan,” ujar Muslim yang juga Juru Bicara Tim Satgas Covid-19 Kalsel saat dikonfirmasi, Rabu (9/2/2022).

Dengan temuan baru ini, maka total pasien Omicron di Kalsel kini menjadi 14 kasus. Sebab, sebelumnya pemerintah daerah mengumumkan ada 9 sampel warga yang terpapar jenis baru dari coronavirus tersebut.

Muslim merinci, sebaran kasus Omicron ini terjadi di tiga kabupaten/kota. Di Banjarmasin, ada 6 warga yang dipastikan terpapar. Sementara, di Banjarbaru dan Tanah Bumbu, masing-masing menyumbang dua kasus.

Sisa kasus lainnya berasal dari luar daerah. Yakni dua orang dari Jawa Timur, dan masing-masing satu kasus dari Semarang dan Jakarta. Dipastikan semua pasien yang tercatat tidak memiliki gejala berat dan banyak dari pasien juga sudah dinyatakan sembuh.

BACA JUGA: Dinkes Kalsel Pastikan 9 Warga Positif Omicron, Masyarakat Diminta Perketat Prokes

Di lain sisi, ahli epidemiologi di Kalsel, IBG Dharma Putra, meminta masyarakat tak perlu was-was dengan varian baru Covid-19. Omicron menurutnya tidak jauh berbeda dengan varian atau mutasi coronavirus sebelumnya. Yang membedakan hanya tingkat penyebaran yang lebih cepat. “Namun, ketika tingkat vaksinasi sudah bagus, sebenarnya bisa diantisipasi untuk penyebaran virus,” pesan Dharma.

Magister kesehatan masyarakat ini mengatakan cara efektif untuk melindungi diri demi terhindar dari terpapar virus Corona adalah dengan disiplin memakai masker, menjaga jarak di tengah orang banyak serta tetap beraktivitas seperti biasa.

BACA JUGA : Kasus Covid-19 Melandai, Tabalong Waspada Mutasi Varian Omicorn 500 Persen Lebih Menular

“Namun, harus tetap waspada. Begitupula, saat berada di dalam ruangan, harus diperhatikan ventilasi udara. Dengan ventilasi udara yang bagus, dan jarak juga bagus, usahakan dalam sebuah pertemuan tidak berlangsung lama, bisa mencegah terpapar Covid. Beda jika kondisi ventilasi jelek dan tidak bisa diatur jaga jarak, maka potensi untuk tertular Covid lebih besar,” papar Dharma.

Dia mengingatkan agar penerapan 3T mencakup pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment) masih terus berjalan. Namun, menurut Dharma, itu adalah nomor ketiga, yang paling utama adalah adalah 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun), baru kemudian nomor dua adalah vaksin.

BACA JUGA : Obat Virus Corona Diluncurkan, Simak Telaahan Ahli Farmakologi Fakultas Kedokteran ULM

“Sekarang, pemerintah harus bisa terbuka untuk ngomong ke publik sehingga masyarakat tidak bingung dan termakan berita bohong mengenai vaksin. Inilah mengapa peran pemerintah sangat penting untuk dapat memberi kepercayaan kepada masyarakat. Misalkan, pejabat yang disuruh bicara itu tidak sering bohong, tentu publik akan percaya. Inilah mengapa perlu pejabat pemerintah yang kualitas kepercayaan publik tinggi, sehingga informasinya bisa dipercaya,” tutur Dharma, panjang lebar.

Dharma pun menyarankan agar pemerintah melibatkan tokoh-tokoh agama seperti dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan lainnya, karena dalam pandangan masyarakat jauh lebih dipercaya. “Saya yakin ketika para tokoh agama yang berbicara, masyarakat akan lebih menurut,” saran Dharma. (jejakrekam)

Pencarian populer:Corona kalsel
Penulis Asyikin
Editor Donny

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.