Cersil Kho Ping Hoo Paling Dicari, Kisah Johan Membidani Kios Buku Jadul

0

INGIN bernostalgia, datang saja ke kios Boekoe Jadoel. Letaknya persis di bahu Jalan Laksana Intan Nomor 19 RT 15 RW 02, Kelayan Selatan, Banjarmasin Selatan. Kios milik Johan ini pun diserbu para kolektor komik dan buku zaman dulu (jadul).

KIOS sekaligus rumah sederhana berbahan papan ini memang terlihat sedikit kusam. Namun, ada pelang nama dari poster sebagai petunjuk bagi penikmat buku dan komik.

Ketika masuk ke dalam, tumpukan buku dan komik pun menyambut. Memang sedikit berdebu, karena memang berada di pinggir jalan, sehingga debu-debu jalanan pun tak bisa terhindarkan, walau sudah dipasang plastik bening pembatas.

“Maklum karena berada di tepi jalan, ya seperti inilah kios saya. Jangan membayangkan seperti toko buku besar. Karena kios ini memang menyediakan buku-buku lawas. Termasuk, komik-komik langka,” kata Johan, pemilik kios Boekoe Jadoel kepada jejakrekam.com, Jumat (22/10/2021) lalu.

Dia menghitung ada sedikitnya 5.000 koleksi buku. Dari komik impor Jepang atau manga yang pernah melenjit di awal 2000-an di generasi milenial. Hingga, komik jadul yang digandrungi remaja atau pemuda tahun 1970-an hingga 1990-an.

“Memang, komik cerita silat (cersil) Kho Ping Hoo karya Asmaraman S atau Si Buta dari Gua Hantu atau sejenisnya, paling dicari. Kalau pun ada, tak tunggu sehari sudah ludes,” cerita Johan.

BACA : Ada Komik Porno, Barang Ilegal Senilai Rp 4,9 Miliar Dibakar Bea Cukai Banjarmasin

Koleksi komik jadul di kios milik Johan, termasuk buku beraksara China dan lainnya. (Foto Didi GS)

Pernah, Johan mengaku pernah dapat 35 jilid Kho Ping Hoo dari berbagai episode; Bu Kek Siansu, Pendekar Saksi (Bu Pun Su) dan lainnya, ternyata diborong seorang kolektor. Harga dibanderol Rp 25 ribu per jilid, tak langsung ditawar.

“Semua diborong habis. Nah, kalau komik Si Buta dari Gua Hantu, pernah ada satu jilid, juga langsung ludes,” kata Johan, terkekeh.

Ternyata tak hanya itu. Di kios Johan juga pernah ada manuskrip bertulis Arab Melayu berbahasa Banjar mengenai sejarah Banjar atau ajaran Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf juga langsung diburu para kolektor. Adapula, majalah lawas seperti Intisari, Bobo dan lainnya yang kini sudah tak lagi dicetak pun jadi koleksi jualan Johan.

“Wah, kalau bicara buku-buku bahari soal sejarah Banjar, langsung ada yang beli. Ada yang menanyakan via telepon, begitu saya katakan ada. Langsung datang ke sini,” kata Johan.

BACA JUGA : Toko Buku Usaha Jaya Lebih Bidik Segmen Pembaca Muslim

Menariknya, koleksi di kios Johan pun juga beragam macam bahasa. Ada berbahasa Inggris hingga Tiongkok. Bahkan, beberapa kolektor pun tampak menjual buku bekasnya ke kios Johan untuk diedarkan kembali.

“Ya, buku dan komik lawas ini kebanyakan datang dari Banjarmasin. Sebagian lagi ada kiriman dari Yogyakarta dan Jakarta,” ucap Johan, seraya menunjukkan tumpukan komik bekas rentalan asal Yogyakarta.

Menurut dia, dirinya sudah berjualan lebih lima tahun dengan aneka buku dan komik bekas itu. Karena tidak tercatat, Johan pun lupa apa saja isinya.

Johan mengakui, kebanyakan yang beli buku-buku jadul adalah kolektor. Kata dia, kalau beli yang sedikit itu kebanyakan warga biasa saja. “Seperti komik silat cukup digandrungi. Namun barangnya jarang ada, yang laku malah komik lokal,” ujarnya.

BACA JUGA : Tak Perlu Hunus Mandau, Perlawanan Masyarakat Dayak Bisa Melalui Buku

Koleksi buku lawas di kios milik Johan, seperti buku perkuliahan, karya penulis lokal dan lainya. (Foto Didi GS)

Kata Johan, komik-komik yang berukuran tipis dijualnya sekitar Rp 25 ribu per buku. “Per jilid bukunya dibeli orang, rata-rata menawar segitu,” bebernya.

Johan menjelaskan, kehadiran buku komik pun semakin ke sini, maka semakin langka. “Koleksi-koleksi buku itu, sudah jarang dan langka.”

Adanya teknologi yang massif, Johan pun merespon bahwa kecanggihan sekarang mengubah cara kerja dalam membaca, bisa lewat gadget maupun komputer yang tersedia. “Mungkin, sekarang orang punya minat masing-masing. Sehingga, kurang pembaca buku saat ini,” ucap pria kelahiran 1972 itu.

Tapi, Johan tak khawatir dengan jual beli buku dan komik di platform media sosial atau online, karena ternyata dari beberapa tahun menggeluti bisnis itu justru rezeki tetap saja datang.

“Kalau sudah menggeluti sesuatu, harus diuleti. Sebab, justru dari buku-buku bekas atau jadul ini malah bisa dapat untung,” imbuh Johan, terkekeh lagi.(jejakrekam)

Pencarian populer:cersil,Cersil langka
Penulis Rahim/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.