Belajar Bola dari Negeri Kangguru; Memori Peseban Versus Ascot Soccer 1975

0 689

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

PERTANDINGAN sepakbola berlevel internasional mungkin hal mustahil digelar di Banjarmasin pada era 1970-an. Tetapi bukan berarti tidak bisa terlaksana. Bak film Mission Impossible.

BERKAT tangan dingin Ketua Umum Peseban Ridwan Mas ‘si Baret Merah’, hal mustahil itu justru bisa terwujud. Terbukti, Peseban sukses mendatangkan Juara Divisi I Australia Barat tahun I974, Ascot Soccer Club ke Banjarmasin untuk friendly match atau laga persahabatan.

Mendiang M Hatta yang berkolaborasi Almin Hatta dalam bukunya “Si Gila Bola” (2012) menuliskan Ascot Soccer Club berlaga dengan Peseban pada 29 Nopember 1975, di Stadion 17 Mei, Banjarmasin.

Suatu pembuktian eksistensi Peseban di kancah sepakbola nasional dengan menggelar even akbar. Sayang sebelum pertandingan hujan lebat mengguyur wilayah Banjarmasin Barat di Sekitar Stadion 17 Mei. Tak ayal lapangan pun berair.

BACA : Kelahiran Peseban di Atas Puing BVB

Pertandingan pun berjalan kurang maksimal dilakoni Peseban. Demikian halnya tim tamu, tidak seratus persen mengeluarkan permainan terbaiknya. Meskipun demikian, penonton yang memadati Stadion 17 Mei tetap merasa puas. Hasil laga melawan kampiun Australia, skor 2-I untuk kemenangan tamu, Ascot Soccer.

Walaupun demikian, tentunya banyak hal positif yang bisa dipetik dalam upaya membangkitkan sepakbola banua kala itu. Sebut saja, dalam persiapan acara, tiket dijual besar besaran beberapa hari sebelum pertandingan digelar. Tiket tidak hanya dijual di loket Stadion 17 Mei, tetapi dijual di beberapa tempat yang ikut berpartisipasi menyukseskan even akbar ini.

BACA JUGA : Embrio Urang Banjar Mengenal Sepakbola

Antara lain toko alat olahraga “legendaris” yang menjadi “sport stationnya utang Banjar” PVM Hanafiah, Garuda Sport. Kemudian toko lainnya yakni Toko Belanga milik Sutra Ali Sahir dan Toko Glona.

Patut dicatat, seperti dikemukakan M Hatta & Almin Hatta (2012) kedatangan kesebelasan Ascot itu adalah loby tak kenal lelah Ketua Umum Peseban, Ridwan Mas. Bersama dengan Bardosono, Ketua Umum PSSI Kalsel.

Ridwan Mas beberapa kali bolak-balik Banjarmasin Jakarta untuk bisa memperoleh jatah satu kali pertandingan Ascot di Banjarmasin, dalam rangka lawatannya ke Indonesia. Menariknya untuk urusan itu, Ridwan rela bolak-balik juga ke Bina Graha, yang merupakan kantor Presiden RI Soeharto.

BACA JUGA : Juarai Aqua DNC 2017, Batu Agung Berhak ke New York

Selain berlaga di Banjarmasin, Ascot Soccer juga melakukan pertandingan di Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Malang dan Surabaya. Banjarmasin menjadi kota paling akhir yang menjadi tujuan lawatan Ascot Soccer di Indonesia.

Usai bertandang ke Kota Seribu Sungai, Ascot kembali ke home basenya di Perth Australia dengan route penerbangan via Jakarta. Dalam lawatan ini, Peseban menanggung biaya penerbangan dari Surabaya-Banjarmasin-Jakarta.

BACA JUGA : Jika Proyek Stadion 17 Mei Gagal Mengancam Reputasi Gubernur Kalsel

Kemudian menanggung biaya akomodasi dan uang garansi sebesar Rp 517.000,- kurs rupiah saat itu. Sementara itu PSSI menanggung transportasi Ascot dari Perth Australia ke Jakarta (Pulang Pergi/PP). Pada penyelenggaraan pertandingan ini Peseban juga menggalang kerjasama dengan SIWO PWI Cabang Kalimantan Selatan.

Tanggal 3 Januari I976, Manajemen Ascot Soccer Club WA (Inc), melalui sekretarisnya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Peseban.Atas sambutan dan segala keramahannya. Sekretaris Ascot juga menyampaikan terimakasih atas sambutan masyarakat kota Banjarmasin yang menurut mereka sangat bersahabat. Tentu saja mereka sangat berharap dapat mengunjungi negeri ini lagi dalam kesempatan berikutnya.

M Hatta dalam naskah lepasnya bertitel “Ascot Soccer”, juga menuturkan sebagaimana pertandingan-pertandingan resmi PSSI di wilayah Komda PSSI Kalimantan Selatan (kompetisi rayon Kalsel semua kelompok), penyelenggara pertandingan dengan Ascottersebut, juga dikenakan fee sesuai AD/ART PSSI. Karena itu PSSI melalui Komda melakukan penarikanfee dari hasil kotor pertandingan, dipotong pajak.

BACA JUGA : Cerita Sebutir Kelapa, Komoditas Berharga di Era Kolonial Belanda

Pada era ini tercatat, Sekretaris Komda Rasni Iskandar adalah penarik fee paling telaten. Penarikan fee dilakukan setiap selesai pertandingan. Setali tiga uang, perserikatan penyelenggara pertandingan juga taat membayar. Fee pertandingan memang sudah menjadi kewajiban penyelenggara untuk membayarnya.

Kiprah Ketua Umum Peseban Ridwan Mas tidak hanya mendatangkan klub luar negeri. Dalam kesempatan berikutnya, Peseban juga mendatangkan tim sepakbola/kesebelasan putri yang menjadi primadona 1975an. Klub tersebut adalah Buana Puteri dari Jakarta dan Puteri Pagilaran dari Yogyakarta.

Hal ini sejalan dengan program Galanita PSSI Kalsel.  Satu di antara klub undangan tersebut, Buana Puteri memang tim yang menjadi bagian Galanita waktu itu.

Pada klub ini diperkuat Ambar Maladi- puteri Ketua Umum PSSI.Sebagai info, Maladi pernah menjadi pemain sepakbola di posisi penjaga gawang. Uniknya Maladi sebenarnya adalah atlet tenis meja.

BACA JUGA : Mengintip Kejayaan Karet Kalsel Era Kolonial Belanda

Sayangnya, karena kendala teknis mereka batal berlaga di Banjarmasin. Walaupun demikian baik tim Buana maupun Pagilaran ternyata cukup senang datang ke Kota Banjarmasin.

Rombongan kedua tim ini selama berada di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, mendapat servis memuaskan. Satu di antaranya adalah didaulat Ketua Umum Peseban, Ridwan Mas untuk jalan-jalan ke Pasar Terapung.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.