ACT

Kekuatan Sedekah di Tengah Wabah Virus Corona

0 58

Oleh : Nasrullah AR

“SEDEKAH dapat menolak 70 macam bencana dan yang paling ringan (di antara bencana itu) adalah wabah penyakit kusta dan lepra,” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir)

MEWABAHNYA virus Corona (Covid-19), memiliki dampak yang luas di berbagai lapisan masyarakat. Para pengusaha harus menerima kerugian, karyawan harus berhenti dari pekerjaan, pedagang sepi dari pembeli, aparat sipil negara harus terbatas dalam bekerja.

Bahkan, dampak yang sangat menyedihkan adalah anak harus kehilangan orang tuanya, orang tua harus kehilangan anaknya, suami harus kehilangan istrinya, begitu sebaliknya istri harus kehilangan suaminya, syahid karena wabah virus Corona (Covid-19).

Untung memang tak bisa diraih, malang tidak bisa ditolak. Bak diagendakan, bulan Ramadhan -yang syarat dengan rahasia-rahasia yang Allah anugerahkan kepada seluruh umat manusia di alam semesta ini- kali ini, kita menyaksikan berbagai peristiwa dan laku sikap hamba-Nya dalam merespon kejadian luar biasa (extra-ordinary) ini, bagai cerita tanpa ada akhir yang menyisakan duka dan nestapa.

Pada suasana puncak bulan Ramadhan ini, kami ingin menyampaikan pesan moral walaupun jauh dari kesempurnaan.

BACA : Komunitas Jumat Sedekah Tebar Bantuan, Untuk Korban Banjir Muara Teweh

Terkait kutipan hadits di atas, definisi sedekah sangat luas cakupannya, bukan sebatas pemberian berupa materi tetapi juga meliputi non-materi. Dalam arti yang luas, sedekah dapat menjadi power untuk melakukan recovery di seluruh aspek sendi kehidupan pada masa sulit seperti ini.

Di dalam sedekah juga terkandung nilai-nilai sosial karena akan tumbuh sikap saling peduli, bekerjasama atau saling tolong menolong. Salah satu bukti nyata adalah sedekah yang dipersembahkan oleh para tenaga medis seperti dokter dan perawat.

Mereka rela menyedekahkan waktu, tenaga bahkan nyawa mereka -Allah yarham- demi pencegahan dan penyembuhan pasien yang terkena Virus Corona.

Menjadi harapan bagi kita, adanya peran serta semua pihak khususnya pemerintah, pengusaha dan elemen masyarakat yang mempunyai kemampuan yang lebih untuk memanfaatkan sedekah sebagai upaya pemulihan dari wabah yang terjadi sebagai pengejawantahan rasa kepedulian kepada masyarakat.

BACA JUGA : Bulan Ramadhan, Satpol PP Siap Tindak Tegas Manusia Gerobak

Dari peristiwa ini memang sangat banyak mengandung hikmah yang luar biasa. Salah satunya adalah kita mengenal jati diri kita yang sesungguhnya sebagai makhluk Allah dan Allah-lah Dzat yang Maha segalanya. Di sinilah makna ungkapan “man arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu” menemukan relevansinya.

Untuk menjaga sedekah agar tetap memiliki nilai di hadapan Allah SWT, maka kebaikan ini harus disertai dengan iman dan keikhlasan. Sedekah tanpa iman dan keikhlasan akan kehilangan makna dan sia-sia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 264.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah: 264)

Semoga amal Ibadah kita diterima di sisi Allah. Wallahu A’lam.#Sholat Idul fitri di rumah aja.(jejakrekam)

Penulis adalah Wakil Ketua PWNU Kalsel dan Ketua Bidang MUI Provinsi Kalsel

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.