ACT

Kota Marabahan Diyakini Lebih Tua Dibandingkan Banjarmasin

0 818

HIPOTESIS sosiolog FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah justru meyakini Kota Marabahan yang menjadi ibukota Kabupaten Barito Kuala, bisa jadi lebih tua dibandingkan Banjarmasin yang sudah menginjak usia 493 tahun pada 24 September 2019 lalu.

FAKTA ini dikuatkan karena Marabahan atau dulu bernama Muara Bahan merupakan sebuah bandar perdagangan internasional, dengan datangnya armada dari berbagai bangsa ke pelabuhan di tepian Sungai Barito dan terhubung ke Sungai Nagara atau Bahan atau pula Margasari.

“Pelacakan sejarah Kota Marabahan bukan soal barabut tuha (berebut tua) dengan Banjarmasin, namun ada aspek sejarah yang harus ditonjolkan untuk membangkitkan rasa percaya diri demi mendorong prestasi,” ucap Nasrullah kepada jejakrekam.com, Selasa (28/1/2020).

Magister sosiologi jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini merujuk ketuaan Marabahan itu pada referensi serta bukti fisik yang ada di ibukota Kabupaten Batola.

BACA : Dermaga Muara Bahan dan Kisah Para Pemburu Rempah (3-Habis)

Pedagang Bakumpai tengah mengayuh jukung atau sampannya menuju Pelabuhan Marabahan di era kolonia Belanda.

Nasrullah juga mengutip hipotesis ZA Maulani dalam bukunya berjudul Pedalaman Kalimantan: Kearifan Budaya dan Etnik (2000) menjelaskan posisi strategis Marabahan dalam jalur perdagangan di era Kesultanan Banjar, karena menghubungkan hulu Barito, Banjarmasin dan Margasari.

“Ini juga diperkuat dalam cacatan ekspedisioner Denmark bahwa tempat ini menjadi lokasi perdagangan internasional di masa kerajaan Banjar adalah Marabahan. Sebab, roduk dari tanah Siang dan Murung melalui perdagangan sungai dengan berjejernya ratusan perahu dan rakit raksasa justru bersandar di Pelabuhan Marabahan, seperti ditulis Helius Sjamsuddin, 2001,” tutur Nasrullah.

BACA JUGA : Dermaga Muara Bahan dan Kisah Para Pemburu Rempah (2)

Menurut dia, fakta ini mengisyaratkan bahawa Marabahan merupakan kota besar sebelum Kerajaan Banjar hadir di Tanah Kuin. Begitu Pangeran Samudera menjadi raja dan ditahbiskan bergelar Sultan Suriansyah, denyut perdagangan di Marabahan dialihkan ke Banjarmasin sehingga bandar Marabahan berangsur-angsur  menjadi sepi. I

“Ini merupakan konsekuensi logisi pusat keramaian selalu berada di ibukota kerajaan. Hal ini membuktikan usia kota Marabahan ada sejak masa pra kerajaan Banjar, boleh jadi pada masa kerajaan Hindu yakni Kerajaan Daha dan Negara Dipa,” papar Nasrullah.

Rumah seorang petinggi Belanda di Kota Marabahan, tempo dulu.

Bukti lain menunjukkan tidak hanya kota Marabahan saja yang bernilai sejarah. Ternyata daerah sekitar kota Marabahan juga menjadi kisah penting. Menurut Nasrullah, dalam buku klasik Hikayat Banjar, Lambung Mangkurat ketika bertapa di Sungai Barito, dikisahkan muncul Puteri Junjung Buih untuk menemuinya.

“Mitos ini pula menjadi sejarah bermulanya kain sasirangan yang sekarang dipakai sebagai kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan.Mitos ini menceritakan situs pertapaan Lambung Mangkurat, sebagaimana dalam Kisah Lambung Mangkurat dan Raja Banjar,” urainya.

BACA LAGI : Dermaga Muara Bahan dan Kisah Para Pemburu Rempah (1)

Nasrullah melanjutkan pada saat bertapa, oleh dewata diberi seorang puteri yang muncul ke permukaan air di Teluk Babuih yang kemudian puteri ini diberi nama Puteri Junjung Buih yang diambil dari nama tempat munculnya (Syukur, 2003:16).

“Letak situs pertemuan Lambung Mangkurat dan Puteri Junjung Buih ini berada di perbatasan Desa Balukung, Kecamatan Bakumpai dan Jambu-Baru Kecamatan Kuripan atau sekitar 20 kilometer dari Kota Marabahan,” kata Nasrullah.

Hingga, penduduk setempat menyebutnya ulek babuih. Pesan penting dari mitos Junjung Buih bukan terletak dari benar-salahnya mitos tersebut, tetapi dari mitos saja menunjukkan daerah sekitar Marabahan telah menjadi bagian terpenting dalam sebuah cerita besar cikal bakal kekerabatan Kerajaan Banjar. “Kalau saja situs yang terdapat dalam mitos itu dapat dikelola dan “dijual”, niscaya menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjunginya dan mendapatkan nilai keuntungan baik  Pemkab Batola dan masyarakat sekitarnya

Dari segi arsitektur juga menunjukkan Marabahan adalah kota tua melalui perbandingan antara rumah adat Banjar dan Bakumpai yang dapat diperhitungkan usia lebih muda dan tua,” ucapnya.

BACA LAGI : Mandi Kekayaan Pedagang Bakumpai yang Merajai Tanah Dusun

Nasrullah juga mengutip hasil riset Ira Mentayani (2008), yang menyebut bahwa terdapat begitu banyak sebaran rumah Banjar di daerah Bakumpai, Marabahan.

Dengan fakta itu, Nasrullah mengatakan fenomena ini mengundang pertanyaan, salah satunya adalah apakah gejala ini hanya sekadar fenomena rumah pendatang ataukah ada hubungan arsitektural? Hasil penelitiannya menyimpulkan, antara rumah adat Banjar dan rumah adat Bakumpai di Kota Marabahan terdapat hubungan kesamaan fisik arsitektural dan diperkuat dengan bukti-bukti sejarah.

Walaupun terdapat kesamaan, menurut Mentayani seperti dikutip Nasrullah bahwa  arsitektur tradisional yang berkembang di Suku Bakumpai terlihat lebih sederhana. Namun demikian, kesederhanaan ini justru menunjukkan bahwa arsitektur tradisional Suku Bakumpai lebih tua usianya, lebih awal perkembangannya, dan berbagai elemen komponen arsitektural belum berkembang sebagaimana yang terdapat di wilayah suku Banjar.

“Selain fakta dari sejarah dagang, mitos, dan arsitektur masa lampau. Ternyata Kota Marabahan memiliki sejarah perekonomian sebagai penghasil tikar purun dan tikar kajang serta menyimpan dokumentasi bersejarah di perpustakaan asing,” katanya.

BACA LAGI : Dayak Bakumpai, Pendakwah dan Penyebar Islam di Pedalaman Kalimantan (3-Habis)

Hal ini dikuatkan dengan hasil penelitian R. Broersma menyebutkan bahwa antara tahun 1916 hingga 1922, Marabahan telah mengekspor belasan juta tikar melalui pelabuhan Banjarmasin. Puncak ekspor pada tahun 1920 yakni lebih dari 13 juta lembar tikar dengan nilai 380 ribu Gulden  (dalam Susilawati, 2004).

Suasana Sungai Barito dalam jepretan seorang fotografer Belanda yang dimuat dalam website KILTV Universitas Leiden.

Nasrullah juga mengatakan dari penelusuran data melalui internet, Kota Marabahan mendapat perhatian dari pihak asing. Penulis mendapatkan dokumentasi foto-foto Kota Marabahan diambil antara tahun 1908 dan 1920 berupa masjid, kantor pemerintahan Belanda dan sekolah pemerintah yang dipublikasikan oleh perpustakaan University of Southern California.

“Bukti seperti ini juga menunjukkan kalau Marabahan baik dari sejarah dan fungsinya merupakan kota penting di masa lalu. Kiranya dengan menggunakan bukti-bukti sejarah yang penulis paparkan, dapat menjadi bukti awal betapa bersejarah dan pentingnya Kota Marabahan di masa lampau,” kata Nasrullah lagi.

BACA LAGI : Cina Banjar dan Sepenggal Kisah dari Rumah Lanting

Alumni IAIN Antasari Banjarmasin ini menegaskan dalam melacak sejarah Marabahan bukanlah berhenti dengan data yang sedikit ini, serta hanya sekadar menemukan angka tahun yang menunjukkan sebagai kota tua.

“Namun, melacak sejarah sebuah kota, bukan sebuah keinginan untuk bernostalgia ke masa silam atau pun kebanggaan belaka. Sejarah adalah sesuatu yang telah berlalu, tapi setiap peristiwa penting di masa lalu dapat membangkitkan muruah atau harga diri penduduk kota di masa sekarang,” tandas Nasrullah.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.