ACT

Tingkatkan Kualitas, Perguruan Tinggi Negeri Kawasan Timur Bentuk Konsorsium

0 94

PERGURUAN tinggi negeri di kawasan timur Indonesia berkumpul di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Selasa (6/8/2019). Mereka menamakan diri Konsorsium PTN Kawasan Timur Indonesia (KPTN-KTI), yang telah dideklarasikan pada Maret 2019 di Manado, Sulawesi Utara.

KPTN-KTI memilih ketuanya adalah Rektor Universitas Sam Ratulangi Prof Ellen Juan Kumaat dan wakil ketuanya Rektor ULM Prof Sutarto Hadi.

Pertemuan di Banjarmasin ini merupakan agenda pertama mereka setelah pembentukan. ULM dipercaya sebagai tuan rumah untuk konsorsium yang pertama. Mereka membahas strategi untuk bisa bersaing dengan PTN di kawasan barat Indonesia, khususnya perguruan tinggi yang ada di Pulau Jawa.

Menurut Prof Ellen Juan Kumaat, perubahan penilaian akreditasi lembaga PTN semakin berat karena lebih ditekankan pada aspek pencapaian dibanding proses.

“Tantangan dan tuntutan kualitas semakin berat. Di sisi lain, anggaran tidak semakin besar. Karena itu, kerjasama KPTN-KTI adalah cara yang baik guna kita tempuh,” ujarnya.

BACA : Alumni Bergelar Doktor Pertama dari ULM

Prof Sutarto Hadi menambahkan, perguruan tinggi negeri di kawasan timur Indonesia perlu untuk menjaga interaksi dengan sesamanya. Dengan demikian, masalah yang dihadapi bisa ditangani bersama.

Misalnya dalam peningkatan tenaga pengajar. Banyak perguruan tinggi negeri di kawasan timur Indonesia kesulitan untuk meningkatkan kualitas dosennya. Sementara ini, baru Universitas Hasanuddin yang memiliki status dan badan hukum dalam kerjasama penelitian dan publikasi internasional.

“ULM juga punya misi demikian. Kami ingin meningkatkan kapasitas agar bisa membantu mewujudkan misi setaranya perguruan tinggi di kawasan timur dengan perguruan tinggi di kawasan barat Indonesia,” katanya.

Selain fokus pengembangan SDM, tambah Sutarto, KPTN-KTI akan bekerja sama dalam penelitian dan publikasi ilmiah. “Kami sudah kirimkan proposal ke kementerian guna membuka tujuh program doktor baru, sehingga dosen-dosen bisa lebih mudah menempuh pendidikan S3 agar bisa meningkatkan penilaian akreditasi,” katanya.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Andi Oktaviani

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.