ACT

Rumah Berornamen Banjar Sarat Nilai Luhur, Sayang Kini Kian Tersingkir

0 95

KHAZANAH luhur rumah berarsitektur Banjar kian tersingkir dalam pola pembangunan rumah dan gedung di Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin yang notabene ibukota Provinsi Kalimantan Selatan saja, pada 2017 lalu, tersisa hanya 125 bangunan berarsitektur dan berornamen Banjar dari semua tipe rumah yang pernah ada.

DALAM buku Rumah Adat Banjar yang ditulis budawayan Banjar terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Syamsiar Seman pada 1982 mencatat sedikitnya ada 11 tipe, yakni Bubungan Tinggi, Gajah Baliku, Gajah Manyusu, Balai Laki, Balai Bini, Palimasan, Cacak Burung atau Anjung Surung, Tadah Alas, Rumah Lanting, Bangun Gudang, dan Palimbangan.

“Memang, rumah adat Banjar atau berarsitektur dan berornamen Banjar makin langka. Tiap tahun akan terus berkurang diganti bangunan modern atau rumah kekinian. Bahkan, ada pula yang tergusur seperti dua rumah bahari di Jalan Masjid Jami, terdampak pembangunan oprit Jembatan Sulawesi,” ucap Faisal Embron kepada jejakrekam.com, usai acara Bapanderan di Ambin Batang, Banjarmasin, Rabu (8/1/2020).

BACA : Jaga Sejarah Kantor Gubernur, Rumah Banjar Harus Dirawat

Faisal mengungkapkan bersama komunitas pencinta rumah adat Banjar pernah melakukan riset sejak 2015 hingga 2017. Mereka pun menjelajahi beberapa kawasan yang tersisa rumah-rumah lawas, seperti di Banjarmasin, Marabahan (Kabupaten Barito Kuala), Kandangan (Kabupaten Hulu Sungai Selatan), Alabio, Kelua serta daerah lainnya.

“Memang, rumah-rumah kuno arsitektur Banjar masih banyak di Banjarmasin dan Martapura (Kabupaten Banjar). Namun, ada ukiran atau tatahan langka justru banyak kami dapatkan di Marabahan,” kata Faisal.

Ia mencatat berdasar data lapangan di Banjarmasin, rumah berarsitektur Banjar yang tersisa hanya 125 buah. “Itu data pada 2017. Sekarang, mungkin terus berkurang. Macam-macam penyebabnya, ada yang memang sudah lapuk termakan usia, kena gusuran serta roboh akibat tak dirawat pemiliknya,” ucap pegiat seni dan budaya Banjar dari Sanggar Sasaji ini.

BACA JUGA : Museum Wasaka, Rumah Banjar yang Didesain Arsitek Singapura

Menurut dia, rumah adat Banjar selain diperuntukkan untuk tempat tinggal dengan segala arsitektur dan ornamen, justru sangat sarat dengan simbol keyakinan, pesan, harpan dan status sosial penghuninya.

“Sebab, rumah adat Banjar yang sarat akan sejarah dan mampu menembus zaman baik fungsi maupun filosofinya,” tutur Faisal.

Ia mengakui karena mayoritas etnis Banjar memeluk Islam dan dekat dengan alam, banyak pahatan ornamen rumah Banjar penuh arti. Namun, menurut dia, secara umum ada empat motif ornamen dalam rumah adat Banjar.

“Untuk ornamen hewan yang dilarang dari Islam, akhirnya dikamuflasekan atau dipadukan dengan ornamen tumbuhan,” papar Faisal.

Menurut dia, akulturasi budaya Dayak, Melayu, Tionghoa dan Arab (Islam) sangat memengaruhi ornamen dalam rumah adat Banjar. Dia mencontohkan untuk ornamen hewan bisa dilihat dalam bentuk jamang enggang, jamang naga, gajah, kait walut, jamang pucuk halilipan, gigi haruan dan sarang wanyi.

“Ornamen anak naga dalam hal ini, jamang halilipan (lipan) yang menggambarkan sebuah keagungan. Namun, ornamen ini diadopsi dari Dayak Bukit,” kata Faisal.

BACA LAGI : Sarat Makna Filosofis, Sayang Rumah Arsitektur Banjar Makin Terkikis

Untuk ornamen tumbuhan, diuraikan Faisal bisa terlihat pada ukiran atau pahatan daun jeruju yang bermakna sebagai tolak bala. Kemudian, ada ornamen bugem (melati), batang tanding (teratai), kambang kacang, kambang goyang, kalakai, daun sirih, pucuk rabung, daun sawang dan daun gayam.

Sementara, masih menurut dia, untuk ornamen buah-buahan seperti nanas, manggis, cengkeh, buah paekat dan lainnya. Faisal mengungkapkan pada tangga masuk rumah, kebanyakan dipasang ornamen nenas yang menyimbolkan bagi tamu yang datang, awalnya berniat jahat bisa berubah menjadi baik.

“Sebab, sungkul nenas yang melengkapi titian tangga atau titian tikus dalam arsitektur Banjar itu bermakna agar rumah yang didatangi orang itu harus baik. Karena, nenas sejak dulu digunakan orang Banjar itu membersihkan besi atau senjata, sehingga karatnya bisa terkikih karena tingkat keasaman nenas,” tutur Faisal.

BACA LAGI : Bahasa Banjar Zaman Dulu dan Rumah Lanting Diusulkan ke Kemendikbud

Sedangkan, sungkul manggis menggambarkan agar para penghuni rumah dan tamu bisa berbuat jujur dan mengutamakan kejujuran. Bahkan, menurut dia, ornamen itu juga menegaskan bahwa orang Banjar itu suka blak-blakan dalam berbicara.

Peneliti rumah adat Banjar ini mengakui pengaruh agama Hindu, Islam serta akulturasi budaya Tionghoa turut mewarnai ornamen rumah adat Banjar.

Faisal menyebutkan di beberapa rumah yang berhasil didata didapat ukiran rajah kaligrafi dua kalimat syahadat, lam jalallah, doa nurbuat serta Muhammad Batangkup dan lainnya.

“Kebanyakan di depan rumah adat Banjar itu dipasang ukiran untuk ram atau angin-anginan sebagai media sirkulasi udara dipasang huruf lam jalallah. Tujuannya, untuk menangkal parangmaya (santet dan teluh), karena orang Banjar sangat percaya dengan dunia mistik,” tutur Faisal.

Bahkan, Faisal mengakui pernah diminta manajemen PS Barito Putera untuk mendesain huruf lam jalallah dipasang pada konstum pemain klub sepakbola itu yang berada di atas pundak. “Warna kuning dalam jersey Barito Putera sudah menggambarkan sebuah keagungan atau simbol kemenangan, ditambah lagi huruf lam jalallah, tentu bisa diharapkan bisa menangkal marabahaya,” ungkapnya.

BACA LAGI : Nilai Adiluhur dari Ornamen Rumah dan Masjid-Masjid Kuno di Ranah Banjar

Ornamen huruf Arab itu pun serupa dengan motif cacak burung yang menggambarkan alam bawah dan atas, teradopsi dari khanazah budaya Dayak Bukit.

Bahkan, beber Faisal lagi, dalam penelusuran rumah-rumah lawas Banjar juga terdapat ornamen karang baumbakan,pancar matahari dan puting angin untuk menangkal angin ribut.

“Hingga simbol Yin Yang serta lambang Dewa Siwa juga dimaksudkan untuk menolak bala. Ada pula, ornamen gunungan wayang, bulan sabuku, galang-galang, gagatas (ketupat), ujung pedang hingga katupung raja,” kata Faisal.

Menariknya, masih menurut dia, ada beberapa rumah tradisional Banjar juga menambahkan ornamen ilat api untuk menangkal kebakaran, serta menggambarkan simbol empat penjuru mata angin dengan ornamen gagatas.

“Seperti ornamen tali bapintal, para tukang yang membuatnya membaca Asmahul Husna (nama-nama Allah yang baik). Makanya, jumlahnya ganjil. Namun, saat naik ke rumah atau turun dari rumah, hitung saja, jumlahnya pasti berbeda,” tuturnya.

Ironisnya, Faisal mengaku galau karena kini keberadaan rumah adat Banjar kian tergerus, bahkan semakin langka. Ia pun berharap rumah adat Banjar yang lestari sejak era Kesultanan Banjar hingga kini, sudah sepatutnya dijaga dan dibenahi, sebagai warisan bagi anak cucu.

“Dari hasil penelusuran kami selama beberapa tahun, untuk rumah tipe Gajah Baliku sudah terbilang langka. Yang cukup lengkap itu hanya ada di Telok Selong, Martapura, Kabupaten Banjar. Padahal, rumah adat Banjar ini sangat sarat makna dan pesan luhur bagi generasi kita sekarang. Jika terus tersingkir, apa yang bisa kita tunjukkan bagi anak cucu kita?,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.