Sarat Makna Filosofis, Sayang Rumah Arsitektur Banjar Makin Terkikis

0

RUMAH tradisional khas arsitektur Banjar semakin ditinggalkan masyarakat. Kondisi ini kian menyedihkan, mengingat rumah khas Banjar memiliki nilai filosofis dan makna yang mendalam.

HAL ini diungkapkan seniman dan budayawan Banjar Hajriansyah yang merasa miris rumah Banjar mulai tergerus zaman.

“Saya sempat berbincang dengan teman sesama pecinta rumah Banjar, dari perbincangan kami makin ke sini makin menyedihkan nasibnya. Ini seiring, rumah bahari atau tempo dulu yang masih ada termakan usia dan mulai ditinggalkan dari perhatian masyarakat,” ucap Hajriansyah kepada jejakrekam.com, Jumat (20/9/2019).

BACA : Jaga Sejarah Kantor Gubernur, Rumah Banjar Harus Dirawat

Dia mengatakan ada 13 jenis tipe Rumah Banjar yang masing-masing sarat akan nilai dan makna tentang kehidupan masyarakat Banjar. Hajri menyebut ornamen Rumah Banjar dengan hiasan indah dan memiliki makna keindahan.

Seiring waktu dan kultur masyarakat berbeda-beda, ada yang rumit. Namun, ada pula penuh harmoni keseimbangan, ada yang kaos (chaos) dan abstrak. Aada juga yang simpel tapi rumit penjelasannya.

“Ornamen rumah Banjar, saya kira bermakna harmoni dengan alam.  Penuh makna keseimbangan antara alam atas dan bawah, antara sang Khalik dan makhluk-Nya. Susunan komposisi bagian per bagian dan bagian dengan keseluruhannya. Adakala rumit dalam lekuk, stiliran, tumpukan garis bidangnya” beber Hajri.

BACA JUGA : Museum Wasaka, Rumah Banjar yang Didesain Arsitek Singapura

Perupa ini menjelaskan ornamen arabeska dalam rumah Banjar menjadi jalan tengah masyarakat Banjar tempo dulu dalam memvisualisasikan keindahan, namun masih senafas dengan Islam yang menjadi agama mayoritas.

“Pasca Islam menjadi agama resmi orang Banjar, ornamen rumah turut dipengaruhi.  Ornamen sarat mankna simbolik, yang bisa mewakili bentuk-bentuk makhluk hidup bernyawa yang tidak boleh digambar langsung sesuai dengan syariat Islam. Ornamen rumah Banjar bisa mewakili konsepsi kesemestaan yang luas penuh ideologi,” urai Hajri.

BACA JUGA : Nilai Adiluhur dari Ornamen Rumah dan Masjid-Masjid Kuno di Ranah Banjar

Bagi dia, sikap orang Banjar yang terbuka dapat dicerminkan dalam ornamen-ornamen rumah Banjar. Misalnya bentuk gasing dan buah manggis yang biasa menjadi tampuk tiang tangga, atau ornamen kandang rasi.

“Saya melihat langsung bagaimana beberapa kultur keagamaan dan etnisitas saling mengisi dalam bentuk dekorasi rumah Banjar. Misal budaya Arab, Cina, Melayu, Jawa, dan Dayak menjadi satu dalam keseluruhan ornamen yang menghiasi bagian-bagian kosntruksi arsitektur rumah Banjar,” terang Hajri.

BACA LAGI : Di Era Sultan Suriansyah, Kerajaan Banjar Mulai Terapkan Hukum Islam

Dia menuturkan ornamen penghias rumah Banjar dipengaruhi beragam budaya mulai dari tangga, pagar, dahi lawang, lalungkang, sisi dinding atas bawah, kiri dan kanan, tawing halat, pilis hingga puncak bumbungan.

“Kemudian bentuk cacak burung, bogam yang didalamnya ada garis simbol seperti Ying-Yang (konsep dalam filosofi Tionghoa) swastika, kaligrafi Islam dan bentuk simbolik lainnya. Terkadang semua diramu dalam keseluruhan ornamen satu bangunan,” imbuh magister jebolan UIN Antasari ini.

BACA LAGI : Islamisasi Tanah Banjar dan Gagalnya Raden Sekar Sungsang Dirikan Kerajaan Islam

Hajri berpendapat kekayaan makna dan simbol dalam rumah arsitektur Banjar bisa menjadi inspirasi kehidupan yang harmoni. Makna lainnya adalah saling menghargai, menjunjung tinggi keberagaman dan sikap moderat terhadap keyakinan orang lain.

” Dengan memahami simbol dan pemaknaan rumah khas arsitektur Banjar, kita dapat mengapresiasikan keberagaman etnis dan agama. Semua itu telah dicerminkan leluhur kita dahulu, agar tidak mudah terpecah hanya karena perbedaan politik,” tandas Hajriansyah.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.