ACT

Tikar Purun Jangan Sampai Mengulang Kisah Lampit Amuntai

0 627

AMUNTAI sangat identik dengan tangan-tangan terampil. Era 1980 hingga 1990-an, lampit Amuntai mengalami kejayaan, hingga memudar seiring waktu. Namun, satu produk andalan yang hingga kini masih bertahan adalah tikar purun.

ALAS duduk berbahan dasar rerumputan liar yang tumbuh subur di padang ilalang Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), menjadikan tikar purun sebagai mata pencaharian sebagian besar warga desa di kabupaten yang dikenal dengan rawa yang membentang luas.

Saban Kamis subuh hingga pagi hari di seputaran Taman Putri Junjung Buih, Jalan Basuki Rahmat, pusat Kota Amuntai, para pedagang membuka lapak dagangan. Produk andalan adalah aneka kerajinan berbahan purun yang dikenal dengan sebutan Pasar Kamis di Amuntai.

BACA : Pasar Teluk Dalam dan Pasar Pandu Jadi Contoh Penggunaan Bakul Purun

Ternyata, kelihaian tangan memola dan merangkai lembar demi lembar purun menjadi anyaman tikar itu diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satunya adalah Akhmad Baihaki. Pemuda asal Desa Pulantani, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten HSU ini menggeluti kerajinan tangan pembuatan tikar purun, tas dan produk bernilai seni lainnya.

Menurut Baihaki, tanaman semak belukar yang tumbuh di rawa gambut dangkal sudah lama diolah dari generasi ke generasi di wilayah bekas Kerajaan Negara Dipa ini.

BACA JUGA : Gerakan “Taspurun”

“Dari nenek moyang sampai generasi sekarang, kerajinan tikar purun sudah lama ada. Ya, ada berbagai macam jenis tikar purun yang dibuat. Ada tikar panjang bercurai, tikar panjang bakambit, tikar panjang berwarna hingga tikar purun untuk jemuran tembakau,” tutur Baihaki kepada jejakrekam.com di Amuntai, Selasa (19/11/2019).

Pria yang kini berusia 22 tahun ini tak pelit dengan ilmu dan pengetahuannya untuk berbagi kepada para pengrajin lainnya. Menurut Baihaki, dirinya menekuni kerajinan tikar purun sejak dulu di bangku sekolah dasar. Secara otodidak, Baihaki meniru apa yang diolah kedua orangtuanya, hingga akhirnya diajarkan dan mengembangkan metode pengayaman yang lebih efektif dan menghasilkan produk yang bagus.

 “Untuk satu tikar purun butuh satu jam untuk membuatnya. Dalam sehari bisa  dibuat tiga tikar purun, dimulai dengan mengumpulkan bahan baku, menyusun hingga mengayam,” tutur Baihaki.

Ia menerangkan purun sampai kini menjadi sumber ekonomi selain bertani bagi sebagian masyarakat desa di HSU. Karena sudah membudaya, Baihaki mengatakan tanpa harus dipaksa, banyak tangan yang terampil membuat kerajinan khas alam ini.

Ketua Sentra Kerajinan Berkahilahi Desa Pulantani mengakui sekarang produksi tikar purun relatif berkurang, karena kegunaan hanya sebagai alas pengering tembakau rokok. Ini ditambah lagi, pesanan dari Surabaya atau Pulau Jawa, mulai berkurang, seiring dengan penggunaan terpal buatan pabrik.

BACA LAGI : Desain Arangan Terus Digenjot, Kerajinan Tangan Dayak Meratus Makin Diminati

Untuk bahan baku purun, para pengrajin berburu ke lahan atau hutan rawa. Sebagian lagi, dibeli dari pengumpul asal Desa Tampakang dan Desa Danau Panggang, Kecamatan Danau Panggang.

“Alhamdulillah kami masih bisa mendapat pasokan purun cukup melimpah. Kami juga mengembangkan aneka produk, tak hanya membuat tikar dan bakul purun,” ucap Baihaki.

Tersentuh pembinaan dari Dinas Koperindag Kabupaten HSU dan Badan Restorasi Gambut, kini purun tak hanya berbentuk hamparan tikal atau sekadar bakul sebagai tas jinjing tradisional ke pasar.

Baihaki juga mengeluhkan sekarang tak lagi mendapat suntikan modal, berbeda denga desa-desa tetangga. Padahal, dulunya, sentra pengrajin yang dibina Baihaki, pernah mendapat atensi dari pemerintah daerah.

“Karena tikar mayoritas yang kami produksi seperti jemuran tembakau ukuran satu meter kutrng lebih, terkenal dengan tikar Sampit.  Ada juga tikar berwarna yang dibeli orang luar HSU,” ucapnya.

BACA LAGI : Angkat Kearifan Lokal, Produk Kerajinan Kalteng Miliki Gedung Baru

Dalam sistem pemasaran, ternyata Baihaki dan kawan-kawan tak memasarkan langsung produk olahannya. Tapi dibeli seorang pengumpul yang disebut juragan tikar untuk dijual lagi ke pasar atau para pemesan besar.

“Bantuan dari pemerintah daerah sangat kami butuhkan untuk pengembangan usaha dan inovasi produk. Bagaimana pun, purun telah menciptakan lapangan kerja bagi warga desa. Ini tak boleh dibiarkan hidup sendiri, karena bisa saja nanti akan mengalami mati suri seperti kisah lampit Amuntai,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Muhammad
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.