Kapala Manyurung, Buntut Mahambat

Oleh : Noorhalis Majid

ADA beberapa jenis binatang yang buntut atau ekor, sama berbahaya dengan kepala. Ular, buaya, entah apa lagi, mungkin masih banyak.  Lazimnya, orang takut, dengan kepala, karena di kepala ada mulut yang menggigit dan mematuk.

TERNYATA ada binatang yang buntutnya justru berbahaya. Ular kobra, ujung buntutnya keras dan tajam. Sedangkan buaya, buntutnya mampu memukul dengan keras dan cepat. Menghadapi jenis binatang seperti ini, tidak ada pilihan lain kecuali menjaga jarak. Lari menjauh, mungkin akan lebih aman.  Waspada kepada kepala, sekaligus buntutnya.

Fenomena itu ditangkap, direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, dijadikan nasehat hidup.  Basanya, bila paribasa meminjam prilaku binatang, dianggap sebagai perbuatan buruk. Sejumlah paribasa yang memadankan dengan prilaku binatang seperti, manimpakul, mamilanduk, puraca, kula-kula buaya, dan lain-lain, dipersepsi sebagai sesuatu yang tidak baik.

BACA : Paribasa Banjar; Hundang Bapadah Ratik

Maknanya, berhati-hati, bukan saja pada saat di depan dia, tapi di belakangnyapun harus waspada.  Kita tidak bisa membaca hanya pada yang nampak, karena yang tidak nampak juga berbahaya.  Tentu ini sangat sulit sekali. Karena saat di belakang, bisa saja berbahaya. Dikata-katai, difitnah, diceritakan yang macam-macam.

Tampak depannya tenang, tidak membahayakan, di belakang jangan-jangan memukul secara sembunyi. Di depan sangat baik, santun, di belakang malah membicarakan yang berbeda.  Lebih parah, di hadapan kita memuji-muji, setelah berlalu, malah sebaliknya, menghina.

BACA JUGA : Baguna Tahi Larut; Paribasa Banjar, Refleksi Budaya

Makna lebih luas dari paribasa ini, orang yang memperdaya. Antara tampak depan dan tampak belakang bertolak belakang. Dia tawarkan sesuatu yang nampak manis dan baik, setelah diikuti, justru menyalahkan, maniwas di belakang. Pendek kata, di depan penuh madu, di belakang racun.

Paribasa (peribahasa) dalam bahana Banjar ini memberikan pelajaran bahwa ada orang yang karakternya dua wajah, atau bahkan lebih banyak. Antara di depan dan di belakang berbeda. Di depan baik, di belakang jahat. Waspada, jangan terpedaya, orang seperti ini, kapala manyurung, buntut mahambat. (jejakrekam)

Penulis adalah Kepala Ombudsman Perwakilan Kalsel

Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar