ACT

Alquran dan Tradisi Lisan Masyarakat Banjar

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

0 102

ADA fakta yang menarik dalam Forum International Conference On Social and Intelectual Transformation of the Contemporary Banjarese di Hotel Aria Barito, Banjarmasin, beberapa waktu lalu.  

TERNYATA komunikasi dan interaksi Urang Banjar dengan al-Qur’an lebih pada performatif daripada informatifnya. Pendeknya, lebih pada amaliyahdaripada ilmiyahnya. Lebih pada bunyinya daripada maknanya. Hingga sejak dulu sampai kini susah mencari ulama Banjar yang menulis tafsir Alquran, yang ada hanya menulis indah (khat) seperti tulis tangan Alquran yang dilakukan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary.

Kemudian, dari cara komunikasi dan interaksi seperti ini dikutip dari hasil riset Dr Ahmad Rafiq MA yang merupakan alumni Temple University, Pensylvania, Amerika Serikat dan dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Sunan Kalijaga, Yogyakarta, banyak fakta yang menarik.

BACA : Barajah dan Bawafak, Kesaktian Kertas Kusam Bersimbol Ayat Alquran

Bahkan, Ahmad Rafiq yang merupakan perantau Banjar berdarah Amuntai yang lahir di Banjarmasin menjelaskan banyak muncul tradisi lisan yang diwariskan dari masa ke masa dari generasi ke generasi berupa ayat-ayat al-Qur’an yang irama bunyinya semacam diplesetkan.

Semisal وذكراسم ربه فصلى wa dzakaras ma rabbihi fa shalla diartikan sebagai batisku karas nangkaya waja tahan bagapuk (kakiku kuat seperti besi baja, tahan benturan apa saja), ayat ini kerap dipakai dalam permainan sepakbola.

Berikutnya تبت يد ابي لهب وتب tabbat yada abi lahabiw wa tabba diartikan sebagai handak manabat banyu biar takurung wayah ditajak pagar tabat (ketika hendak menambat air agar terkurung tanpa bisa keluar sedikitpun) agar banyak ikan bisa ditangkap. Ayat ini pun kerap dipakai para pemancing yang merupakan kegemaran warga Banua.

BACA JUGA : 5.038 Calon Mahasiswa ULM Ikuti UTBK, Ada Jalur Hafiz Quran

Kemudian, ayat كن فيكن kun fayakun, atap dua bidang, hakun kada hakun inya tatap mahadang (mau tidak mau dia yang kumau harus menunggu dengan setia), digunakan untuk mahabbahan atau ilmu pengasihan.

Berdasar hasil riset Ahmad Rafiq pula menduga tradisi lisan ini muncul, karena kuatnya tradisi mantra dalam masyarakat Banjar sendiri.(jejakrekam)

Penulis adalah Pengajar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

Peneliti Senior LK3 Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.