Dirgahayu

Forsa Lawan Miras dan Narkoba, Komitmen Fans Fanatik Rhoma dan Soneta

RHOMA Irama bak seorang dewa bagi para penggemarnya. Raja Dangdut Indonesia ini yang mempelopori musik Dangdut terangkat derajatnya di belantika musik Indonesia. Melalui grup musiknya Soneta, mengambil nama sebuah bait puisi kuno Italia berbait 14 baris, terbentuk pada 11 Desember 1970, nama Rhoma Irama pun melejit dan abadi hingga kini.

PENYANYI yang juga terkenal dengan sebutan Ksatria Bergitar ini mencanangkan Voice of Moslem pada 13 Oktober 1973, ketika musik Melayu dipadukan dengan musik rock, dengan improvisasi aransemen, syair, lirik, kostum hingga penampilan khas Rhoma Irama dan Soneta. Ramuan musik yang dimainkan Soneta dan Rhoma, tak hanya Melayu dan rock, namun ada pula genre pop, India dan orkesta.

Lewat Rhoma dan Soneta, lahir pula biduanita seperti Elvi Sukaesih, Rita Sugiarto, Riza Umami hingga Noer Halimah, sebagai lawan duet sang Raja Dangdut. Meski sudah 17 kali gonta-ganti formasi, Soneta dan Rhoma Irama seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.

BACA : Partai Idaman Tak Lolos, Tersisa Empat Parpol Baru

Album-album Rhoma Irama dan Soneta merajai pasaran musik Indonesia, diawali dengan Begadang (1973), Penasaran (1974), Rupiah (1975), Darah Muda (1975), Musik (1976), 135.000.000 (1977), Santai (1977), Hak Azazi (1978), Begadang 2 (1978), Sahabat (1979), Indonesia (1980), Renungan Dalam Nada (1981), Emansipasi Wanita (1983), Gali Lobang Tutup Lobang (1989), Bujangan (1994).

Tak hanya album dalam pita kaset, film pun dengan megabintangnya Rhoma Irama juga mengangkat namanya seperti Oma Irama Penasaran (1976), Gitar Tua Oma Irama (1977), Darah Muda (1977), Rhoma Irama Berkelana I (1978), Rhoma Irama Berkelanan II (1978), Begadang (1978), Raja Dangdut (1978), Cinta Segitiga (1979), Camelia (1979), Perjuangan dan Doa (1980), Melodi Cinta (1980), Melodi Cinta (1980), Badai di Awal Bahagia (1981).

Ada pula, film berjudul Sebuah Pengorbanan (1982), Terjebak Dalam Dosa (1983), Satria Bergitar (1984), Cinta Kembar (1984), Pengabdian (1985), Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985), Menggapai Matahari (1986) dan Menggapai Matahari II (1986) hingga Nada-Nada Rindu (1987), berikutnya Bunga Desa (1988). Film lainnya Nada dan Dakwah (1991), Tabir Biru (1993), Dawai 2 Asmara (2010) dan teranyar, Sajadah Ka’bah (2011).

BACA JUGA : Dibutuhkan di Bapilu Partai Idaman, Habib Bahasyim Ditarik ke Jakarta

Sederet album dan film ini melahirkan fans fanatik Rhoma Irama dan Soneta. Dari generasi ke generasi, penggemar Raja Dangdut tetap lestari, hingga dihimpun dalam Fans of Rhoma dan Soneta (Forsa). Ketika Rhoma Irama menjadi juru kampanye PPP, PKB hingga mendirikan Partai Islam Damai Aman (Idaman) pada 14 Oktober 2015 di Tugu Proklamasi, Jakarta, para fans ini yang menjadi mesin politiknya.Sayangnya, Partai Idaman tak lolos verifikasi, dan langkahnya pun tersendat untuk berlaga di Pemilu 2019 lalu.

Para penggemar fanatik Rhoma Irama juga terbilang rajin menggelar berbagai pertemuan, hingga punya grup khusus di media sosial seperti facebook dan WA. Apalagi, Forsa juga terbentuk hingga jaringan pusat, daerah dan kota, seperti di Banjarmasin.

Begitu Rhoma Irama dan Soneta, maka hampir bisa dipastikan barisan Forsa yang akan datang menyambut dan menyemarakkan panggung dangdut. Terbukti, beberapa kali, Rhoma Irama dan Soneta menyapa warga Banua.

BACA LAGI : Asyik, Kini Kalsel Sudah Punya Taman Edukasi Banua

Politisi Partai Golkar Sukhrowardi pun mengatakan fans Rhoma Irama dan Soneta itu tak berbilang jumlahnya. Termasuk, Gubernur Kalsel Sahbirin Noor pun sangat mencintai karya-karya sang maestro musik dangdut, hingga menjadi lagu wajibnya saat bernyanyi seperti Kereta Malam.

“Lagu-lagu Bang Haji (Rhoma Irama) itu sarat dengan nilai agama (Islam) dan kritik sosial. Orang pasti suka dengan lagu-lagu Rhoma Irama yang mengajak amar ma’ruf nahi munkar. Pesan-pesan seperti anti narkoba, kerusakan moral dan lainnya adalah ruh dari syair-syair lagu Rhoma Irama dan Soneta,” ucap Sukhrowardi kepada jejakrekam.com, Minggu (19/5/2019).

Terbukti, kini fans Rhoma dan Soneta yang tergabung dalam  pengurus DPC Forsa Kota Banjarmasin masa bakti 2019-2024 di bawah komando Arul Elmi, dilantik langsung Ketua DPW Forsa Kalsel, Khairunisa di Mahligai Pancasila, Sabtu (18/5/2019). Gubernur Kalsel Sahbirin Noor pun hadir dan mendukung terbentuknya jaringan fans berat Rhoma dan Soneta di Kalsel.

Saat ini, anggota Forsa di Indonesia mencapai 27 juta orang. Ini belum lagi jaringannya yang ada di Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Forsa sendiri dibentuk di Jakarta pada enam tahun silam. Sedangkan, di Kalsel sudah berjalan dua tahun ini.

“Forsa dibentuk untuk merangkul jaringan para fans Rhoma Irama dan Soneta yang ada di Banjarmasin. Kami sudah menyaring para penggemar yang menggemari karya-karya Bang Haji,” tutur Arul Elmi.

BACA LAGI : Goyang ala Paman Birin, Penonton Diajak Nyanyi Syalala

Menurut dia, Forsa tak hanya melulu soal karya seni sang idola, namun juga bergerak di bidang sosial seperti bakti sosial dan pembagian sembako. “Selama setahun lebih, Forsa juga turun membantu korban kebakaran. Kami juga ikut mendukung aparat penegak hukum, khususnya polisi dalam memerangi narkoba, judi dan minuman keras,” ucap Arul Elmi.

Ia menegaskan bagi anggota Forsa juga sangat terlarang untuk menjadi pencandu narkoba, miras dan lainnya karena menjalankan pesan-pesan moral sang idola, Rhoma Irama dan Soneta. “Jika terbukti melanggar itu, kami akan keluarkan sebagai anggota,” tegas Arul Elmi.(jejakrekam)

 

Penulis Asyikin
Editor Didi GS