Dirgahayu

Kelahiran Peseban di Atas Puing BVB

Foto : KITLV/Banjarmasin tempo dulu

DENYUT sepakbola di tanah jajahan kian berhembus kencang. Pada tahun 1936, NIVB kemudian berubah menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Uniknya, NIVU kemudian menjadi kontestan Piala Dunia dari Asia yang pertama. Saat itu, ada tiga organisasi sepakbola di Hindia Belanda yaitu NIVU, PSSI dan HNVB.

KHUSUS HNVB  sebelumnya bernama CKTH yang berdiri tahun 1927. HNVB merupakan organisasi sepak bola warga Tionghoa di Hindia Belanda. Sementara itu yang diakui oleh FIFA saat itu adalah NIVU.

Terdapat tiga perkumpulan sepakbola di pulau lain (luar Jawa) yang menjadi anggota NIVB. Perkumpulan Sumatra Timur yang berbasis di Medan. Kemudian di Makassar dan Bandjermasin. NIVB selanjutnya berganti nama menjadi NIVU pada tahun 1936.

Keadaan ini terus berlangsung, hingga masuknya balatentara Jepang tahun 1942. Walau demikian di antara orang pribumi sendiri tercatat ada pemain-pemain yang mempunyai prestasi bagus, antara lain seperti Hasan Miss Ribut, Abdurahman Amang, Cepu dan pemain lainnya. Walaupun pada sisi lain mereka tidak main di Bandjarmasinche Voetbal Bond  atau B.V.B secara mutlak.

BACA :  Embrio Urang Banjar Mengenal Sepakbola

Bersamaan datangnya balatentara Jepang tahun 1942, dominasi B.V.B pun berakhir. Kesempatan ini kemudian digunakan pemuda-pemuda penggemar sepakbola kota Banjarmasin untuk bertindak secepatnya. Dari sini, Persiban (Persatuan Sepakbola Indonesia Banjarmasin) pun dibentuk.

Peseban pun Lahir di Tanah Banjar

Pada 15 April 1942 dengan resmi terbentuk bond sepakbola nasional dengan nama Persiban (Persatuan Sepakbola Indonesia Banjarmasin) di atas puing-puing B.V.B.  Persatuan Sepakbola (PS) ini kemudian berganti nama menjadi Peseban pada 30 Juni 1942.  Susunan pengurus Peseban pertama tercatat adalah R.A. Kusumodiputro, Maspandit, Gusti Bachrun, M. Ali Zainal Abidin, Abdul Ha’id, serta M.T.L.Tobing.

Peseban terdiri dari PS-PS yang tergabung seperti Al-Hilal, Arjuna, Bumi Putra Cahaya Banjar, M.O.S, dan Peser. Peseban juga memiliki pemain-pemain “fenomenal”. Sebut saja Abdul Madjid, Cepu, Saderan (hijrah ke PSM), Ibrahim, Hairul, A.U. Ucu, Abdul Hamid, Hasan Mis Ribut, Syahran (kemudian hjrah ke PSM), Jayusman dan Kho Wil Son hingga zaman NICA dan Federal atau periode 1942-1945.

BACA JUGA :  Societeit de Kapel, Gedung ‘Setan’ dan Dugem Kulit Putih

Sampai zaman federal, eksistensi Peseban tidak hanya bergelut dalam bidang persepakbolaan. Hampir dalam setiap even olahraga,tokoh tokoh Peseban selalu tampil menjadi pelopor antara lain P.O.N daerah, pengurus daerah K.O.I. dan sebagainya.

Susunan pengurus lama pada tahun 1942-1945 mengalami perubahan. Tercatat mulai tahun 1945, Aidan Sinaga bertindak sebagai ketua I, Maspandi ketua Il, Juli A. Bani penulis I, serta Ali Zainal Abidin sebagai bendahara.

Kepengurusan tersebut ternyata mampu bertahan hingga tahun 1955.  Selanjutnya, tahun 1949, terjadi penyerahan kedaulatan oleh Kerajaan Belanda ke Republik Indonesia, sehingga terjadi keterbukaan hubungan daerah ini dengan daerah lainnya di bekas tanah jajahan.

BACA JUGA :  Nostalgia Hotel Bandjer, Berburu Tanggui di Pasar Kuin

Pada Desember 1949, melalui P.O.R.I. yang berpusat di Jokjakarta,  Peseban mengusulkan pemakaian aset milik Kota Banjarmasin berupa lapangan, penggunaannya diserahkan kepada Peseban. Sayangnya, ketika itu, lapangan masih merupakan permasalahan bagi Peseban.

Dalam kondisi sulit tersebut, Peseban justru jalan terus menggenjot kemampuan pemainnya, sesuai situasi serta kondisi pada waktu itu. Meski hanya dengan satu lapangan, kurang repsentatif  bagi Peseban untuk mencapai prestasi yang diharapkan.

Mengatasi permasalahan yang menurut M Hatta-sang penulis buku Sepakbola Tempo Dulu di Banjarmasin adalah “handicap” tersebut. Akhirnya oleh pengurus Peseban pada tahun 1955 mendirikan yayasan yang diberi nama Yayasan Stadion Kalimantan yang pengurusnya  adalah orang-orang Peseban. Walaupun demikian, mereka sepenuhnya memperoleh goodwill dan bantuan dari pihak Kotapraja (Pemerintah Kota Banjarmasin).

BACA LAGI :  Kemesraan Raffles dan Hare, Sang Penguasa Banjarmasin

Langkah pertama yayasan tersebut adalah membuat lapangan baru yang memenuhi syarat-syarat minimum. Ini agar Peseban bisa menggunakan lapangan itu sebagai wahana latihan pemain.

Tahun 1956, lapangan yang direncanakan Yayasan Stadion Kalimantan selesai dibuat, terletak di Teluk Kelayan. Lapangan itu diberi nama Lapangan Gagah Lurus, sekarang telah menjadi Komplek Rumah Sakit Pura Raharja.

RSB Pura Raharja sendiri merupakan salah satu rumah sakit milik Organisasi Sosial Banjarmasin berupa RSB, yang diurus Yayasan Canti Komala. Rumah Sakit ini termasuk ke dalam rumah sakit dengan tipe belum ditetapkan.

Setelah menjalani proses akreditasi rumah sakit seluruh Indonesia akhirnya ditetapkan status akreditasi rumah sakit ini yakni RS B, bertempat di Jalan Rantauan Tengah Banjarmasin.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin