ACT

Hanya Memungut Barang Rongsokan, Pemulung Ini Jadi Jutawan

0 1.179

JANGAN pandang sebelah mata pekerjaan seorang pemulung. Justru, pendapatan jauh lebih besar dibandingkan Anda. Mau bukti? Ternyata, pendapatan per hari rata-rata para pemulung itu berkisar Rp 150 ribu, jika dikalikan satu bulan didapat Rp 4,5 juta. Pendapatan ini melampaui gaji pegawai honorer atau pejabat daerah sekalipun.

BERGELUT dengan sampah atau barang rongsokan, bukanlah sebuah pekerjaan rendah, apalagi hina. Hanya bermodal gerobak dan kuat berjalan kesana kemari. Dilengkapi timbangan dan baju lusuh, justru pendapatan Yani, seorang pemulung sekaligus pengumpul barang-barang rongsokan bisa membawa pulang uang yang jauh lebih dari lumayan.

“Terpenting halal, saya tidak mencuri. Saya hanya mengumpulkan barang-barang yang tidak terpakai. Sebagian lagi, saya beli dari pemiliknya,” kata Yani (30 tahun), seorang pemulung asal kawasan Stal Sapi, Jalan Pangeran Antasari, Banjarmasin kepada jejakrekam.com, Sabtu (19/1/2019).

BACA :  Diprotes Warga, Penumpukan Sampah Pemulung Dibongkar Satpol PP Banjarmasin

Untuk mengincar barang rongsokan berharga, Yani pun mengaku berkeliling Kota Banjarmasin, hingga sampai ke wilayah perbatasan dengan Kabupaten Banjar, seperti Sungai Tabuk dan Kertak Hanyar.

“Banyak sampah yang dibuang warga, ternyata justru memiliki nilai ekonomis. Saya memulung sampah seperti kertas kardus, besi, timah. aluminium, dan tembaga. Saya juga membelinya dari warga,” ucap Yani.

Sebagai  pemulung, Yani mengungkapkan tak bisa hanya modal dengkul atau belah kasihan. Menurut dia, modal uang perlu dibawa untuk membeli sebagian barang yang tidak terpakai dan dibuang masyarakat, namun harus ditebus dengan lembar dan kepingan rupiah.

Pemuda yang sudah lebih lima tahun menggeluti usaha memungut sampah ini menuturkan, dirinya merasa cukup bersyukur meski pekerjaan pemulung dianggap sebelah mata oleh sebagian orang.

Faktanya, dari pekerjaan sebagai pemulung, Yani bisa menafkahi keluarganya, khususnya satu istri dan dua buah hatinya.

“Penghasilan saya memang tidak tentu setiap harinya. Tetapi terkadang lebih dari Rp 200 ribu per hari, namun setidaknya rata-rata Rp 150 ribu per hari,” ucap Yani.

BACA JUGA :  Geram, Walikota Ibnu Perintahkan Satpol PP Tertibkan Penghuni Kolong Jembatan Antasari

Ia bercerita pernah membeli sepeda bekas dari seorang warga Tionghoa yang tinggal di Jalan Veteran, ternyata model berbahan kuningan dan produknya asal luar negeri. Waktu itu, Yani membeli sepeda onthel langka itu seharga Rp 8 juta. Sepeda bermerek terkenal di eranya itu, ternyata membuat orang nomor satu di Kalsel, tertarik untuk membelinya kembali dari tangan Yani.

“Begitu melihat sepeda ontel ini, Paman Birin (Gubernur Kalsel Sahbirin Noor) berminat. Beliau beli sepeda onthel saya itu jauh dari harga yang saya beli. Paman Birin beli harganya puluhan juta. Itulah rezeki nomplok, walau pun jarang mendapatkannya, saya tetap bersyukur kepada Allah SWT,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Syahminan
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.