Meski Masih Rendah, Telur dan Daging Ayam Ras Picu Inflasi Kalsel

TINGKAT inflasi di Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2018, masih dalam rentang sasaran target nasional. Angkanya berkisar 3,75 persen±1 persen, dalam berada dalam target inflasi nasional berkisar 3,5 persen ±1 persen.

“BAHKAN, per Oktober 2018, inflasi Kalsel tercatat sebesar 2,66 persen (yoy), lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 3,16 persen (yoy),” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalsel, Herawanto dalam paparannya di pertemuan tahunan BI di Aula BI Kalsel, Jalan Lambung Mangkurat, Rabu (5/12/2018).

Ia mengatakan hal itu tak lepas dari peran Bank Indonesia bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalsel dalam melaksanakan berbagai program pengendalian inflasi daerah.

“Memang, inflasi yang terjadi di Kalsel masih dipicu bahan makanan yang cenderung agak lebih tinggi mencapai 5,57 persen (yoy). Terutama, dari inflasi komoditas telur dan daging ayam ras,” kata Herawanto.

BACA : Pertumbuhan Ekonomi Kalsel 2019 Diprediksi Meningkat 5,8 Persen

Sementara itu, BI Kalsel juga mendorong penerapan sistem pembayaran tunai dan nontunai, termasuk mendukung ekonomi dan keuangan digital.

Herawanto mengungkapkan program elektronifikasi pembayaran nontunai telah berhasil di tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, tahun ini, BI juga telah memperluas di berbagai area. Seperti, elektronifikasi penyaluran program sosial pemerintah, moda transportasi, dan juga mendukung elektronifikasi keuangan pemerintah.

Masih menurut Herawanto, untuk infrastruktur dan penyelesaian transaksi baik nilai besar melalui RTGS maupun ritel, dengan sistem kliring nasional Bank Indonesia. “Kami juga akan perkuat interkoneksi dan interoperabilitas dalam gerbang pembayaran nasional (GPN),” katanya.

BACA JUGA : Distribusi Daging Ayam Panjang Picu Inflasi Kalteng

Herawanto mengatakan di Kalsel, transaksi-transaksi yang dilakukan pemerintah daerah dilakukan secara non tunai, baik level provinsi, kabupaten dan kota di Kalsel.

“Memang, aktivitas non tunai tidak terlepas pula dengan perdagangan daring (e-commerce). Jumlah nominal maupun transaksi e-commerce di Kalsel mengalami peningkatan secara signifikan. Dalam satu tahun terakhir sebesar 303,8 persen (yoy) diikuti dengan kenaikan jumlah transaksi yang sebesar 164,1 persen(yoy),” tutur Herawanto.

Ia menyebut dari sisi kelompok barang, penggunaan e-commerce pada produk  handphone dan aksesoris mencapai 21 persen. “Kelompok barang ini paling banyak ditransaksikan dalam e-commerce di Kalsel. Disusul, kelompok barang fashion (16 persen), otomotif dan aksesoris (10 persen) dan komputer dan aksesoris (9 persen),” ungkapnya.

Herawanto juga menjelaskan dari sisi pembayaran tunai, aliran transaksi perkasan BI  Kalsel pada triwulan III-2018 mengalami aliran masuk bersih (net intflow) sebesar Rp2,57 triliun.

“Ini seiring tingginya aliran uang kartal masuk (inflow) ke Bank Indonesia dari masyarakat pasca Ramadhan dan Idul Fitri,” katanya.

Ia juga menyebut transaksi kliring pada triwulan III-2018 tercatat sebesar Rp7,24 triliun atau tumbuh 8,03 persen(yoy). “Sedangkan, transaksi real time gross settlement (RTGS) pada triwulan III-2018 tercatat sebesar Rp 28,60 triliun atau tumbuh 16,04 persen (yoy),” imbuhnya.(jejakrekam)

 

 

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi G Sanusi