Jhon Tralala, Ikon Penghibur Serba Bisa Tanah Banjar dan Penerus Datu Madihin

GELAK tawa renyah terdengar bergemuruh, disahut aplausan hangat. Begitulah, ketika Jhon Tralala yang bernama ali Yusran Effendi. Seniman tradisional Banjar yang dikenal sebagai maestro madihin, reputasinya tak hanya diakui di level regional Tanah Banjar, tapi sudah menembus dunia internasional.

BANYAK karya yang penuh sarat makna dan pesan moral lahir dari mulut sang pemadihinan atau pemain madihin ini. Dengan lawakan yang spontan dan disesuaikan dengan ritme dan pakem madihin, Jhon Tralala selalu mengupas kehidupan keseharian rakyat Kalimantan Selatan. Isi joke-joke yang dibawa Jhon Tralala pun tak melulu hiburan, juga diisi nilai-nilai religius, terutama Islam.

Jhon Tralala layaknya artis serba bisa Benyamin S di mata masyarakat Kalimantan Selatan. Tak hanya madihin yang melekat dalam jati dirinya, Jhon Tralala juga dikenal sebagai penyanyi, master ceremony (MC), serta komedian andal yang tampil untuk mengocok perut publik.

Pernah, ketika Soeharto masih berkuasa di era Orde Baru, gara-gara lawakan Jhon Tralala yang ditabuh gendang khas pemadihinan, membuat orang nomor satu yang pernah berkuasa 32 tahun di Indonesia, merasa terhibur. Soeharto pun menghadiahi Jhon Tralala dengan ongkos naik haji (ONH) plus sebagai bentuk apresiasi sang Presiden Republik Indonesia ke-2 terhadap dedikasinya.

Berawal dari awal grup lawak Jhon Tralala Group pada 1980, karier sang legendaris ini moncer di dunia hiburan tanah air. Dia pun memboyong sang anak, Hendra Tralala menjadi bagian dari personilnya. Grup lawak ini pun tercatat dua kali menjuarai lombak lawak tingkat nasional pada akhir 2001 lalu.

Dikutip dari Wikipedia, Jhon Tralala merupakan ikon komedian Banjar. Sang maestro ini pun terkenal ulet dan setia berada di jalur seni daerah, madihin. Seni yang awalnya pengembangan dari seni yang mendapat sentuhan budaya Melayu-Banjar dan Arab, dan berasal dari kosa kata Arab, madah yang sinomin dengan nasihat atau petuah.

Memang, selain Jhon Tralala dan Hendra, sang anak, banyak pula para seniman madihin yang lahir dari Tanah Banjar. Generasi para pemadihinan untungnya terus terjaga. Warisan legenda Datu Madihin, Pulung dan lainnya yang hidup di era Kesultanan Banjar, bisa dijaga para generasi selanjutnya, terutama apa yang dilakukan seorang Jhon Tralala.

Alfamart 300×250

Ada beberapa tokoh Pamidihan yang terkenal seperti dari hasil riset Tajuddin Noor Ganie dalam bukunya berjudul Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar di Kalsel (2006), menyebut nama Mat Nyarang dan Masnah merupakan Pamadihinan yang paling senior dari Kota Martapura, Kabupaten Banjar. Kemudian generasi berikutnya adalah Rasyidi dan Rohana asal Tanjung, Kabupaten Tabalong.

Ada pula, Imberan dan Timah asal Amuntai, Nafiah dan Mastura dari Kandangan, serta Khair dan Nurmah, yang berasal dari ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Pamadihinan yang juga tampil elok seperti Utuh Syahiban dan Syahrani dari Banjarmasin, serta sang seniman asal Banjarbaru, Sudirman. Seni madihin tak terlepas dari kuatnya pengaruh Islam dan Melayu di Tanah Banjar.

Meski begitu, reputasi Jhon Tralala di dunia seni musik tradisional Banjar, tetap tak pernah memudar. Tercatat, ada beberapa buah karya musik Madihin yang lahir dari sosok pelawak ceria, seperti Imah Galapung, Manimang Bulan, Buruk Sikuan, Apam Barabai, Siti Ropeah dan Tasalah Kali.

Budayawan Kalsel, HE Benyamine pun mengatakan bahwa kita tidak akan merasal kehilangan, jika seorang legenda seni tradisional madihin akan selalu hidup. “Mereka bisa hidup karena konsistensi, dedikasi dan karyanya yang selalu memberi inspirasi bagi generasi berikutnya,” ucap Benyamine kepada jejakrekam.com, Selasa (26/6/2018).

Menurut dia, seniman seni tradisi tak pernah lelah dalam pertarungan perubahan zaman, terkhusus lagi pada sosok Jhon Tralala. “Beliau adalah teladan dalam upaya menghidupkan tradisi lisan yang menuntun pengetahuan terus berkesinambungan sebagai tuntunan kehidupan yang baik dan bermakna, terutama tentang adab dan hidup berbudaya,” tutur penulis ini.

Di mata Benyamine, Jhon Tralala yang ramah dan mudah akrab dengan siapa saja, bahkan terus menegur sapa tanpa membedakan kasta atau status seseorang. “Sosok legenda Pamadihinan semacam ini yang harus kita kenang, dan semoga generasi berikutnya bisa meniru jejak langkah yang telah dilakoni seorang Jhon Tralala,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Syahminan
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...

Jhon Tralala, Ikon Penghibur Serba Bisa Tanah Banjar dan Penerus Datu Madihin