Kolam Belanda Mandiangin dan Cerita Mistis Penampakan Noni Bergaun Putih

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

KAWASAN Taman Hutan Raya Sultan Adam Mandiangin, mungkin tidak asing lagi bagi warga Banua. Tepatnya terletak di Bukit Besar Desa Mandiangin Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Keindahan alam wilayah ini memang cukup eksotis. lumayan banyak spot yang bisa dijadikan area jelajah. Belum lagi jalan curam yang menantang, kemudian air terjun hingga jalan pendakian terjal ke puncak Bukit Besar.

BUKAN hanya itu, wilayah ini juga kental dengan aroma wisata sejarah. Diantaranya Kolam, Pesanggrahan yang lazim disebut masyarakat setemoat dengan Benteng Belanda, Bekas Sanatorium hingga Lapangan Tenis.

Satu di antara objek menarik ini adalah Kolam Belanda. Ketika Memasuki wilayah Tahura Sultan Adam Mandiangin, pengunjung akan melewati jalan yang menuju lokasi Wisata Kolam Pemandian Belanda. Kolam tersebut berukuran 30 x 50 meter tepat berada di pinggir jalan. Kolam yang indah. Tetapi di balik keindahan itu, ternyata menyimpan cerita mistis. Penuh misteri.

Dari penelusuran informasi pada masyarakat setempat Mandiangin, terdapat banyak penampakan mahluk gaib di sekitar area kolam ini. Mulai dari penampakan putri sehingga sebagian warga meyakini kalau itu kolam pemandian putri dari alam gaib. Bahkan dalam tayangan misteri tentang alam sebelah dari salah satu stasiun TV lokal di Banjarmasin, mengakui bahwa kolam ini sangat kental dengan aura gaib.

Selain itu, terdapat masyarakat setempat ada juga yang pernah menyaksikan penampakan noni Belanda Bergaun putih, sedang berdiri di tepi kolam. Siapakah dia, apakah ada hubungannya dengan pembangunan Kolam Belanda ini di masa lalu? Hal ini memantik penasaran yang sangat mendalam. Terutama mengenai bagaimana sejarah Kolam Belanda di Mandiangin.

Cukup sulit mencari sumber-sumber sejarah mengenai kolam Mandiangin. Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Setelah penelusuran hingga ke Perpustakaan Leiden Belanda dan kroscek koneksi sejarawan di beberapa wilayah di belahan Bumi Eropa, akhirnya perlahan misteri ini mulai terkuak. Terdapat sumber foto, yang didapatkan pada oorlogsgravens tichting.nl dalam artikel utama yakni “het proces zonder recht” (Hukum Tanpa Proses).

Dalam sumber foto tersebut, terdapat gambar Gubernur BJ Haga yang sedang berada di kolam renang. Pada caption foto yang cukup singkat, hanya dituliskan Haga zwembad (Haga di kolam renang) tanpa menjelaskan detailnya. Walaupun demikian dapat diprediksi berdasarkan tata letak, bentuk serta kondisi geografis berupa jalan dan vegetasi di sekitar kolam, kolam tersebut adalah kolam Belanda di Mandiangin. Uniknya, memang terdapat noni Belanda yang berdiri di pinggir kolam ini. Tidak sendiri, tetapi berdsama beberapa pejabat Belanda lainnya. Termasuk Gubernur BJ Haga yang membangun dan meresmikan kolam ini.

Mengenai Sejarah Pembangunan Kolam Renang Mandiangin terdapat dalam Majalah (Magazine) Tropisch Nederland, Tijdschrift ter Verbreiding van Kennis omtrent Oost en West Indie, volume 12 tahun 1939, terbitan tahun 1939. Dalam majalah ini dituliskan bahwa pada Februari 1939 dibuka pasangrahan dengan kolam renang dan lapangan tenis di ketinggian 150 meter yang dinamakan Mandi-Angin (Windbad). Pasanggrahan ini lokasinya terletak sekitar 50 kilometer dari Banjarmasin. Pasanggrahan Maadiangin dan fasilitasnya seperti kolam renang dan lapangan tenis diresmikan pada tanggal 26 Februari 1939 oleh Gouverneur van Borneo, Dr. Bauke Jan (B.J.) Haga.

Dari observasi lapangan dalam kegiatan penelitian terdapat kolam renang yang menjadi bagian fasilitas dari Pasanggrahan Mandiangin. Dalam Bahasa Belanda disebut zwembad. Adapun artefak yang terdapat di kolam renang Mandiangin adalah susunan dinding kolam. Campurannya dari batu andesit dan semen portland serta kerikil. kemudian gorong gorong ukuran besar dan kecil, struktur kayu ulin serta bangunan rumah ganti dan kolam kecil, kamar mandi dan toilet.

Keunikan kolam renang Mandiangin ini adalah air yang khas mengalir dari sumber mata air. Lantai dasarnya yang sangat alami dan kesegaran yang khas terasa. Kondisi ini sama dengan kolam peninggalan Hindia Belanda Kolam Renang Tirta Kencana di daerah Banyumas yang juga dibangun tahun 1900-an.

Diperkirakan, bangunan kolam ini merupakan kolam renang pemandian untuk melayani tamu-tamu Eropa dari BJ Haga yang rindu dengan suasana kampung halaman mereka. Tentunya orang-orang Eropa ini ogah bernenang di sungai yang biasa dipakai kaum pribumi. Jadilah kolam renang ini ekslusif untuk orang Eropa saja.

Iklan Samping 300×250

Karena minimnya data primer lainnya maka dilakukan analisis dan pembahasan dilakukan dengan metode perbandingan. Umumnya pada masa Hindia Belanda di awal abad ke-20, Kolam renang Zwembad biasa disebut Slembat (dari Bahasa Belanda: zwembad). Seperti di kota Malang, Jawa Timur, penyebutan slembat sempat bertahan selama puluhan tahun menjadi primadona bagi anak-anak di kota Malang. Popu-laritas slembat pada masa itu bagi anak-anak sekolah di Malang memang sulit tertandingi.

Selain itu, akses yang masih sulit ke tempat renang lain yang rata-rata berada di daerah pinggiran kota membuat slembat menjadi tujuan utama. Selain itu hal lain yang membuat nya selalu ramai adalah banyaknya anak les yang belajar di kolam renang ini.

Walaupun pada hari-hari akhir masa jayanya, kolam renang ini identik dengan kesan murah dan merakyat, namun pada masa awal pembangunannya, kesan yang muncul jauh dari dua hal tersebut. Kolam renang ini dibangun bersamaan dengan kompleks olahraga Gajayana pada sekitar tahun 1930-an. Mengenai kolem Mandiangin ini, pada bagian samping terdapat beberapa reruntuhan bekas bangunan, yang sudah hancur. Bangunan ini dulunya diperkirakan digunakan sebagai tempat bersantai ataupun berganti pakaian oleh para Belanda, setelah mandi di kolam.

Sebagai perbandingan, kompleks olahraga yang ada di Malang pada tahun 1900-an sempat dianggap sebagai kolam terbaik di Hindia Belanda. Hampir sama kondisinya dengan Kolam Renang Mandiangin, pada tahun 1939 an, kolam renang atau zwembad dalam bahasa Belanda ini lebih banyak digunakan masyarakat Eropa serta kalangan yang terpandang lainnya untuk memenuhi keinginan mereka berenang. Sangat wajar, karena di awal abad ke-20, kolam renang dan bioskop adalah hiburan yang cukup populer di kalangan orang Indonesia yang gaya hidupnya modern dan seperti orang Belanda. Namun, tak semua tempat boleh dimasuki anak sekolah pribumi yang digolongkan inlander.

Mengenai aturan pemakaian Kolam Renang Mandiangin, kolam renang ini pun kemungkinan berlaku aturan yang sangat diskriminatif. Jika ada orang pribumi di ruang/tempat yang hanya boleh dimasuki orang Eropa, orang-orang itu umumnya para jongos alias babu alias pelayan yang harus selalu menunduk pada orang Belanda. Pemilihan lokasi pembuatan Kolam Renang Mandiangin pada tahun 1939 di wilayah Bukit Besar, hampir sama kasusnya dengan di Batu, Malang, Jawa Timur.

Batu adalah tempat wisata yang sudah cukup berumur dan dibangun oleh dan pada masa pendudukan Belanda adalah taman rekreasi Selecta yang terletak di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Lokasinya yang indah dan sejuk menjadikan tempat rekreasi yang sudah memiliki usia puluhan tahun ini sudah menjadi idola sejak zaman dahulu. Selecta sendiri didirikan oleh seorang warga Belanda bernama De reyter De Wild pada tahun 1928. Bangunan lama di Selecta ini saat ini masih terlihat di beberapa bagian di kolam renang serta pada beberapa wisma peristirahatan serta kantor di wilayah tersebut.

Adapun arsitek yang membangun bangunan Pesanggrahan Mandiangin dan fasilitasnya seperti kolam renang dan lapangan tenis tersebut juga diperkirakan dibangun oleh A.W. Rynders yang pada tahun 1939 tercatat sebagai architect bij de Landsgebouwendienst. A.W, Rynders bertanggung jawab untuk gedung-gedung pemerintah di afdeeling Zuid en Oost Borneo. A.W. Rynders adalah architect di B.O.W atau Burgerlijke Openbare Werken/Dinas Pekerjaan Umum.(jejakrekam) 

Penulis adalah Staf Pengajar Prodi Sejarah FKIP ULM

Sekretaris Pusat Kajian Budaya dan Sejarah Banjar Universitas Lambung Mangkurat

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan

Anda mungkin juga berminat
Loading...

Kolam Belanda Mandiangin dan Cerita Mistis Penampakan Noni Bergaun Putih