Ucapan ramadhan

Jaga Semangat Kebhinnekaan, Toleransi Jangan Hanya Jadi Jargon

SEMANGAT kebhinnekaan ulama dan para pejuang lintas agama dalam menjaga NKRI menjadi isu menarik yang dibedah PWNU Kalsel, ULM danPC PMII Banjarmasin dalam seminar kebangsaan di Aula Rektorat ULM Banjarmasin.

“TOLERANSI bukan hanya jadi jargon. Pemerintah seharusnya mengintervensi dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI dan kebhinekaan. Namun ini bukan intervensi dalam konotasi negatif,” ucap Profesor Nadirsyah Hosen yang merupakan pengajar di  Monash University Faculty of Law Australia.

Ia mencontohkan, salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan sertifikasi bagi para pendakwah karena banyak orang yang mengaku dai dan ustadz meskipun tidak jelas keilmuan agamanya.

Sementara itu, Wakil Rektor III , Universitas Lambung Mangkurat  H Abrani Sulaiman mengatakan, dalam kacamata pembina kemahasiswaan, ULM relatif aman dari faham ekstremisme meskipun ada kelompok mahasiswa yang lantang berbicara tentang khilafah dan negara Islam. “Sepanjang teoritis dan bersifat diskusi mencari alternatif saya kira  wajar saja,” ucapnya.

Iklan Samping 300×250

Menurut Abrani, dalam sejarah perjalanan negara selalu ada pergulatan pemikiran sebelum kemerdekaan  seperti ada pertentangan bentuk Negara diaman ada yang menginginkan negara Islam, NKRI, serta lainnya. “Jika tokoh pendiri republik ini sudah menyepakati bentuk negara yang paling ideal untuk mewadahi kebhinekaan Indonesia adalah NKRI  itulah yang sepatutnya dijaga,” tegas Abrani.

Ketua cabang pengurus cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Banjarmasin Khairul Umam sangat mengapresiasi seminar seperti ini, karena mampu memberikan pencerahan tentang keragaman dan kebhinekaan yang dibalut dengan spirit perjuangan ulama. “Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Harlah PMII Ke-58. Dengan seminar  ini memberikan pengetahuan dan pembelajaran arti pentingnya mengelola perbedaan,” ucapnya.

Selain itu, beber Khairul juga dapat memahami bahwa sifat radikalisme itu bukan hal yang ilmiah sedangkan kita sebagai mahasiswa di tuntut selalu melihat masalah dari sudut pandang ilmiah.

Ia mengatakan, PMII  selalu menjunjung tinggi nilai Pancasila dan selalu meyakini bahwa Pancasila  adalah pemersatu bangsa. “PMII mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dan terbuka kepada masyarakat juga selalu meningkatkan kualitas diri agar menjadi investasi dalam menciptakan generasi emas di tahun 2030,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Husaini
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.