Inilah Sebagian Manaqib Habib Basirih yang Masyhur

DI KALANGAN umat Islam, khususnya di suku Banjar, Kalimantan Selatan, Habib Hamid bin Abbas Bahasyim dikenal dengan sebutan Habib Basirih. Beliau merupakan salah satu zuriat dari Rasulullah SAW dan seorang waliyullah yang majdzub hingga masyhur. Sang habib ini hidup di era kolonial Belanda dan berlanjut pada masa pendudukan Jepang di Banjarmasin.

DIKUTIP dari manaqib Habib Basirih yang dikenal dengan seorang majzdub, yakni diangkat Allah SWT akal akal basyariyyah (akal kemanusiaan) diganti dengan akal rubbaniyyah (ketuhanan). Bahasa yang beliau ucapkan di luar akal orang awam. Bahkan, semasa hidupnya, Habib Basirih sering mengucapkan bahasa isyarat yang sebagian kalangan yang paham dengan bahasanya.

Nah, dari nasab atau silsilah Habib Basirih, secara lengkapnya adalah Habib Hamid bin Abbas bin Abdullah bin Husein bin Awad bin Umar bin Ahmad bin Syaikh bin Ahmad bin Abdullah bin Aqil bin Alwi bin Muhammad bin Hasyim bin Abdullah bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad Al-Faqih bin Abdur Rahman bin Alwi Ummul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.

Beliau seketurunan dengan Sunan Ampel Surabaya. Pertemuan keduanya adalah sama-sama keturunan dari Muhammad Shohib Mirbath (keturunan generasi ke-16 dari Rasulullah SAW). Silsilah keduanya ini bertemu di Alwi Ummul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath.Sunan Ampel dari jalur putra Alwi Ummul Faqih yang bernama Abdul Malik (yang hijrah dari Tarim, Hadramaut,Yaman ke India). Sedangkan, Habib Basirih dari jalur putra Alwi yang bernama Abdur Rahman.

Dari segi usia, Sunan Ampel lebih tua dan lebih sepuh dari Habib Basirih yang hidup di masa yang lebih muda. Habib Basirih hidup di zaman penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang. Sunan Ampel hidup sekitar 400 tahun sebelum Habib Basirih.

Sebelum mencapai Kubbah Habib Basirih, beberapa ratus meter sebelumnya terdapat pula makam ibunda Habib Basirih yakni yakni Syarifah Sya’anah. Makam Habib Abbas bin Abdullah Bahasyim, suami Syarifah Sya’anah/ayahanda Habib Basirih justru tak diketahui keberadaannya hingga kini.

Beberapa pihak menduga makam beliau berkumpul di pemakaman habaib di Basirih, seberang sungai di dekat Masjid Jami Darut Taqwa, Kelurahan Basirih, Kecamatan Banjar Selatan. Masjid ini menurut keterangan didirikan pada 1822 oleh  H Mayasin. Pada tahun 1848, keluarga Habib Basirih pernah merehab masjid ini.Versi lain menyebutkan Habib Abbas bermakam di wilayah Sungai Baru.

Habib Abbas dikenal sebagai saudagar kaya raya dan mempunyai kapal dagang. Beliau juga disebut-sebut mempunyai tanah yang cukup luas di wilayah Basirih di samping di Sungai Baru. Habib Basirih pernah berkhalwat beberapa tahun di dalam sebuah rumah (gubuk) kecil tak jauh dari makamnya sekarang.

Pada zaman Jepang, Habib Basirih keluar dari khalwatnya. Sejumlah kelakuan beliau yang sulit dipahami sebagai pekerjaan kewalian, beliau menyelamatkan orang lain. Suatu hari, beliau dengan menggunakan gayung, Habib Basirih memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain.

IKLAN TENGAH

Orang-orang menilai pekerjaan itu sebagai perbuatan tak berfaidah. Padahal, saat itu, adalah cara Habib Basirih menyelamatkan kapal penumpang yang nyaris karam di laut. Tak beberapa lama, seusai kejadian itu, ada orang yang datang ke rumah Habib Basirih, seraya mengucapkan terima kasih karena kapal yang mereka tumpangi itu diselamatkan oleh Habib Basirih. Padahal,  Habib Basirih tidak kemana-mana. Inilah sebagian dari karomah Habib Basirih yang masyhur.

Kisah lainnya, beberapa pria dari atas perahu melintas di depan batang Habib Basirih. Mereka mengolok-olok Habib Basirih, ketika beliau sedang mandi di atas batang. Gerak-gerik Habib Basirih yang ganjil menyulut mereka mengeluarkan ucapan yang kurang pantas.Tiba-tiba perahu mereka menabrak tebing sisi sungai dan kandas. Cerita lainnya, seorang pedagang ikan berperahu menolak panggilan singgah Habib Basirih. Si pedagang berpikir tak mungkin Habib Basirih membeli dan membayar harga dagangannya.

Akibatnya,selama satu hari penuh tak satu pun barang jualan pedagang ikan tersebut laku terjual. Sementara pedagang lainnya yang menghampiri panggilan Habib Basirih, berkayuh menuju rumah lebih cepat, sebab dagangannya hari itu habis terjual.

Berdasar riwayat, Habib Basirih mempunyai 4 orang, terdiri dari tiga putri dan satu putra. Dari satu putra beliau yang bernama Habib Hasan Bahasyim menurunkan satu anak laki-laki bernama Habib Idrus Bahasyim dan beberapa anak perempuan (termasuk Syarifah Khadijah Bahasyim/Ibu Dijah yang masih hidup). Sedangkan, Habib Idrus (satu-satunya cucu laki-laki Habib Basirih), kemudian menikah dua kali dan dianugerahi seorang anak .

Dari istri pertama, yakni Syarifah Raguan Baroqbah, Habib Idrus memiliki putrid bernama Syarifah Fizria Maryam (Banjarbaru), Habib Fitri Hamid (Qubah Basirih), Habib Fathur Rahman Bahasyim (Banjarmasin) dan Habib Fadil Bahasyim (Samarinda). Sedangkan, dari istri kedua, Syarifah Hani Bilfaqih, didapat tiga keturunan yakni Habib Ali Bahasyim (Jakarta), Syarifah Zuraida Bahasyim (Banjarmasin), dan Habib Fu’ad Bahasyim (Banjarmasin)

Leluhur Bahasyim di Banjar adalah Habib Awad bin Umar. Sedangkan, Habib Awad bin Umar adalah keturunan ke-32 dari Rasulullah Muhammad SAW. Tak ada keterangan jelas perihal asal-usul dan di mana Habib Awad tinggal selama hidupnya. Apakah beliau kelahiran Hadramaut (Yaman) atau ada pendahulunya yang berdiam di salah satu daerah di negeri ini, dan kemudian hijrah ke Nusantara.

Satu versi menyebutkan Habib Awad masuk ke Banjar lewat Sampit, Kalteng. Keterangan anggota keluarga Bahasyim lainnya menyebutkan bahwa Habib Awad bermakam di Bima,Nusa Tenggara Barat. Satu versi lain menyebutkan bahwa salah satu cucu Habib Awad bin Umar ada yang hijrah ke Bima dan kemudian menurunkan keluarga besar Bahasyim di Bima. Tapi sebagian besar anggota keluarga Bahasyim berpandangan bahwa Habib Awad adalah Bahasyim tertua (paling awal)yang datang ke Tanah Banjar.

Kesimpulannya adalah bahwa Habib Basirih ini adalah seorang walinya Allah yang beliau madzjub. Hingga KH Ahmad Zuhdiannor yang akrab disapa Guru Zuhdi pernah berkata bahwa orang Banjar, sebelum ziarah keluar daerah, maka ziarahi dulu Habib Basirih, karena beliau adalah kuncinya Banjar. “Ya, seperti sebelum kita ziarah ke makamm Rasulullah di Madinah, ziarahi dulu kubur Syaikh Semman, dan seperti kita ziarah ke Pulau Jawa, ziarahi dulu Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur,” tandasnya.(jejakrekam)

Dikutip dari berbagai sumber

Anda mungkin juga berminat
Loading...

Inilah Sebagian Manaqib Habib Basirih yang Masyhur