Misi Pekabaran Injil dan Kampung Kristen Banjarmasin

ZENDING Barmen yang dimotori Jerman dan Swiss, dan misionaris Katolik merambah Tanah Kalimantan. Buah tangan mereka akhirnya terbentuk kampung-kampung Kristen, termasuk di Banjarmasin.

KEDATANGAN penginjil Jerman, Barnstien yang memulai misinya pada 28 Juni 1835, dan kemudian disusul para penginjil asal Eropa terutama dari Swiss pada 1836, yakni Becker, Hupperts, dan Krusman memberi warna baru dari agama bercorak Benua Biru itu ke Tanah Banjar dan vazalnya, terutama di daerah pedalaman Kalimantan.

Selama 30 tahun, Pendeta Barnstien terbilang sukses membawa pekabaran Injil, hingga para tokoh Dayak berpengaruh seperti Tamenggung Ambu Nicudemus di Pulau Petak, Kalteng, menjadi penganut Nasrani pertama dari etnis Dayak di Kalimantan. Padahal, para pendeta berkulit putih ini kerap dibunuh warga Dayak. Mereka dianggap sebagai kaki tangan penjajah Belanda. Rupanya, Barnistien dan kawan-kawan bisa meyakini kedatangan mereka yang membawa misi ajaran Trinitas tersebut kepada etnis pribumi.

Usai mendedikasikan diri sebagai penggembala di pedalaman, Barnstien pun pulang ke Banjarmasin. Dia menghembuskan nafas terakhirnya pada 11 Oktober 1836. Jasad sang pendeta Jerman ini pun jadi penghuni Nieuw Kerkhof (Pekuburan Kamboja). Namun, Zending Barmen yang dirintis Barnstien tak terhenti begitu saja, misinya kemudian dikembangkan lagi oleh Zending Amsterdam (Belanda) bernama Clasisschale Zending yang disponsori pemerintah kolonial. Keberhasilan mereka mengirim para pendeta dari Banjarmasin ke pedalaman Kalimantan, sangat cemerlang. Hingga, warga Dayak pun berdatangan ke ibukota Borneo, menimba ilmu di Sekolah Pendeta (kini Sekolah Teologi GKE Banjarmasin) yang ada di Jalan Jawa (kini Jalan DI Panjaitan) Banjarmasin.

“Dari sini, akhirnya terbentuk Kampung Karisten (dalam sebutan masyarakat Banjar) dari Jalan Simpang Empat Pasar Lama hingga ke Jalan Kalimantan (kini Jalan S Parman),” kenang pemuka Kristen Protestan, Prof MP Lambut. Namun, Lambut mengaku rasa solidaritas dan toleransi yang tinggi terjadi di Banjarmasin. Mengapa? Kampung Kristen ini walau berdekatan dan diapit Kampung Arab (kini Jalan Antasan Kecil Barat), dan Kampung Bugis (kini Jalan Sulawesi), serta Sungai Miai yang menjadi pusat pemerintahan bumiputera Banjar sebagai penganut Islam yang taat, justru saling hormat-menghormati.

“Walau banyak orang Dayak atau Biaju datang ke Banjarmasin, toh mereka belum bisa membangun gereja sendiri. Ya, karena jadi warga kelas dua di tatanan masyarakat Eropa yang jadi penyebar agama Kristen,” ujar Lambut.

Dosen senior FKIP Unlam ini bercerita sesuai perjanjian penyerahan tanah dari Kesultanan Banjar pada 1895 kepada Pemerintah Kolonial Belanda, baru di kawasan Benteng Tatas (Fort van Tatas) bisa didirikan sebuah gereja bagi warga Dayak di atas tanah perdikan yang dikuasai dan bebas dari pungutan pajak milik seorang Kapiten Belanda berdarah Maluku, Willem Hehanusa. “Willem inilah yang menghibahkan tanah yang kemudian dibangun gereja. Kalau diingat-ingat gereja orang Biaju (Dayak) ini sangat memprihatikan,” ujarnya.

Iklan Samping 300×250

Gereja itu dibangun dengan tiang dari kayu galam, berlantai kayu hutan, berdinding kajang (daun nipah), dan beratap daun rumbia. “Tergerak atas nasib saudara dari Biaju (Tanah Dayak), banyak saudagar Banjar, dan warga Banjar kebanyakan yang membantu membangunkan gereja hingga layak ditempati, agar tak lagi jadi olokan orang-orang Eropa, terkhusus warga Belanda yang mendapat fasilitas dari Pemerintah Kolonial. Mereka turut bergotong royong membangunkan gereja bagi warga Dayak,” kata Lambut, yang sangat berterima kasih atas kepedulian saudaranya dari etnis Banjar.

Gereja yang dimaksud Lambut itu sekarang adalah Gereja Epphata di Jalan DI Panjaitan. Gereja yang dibina Gereja Dayak Evangelis baru diakui Belanda, setelah berbentuk badan hukum tertanggal 24 April 1935 dan dikuatkan Statblaad Nomor 33 Stbl 217 berkedudukan di Banjarmasin.

Nasib serupa juga dialami warga Dayak yang menghuni di kawasan Jalan Kalimantan. Menurut Lambut, dulu warga pedalaman asal Kalteng yang datang ke Banjarmasin dan bermukim di Kampung Karisten kebanyakan berasal dari Kapuas dan hulu Sungai Kahayan. “Dulu di Jalan Kalimantan itu adalah areal persawahan. Orang-orang Dayak waktu itu menanam padi dan berkebun hingga ke tepi Sungai Pangeran dan Sungai Antasan,” ujarnya.

Untuk melayani warga Dayak yang datang ke ibukota Borneo, kemudian dibangun pesanggarahan atau penginapan. “Jadi, kalau orang Dayak itu tak punya rumah di Banjar, ya ditampung di sana,” kata Lambut. Lama-kelamaan, pesanggarahan itu menjadi wadah kebaktian, dan akhirnya berubah jadi Gereja Eben Ezer. “Dulu, tak semua warga Dayak yang datang ke Banjar itu beragama Kristen. Mereka masih menganut agama lawas, yang baru belakangan ini disebut agama Kaharingan,” tutur Lambut.

Karena terlalu jauh pulang ke tanah leluhur, warga Dayak yang meninggal dunia pun akhirnya dikuburkan di Kompleks Pemakaman Kamboja. “Jangan bayangkan seperti sekarang. Dulu itu, banyak yang naik jukung atau perahu ke Banjar. Jadi, kalau memakamkan di pedalaman Kalimantan, sudah keburu busuk jenazahnya. Tapi, seperti saya katakan, warga Dayak baik yang Kristen maupun Kaharingan itu tak bisa dikubur di Nieuw Kerkhof,” ujarnya.

Kebijakan zona terlarang di Nieuw Kerkhof (Pekuburan Kamboja) baru berubah dan dihapus ketika masa pendudukan Tentara Dai Nippon, Jepang di Banjarmasin pada 1943.(jejakrekam)

Penulis : Didi GS

Editor   : Didi G Sanusi

Foto      : Museum Tropen Belanda

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.