Dirgahayu

Goresan Jeritan Hati Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang Terilhami Ayat Suci Qur’an

DALAM buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi (Djilid I) dan Surat Endeh 14, Ir Soekarno mengingatkan agar para ulama (cendikiawan) jangan hanya mampu mampu membaca abunya sejarah, tapi harus menangkap apinya sejarah. Hal ini terjadi ketika distorsi penulisan sejarah nasional yang justru bertentangan dengan realitas sejarah Indonesia, termasuk ketika terjadi perdebatan panjang soal sejarah perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini, yang diperingati hari kelahiran pada 21 April 1879 sebagai Hari Kartini atau jamaknya emansipasi wanita.

HAL ini yang dikemukakan Prof Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya berjudul Api Sejarah, Buku yang akan mengubah drastis pandangan Anda tentang Sejarah Indonesia. Sebuah buku yang cukup tebal dengan sampul hitam dan huruf judul ditulis berwarna merah itu. Nah, sejarawan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini menyuguhkan versi yang berbeda dari sekelumit kisah RA Kartini yang terkenal dengan korespondensi berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang atau dalam versi Belanda; Door Duisternis tot Licht.

Sebuah tulisan jeritan pemberontakan RA Kartini  (1879-1904) yang hidup di era pemberlakuan sistem adat dan sistem tanam paksa yang menyengsarakan rakyat. Goresan pena putri bangsawan Jepara ini ditujukan kepada Abendanon Direktur Departemen Pendidikan, Kerajinan dan Agama, Ny Abendanon, Nn Stella Zeehandelaar, Ny Marie Ovink Soer yang merupakan istri Residen Jepara, Ir H.H van Kol, Anggota Tweede Kamer Ny Nellie van Kol, dan Dr Adriani.

Padahal, sezaman dengan RA Kartini itu, ada pula tokoh emansipasi dan feminisme yang kini dijadikan rujukan wanita Indonesia hingga sekarang, bahkan terlupakan adalah Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung, Jawa Barat. Kiprah Dewi Sartika tak boleh dipandang sebelah mata dalam memajukan pendidikan kaum hawa, hingga bisa setara dengan kaum adam yang mendominasi.

Dewi Sartika bukan hanya beretorika atau berwacana, tapi sudah mendirikan sebuah lembaga penddiikan yang bernama Sekolah Keutamaan Istri pada 1910. Di era itu, ada pula Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir di Padang, Sumatera Barat yang mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setai (1911) dan Rohana (1916).

Nah, dua penulis sejarah yang coba meluruskan sesuai realitas dan tak terjadi distorsi seperti yang diingatkan Bung Karno, adalah Prof Harsja W Bachtiar serta Prof Ahmad Mansur Suryanegara. Kedua ahli sejarah ini pun sepakat bahwa Kartini adalah sosok yang sengaja diciptakan Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat, justru menginspirasi kemajuan perempuan yang bisa dinikmati wanita Indonesia hingga kini.

Ya, lewat Gerakan Politik Etis di masa kolonial yang digawangi kelompok humanis Belanda, memang mampu melahirkan sosok Kartini yang tercerahkan. Padahal, Ahmad Mansur Suryanegara menegaskan Kartini juga menjadi sosok penentang politik kristenisasi yang menjalar ke kalangan bangsawan di Jepara. Berbeda dengan Mansur, Ridwan Saidi yang juga sejarawan dan budayawan Betawi ini justru mengatakan Belanda gagal mengajak Kartini untuk studi ke Negeri Kincir Angin, hingga akhirnya mengirim orang-orang Yahudi dan Nasrani agar membuatnya tak lagi kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Seperti tercantum dalam buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, serta literatur lainnya menyebutkan bahwa Belanda mendatangkan orang-orang yang dekat dengan Kartini untuk mempengaruhi pemikiran seperti  J.H.Abendanon, E.F. Abendanon, DR Adriani, Annie Glasser, Stella Ny Van Kol, dan Snouck Hurgronie. Atas saran Christian Snouck Hurgronje yang mendorong J.H Abendanon memberi perhatian khusus kepada RA Kartini, terlebih lagi Hurgronje dikenal sebagai sosok yang mengenal dalam ajaran Islam karena berlatar belakang seorang orientalis. Hingga akhirnya, korespondensi antara Kartini dengan Abendanon, serta elit Belanda lainnya, dan melahirkan karya Habis Gelap, Terbitlah Terang itu.

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya, sebetulnya sosok Kartini yang cerdas tak hanya tertarik pada pemikiran Barat, tapi justru juga mendalami  pemikiran Islam. Dahaga Kartini ini terobati ketika bertemu KH Mohammad Sholeh bin Umar (Kyai Sholeh Darat) dalam pengajian bulanan khusus keluarganya. “Justru dari surat menyurat Kartini itu terbaca nilai Islam di mata rakyat yang terjajah. Kristen justru dinilai merendahkan derajat bangsa karena para gerejawan justru memihak pada politik imperialisme dan kapitalisme,” tulis Ahmad Mansur.

Ia menjelaskan dalam surat itu justru tertera kekaguman Kartini terhadap nilai ajaran Alqur’an dalam surat menyuratnya dengan Abendanon. “Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami,” tulis Kartini. Yang dimaksud gunung kekayaan itu adalah nilai ajaran Alqur’an sebagai keagungan hakikat kehidupan, seperti dikutip Ahmad Mansur Suryanegara.

Ketertarikan Kartini terhadap tafsir Qur’an, seperti surat Al-Fatihah karena sering berdiskusi dengan Kiai Sholeh. Selama ini, Kartini memang hanya bisa membaca kitab suci umat Islam itu, belum mengetahui arti dan makna yang terkandung dalam tiap ayat, hingga Kiai Sholeh akhirnya tergugah. Kemudian, ia menerjemahkan Alqur’an dalam bahasa Jawa sebagai hadiah kepada Kartini, serta tafsir Qur’an berjudul Faizhur Rohman Fiil Tafsiril Qur’an jilid 1 yang terdiri dari 13 juz.

Seperti yang ditulis para sejarawan nasional itu, justru Kartini akhirnya menentang praktik zending atau upaya kristenisasi di negeri Hindia Belanda. Bahkan, Kartini justru bertekad untuk memperbaiki citra Islam usai membaca tafsir Qur’an yang dihadiahkan Kiai Sholeh tersebut, karena selama ini menjadi sasaran dari kebijakan kolonialisme Belanda. Hal ini terbaca lagi-lagi dalam surat Kartini yang masyur. Justru, Belanda gagal menjadikan Kartini sebagai kader dengan merecoki ala pemikiran Barat, dan sosok Kartini malah menjadi penentang kolonialisme dan kapitalisme.

Begitu dalam surat Kartini kepada Ny Abendanon seperti berbunyi : “ Tadinya kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar paling baik tiada tara, maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganngap masyarakat Eropa itu sempurna?Dapatkah ibu menyangkal dibalik tindakan masyarakat ibu, banyak hal-hal yang tidak patut disebut sebagai peradaban?”

Nah, dari argumen para sejarawan nasional seperti Prof Ahmad Mansur Suryanegara serta Prof Harsja W Bachtiar meyakini bahwa ada sebuah ayat yang sangat membekas di hati Kartini yakni ayat 257 QS Al-Baqarah yang menyatakan bahwa Allah-lah yang membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya.  Sebab itulah, menurut para sejarawan itu akhirnya judul kumpulan tulisan RA Kartini itu mengutip ayat tersebut, hingga akhirnya berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang.(jejakrekam)

Penulis   :  Didi G Sanusi

Editor     :  Didi G Sanusi