Husairi Abdi

Film Dialog Kuliner Ungkap Bagaimana Makanan Bisa Jadi Sarana Persatuan Warga

0

FILM Dialog Kuliner karya sutradara Ade Hidayat bersama penulis naskah Sandy Firly diputar di Rumah Oettara Banjarbaru, Sabtu (23/1/2022).

KARYA berdurasi 25 menit ini merupakan film yang menceritakan tentang bagaimana kuliner bisa menjadi sarana integerasi sosial warga lintas agama, suku, hingga gender.

Dalam film Dialog, keberagaman warga itu bisa dilihat lewat kelompok UMKM kuliner perempuan yang bernama Warung Rukun.

Usai pemutaran, film Dialog Kuliner kemudian didiskusikan oleh Debbie Pratiwi (peneliti dari Yogyakarta) dan HE Benyamine selaku sastrawan.

Mulai dari nilai-nilai yang dapat dipetik dalam film hingga peran gender, stigma masyarakat dan isu-isu multikultural dalam masyarakat dipaparkan sehingga film Dialog Kuliner sebenarnya terdapat kompleksitas dan fenomena sosial dari realitas yang benar-benar terjadi yang kemudian diadopsi ke dalam sebuah karya film.

BACA JUGA: LK3 Banjarmasin-Wahid Foundation Gagas Desa Damai di Bumi Makmur Tala

Debbie sepakat dengan gagasan yang ditawarkan dalam film tersebut. Menurutnya, kuliner tidak hanya sekadar makanan. “Kuliner tidak sekedar makanan, tapi mengajarkan keragaman yang bersatu padu – tidak saling menonjolkan satu dengan lainnya, tersuguh dalam satu meja kehidupan. Ternyata, kepercayaan pada yang berbeda, bisa berawal dari makanan” ungkap Debbie.

Selain itu, makanan dalam masyarakat juga dapat menjadi alat diplomasi seperti yang HE Benyamine jelaskan,
“Makanan dapat digunakan dalam usaha diplomasi, diplomasi itu dinamakan Gastoronomi Diplomacy, memenangkan hati dan pikiran melalui perut,” ujarnya.

BACA JUGA: LK3 Gelar Religi Expo, Ibnu Sina: Memperkuat Keindonesian dalam Bingkai Kebhinekaan

Ben kemudian memberi contoh. Salah satunya tertuang dalam jurnal penelitian tentang ayam betutu Bali yang sudah berhubungan dengan pemahaman konsep diplomasi.

“Ayam betutu sebagai kuliner yang halal mampu menjembatani lintas budaya dan toleran terhadap semua kelompok agama, maupun etnis dan bangsa,” papar Ben.

Diskusi film ini digelar oleh Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin dan bekerja sama dengan Rumah Oettara selaku penyedia tempat.

Rumah Oettara sebagai kolaborator dalam acara ini menyediakan ruang alternatif yang diperuntukkan untuk acara-acara diskusi seperti ini. “Ruang ini memang diperuntukkan untuk event diskusi seperti ini, nonton bareng dan lain-lain, ya seperti sebuah artspace lah”, ungkap Novyandi Saputra selaku owner Rumah Oettara. (jejakrekam)

Penulis M Rahim Arza
Editor Donny

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.