Husairi Abdi

Denyut Rotan Kalimantan di Tengah Larangan Ekspor Mentah

0

MESKI keran ekspor rotan mentah ditutup, ternyata tak membuat gairah bagi warga Hantasan, Desa Jambu Baru, Kecamatan Kuripan, Barito Kuala, ikutan lenyap.

DESA yang berbatasan dengan Muara Pulau, Kecamatan Tabukan, Batola ini ternyata salah satu pemasok rotan untuk tujuan ekspor. Terutama diolah lagi menjadi kerajinan atau meubler. Warga Desa Jambu Baru, Nasrullah pun mengabadikan aktivitas warga di tepian Sungai Barito untuk membersihkan rotan.

“Rotan-rotan itu didapat dari hutan yang ada di sekitar desa itu. Ada yang dibudidayakan, namun ada pula tumbuh liar,” ucap Nasrullah kepada jejakrekam.com, Senin (8/11/2021).

Akademisi FKIP Universitas Lambung Mangkurat ini mengatakan walau keran ekspor rotan mentah masih ditutup, toh denyut perekonomian warga desa, khususnya pemasok hasil hutan itu masih terjaga.

“Dulu memang pasokan rotan dari hutan itu bisa jadi bahan baku industri kerajinan sejak puluhan tahun lalu. Sayangnya, rencana itu tidak terwujud khususnya di Kecamatan Kuripan,” kata Nasrullah.

BACA : Tikar Purun Jangan Sampai Mengulang Kisah Lampit Amuntai

Tak peduli dengan itu, Nasrullah mengatakan para ibu dan bapak di Desa Jambu Baru memilih aktivitas sampingan itu. Mereka rela berendam untuk membersihkan rotan mentah demi mendapat uang puluhan ribu rupiah. Sebagian warga di desa itu memang kebanyakan merupakan petani maupun pekebun.

“Mereka rela berendam berjam-jam dengan bisa menghasilkan rotan berkualitas, sehingga dijual harganya bisa lebih tinggi, dibandingkan rotan mentah apa adanya,” kata antropolog lulusan UGM Yogyakarta.

Aktvitas warga Desa Jambu Baru, Kuripan, Batola rela berendam di air Sungai Barito untuk membersihkan rotan hasil panen. (Foto Nasrulah)

Nasrullah pun tak menepis jika pelarangan itu terkait dengan meningkatkan nilai jual rotan ketika dijadikan produk jadi kerajinan meubler, tikar lampit, dan lainnya.

“Mungkin itu tujuannya. Yang pasti, hingga kini, aktivitas masyarakat untuk mengambil, membersihkan, mengeringkan hingga mengolah rotan masih ada, khususnya di pelosok Batola masih berdenyut. Walau ada larangan ekspor rotan mentah. Ya, rotan-rotan itu bisa dipasok ke pabrik atau kilang pengrajin rotan,” beber Nasrullah.

BACA JUGA : Didatangkan dari Yogyakarta, Produk Kerajinan Rustic Digemari Warga Banjarmasin

Seperti yang dilakoni PT Sarikaya Sega Utama yang menjadi pabrik pengolah lampit rotan, saburina, ajiro rotan,webbing rotan dan wood karpet tujuan ekspor maupun pasar dalam negeri. Adapula, Rumah Produksi Rotan Banjarmasin, PT Bines Raya, PT Salim Rotan dan lainnya, masih bergelut pada bisnis rotan pedalaman Kalimantan.

Berdasar data Perhimpunan Petani, Pedagang dan Industri Rotan Kalimantan (Pepprika), terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 35 Tahun 2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan, dilanjutkan Permendag Nomor 26 Tahun 2011 tentang Pengangkutan Rotan Antarpulau sebagai upaya mencegah penyeludupan rotan, sangat berdampak pada denyut nadi kehidupan bisnis rotan rakyat.

Ada pula, Permendag Nomor 37 Tahun 2011 tentang Rotan dalam Sistem Resi Gudang, mengancam keberadaan usaha kerakyatan rotan Kalimantan di era Presiden SBY. Namun, hingga kini, larangan itu masih tetap dipertahankan di masa Presiden Joko Widodo (Jokowi).

BACA JUGA : Dari Lucky Borneo hingga Kayuh Sampai di Sungai Kelayan, Foto Humanis Iman Satria

Di Kalimantan sendiri, ada 140 jenis rotan yang dikembangkan di Kalimantan, khususnya Kalsel dan Kalteng. Sebut saja, rotan endemik khas Kalimantan seperti rotan taman, irit, sega, runtih, janggut undang, pulut, lacak, sampulut dan sebagainya yang menghilang dari pasaran rotan dunia.

Kerajinan rotan untuk alat tangkap ikan dan keranjang di Kelayan, Banjarmasin. (Foto Iman Satria)

Jadilah, kebijakan itu malah diduga menguntungkan kartel rotan di Singapura. Sebab, ekspor langsung ke pasar Eropa seperti Finlandia, Rusia, dan khususnya negara-negara di semanjung Skandinavia, dilarang. Selama ini, ekspor rotan asal Kalimantan masuk ke pasar Eropa, lewat Belanda, tak melalui Singapura.

BACA JUGA : Selain Batubara dan Sawit, Ini Produk Andalan Ekspor Kalsel ke Berbagai Negara

Sementara di era kolonial Belanda justru mengakui rotan sebagai hasil perkebunan, hingga memberi izin mengembangkannya. Era kejayaan rotan Kalimantan sejak 1980-an, akhirnya tinggal cerita. Kini di pasaran, rotan-rotan itu berasal dari hutan Sulawesi dan Maluku, atau rotan sintetis yang dikembangkan di Pulau Jawa merajai pasar.

Sedangkan, pengusaha rotan pun banyak gulung tikar, terlebih lagi para petani di pendalaman. Selama ini, sumber rotan dipasok dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Katingan, Barito Selatan dan Barito Utara di Kalteng. Begitupula, Kabupaten Barito Kuala (Batola) dan Tabalong di Kalsel.

Untuk negara tujuan ekspor rotan atau kerajinan rotan terbanyak adalah Jepang dan Belanda berdasar data dari Dinas Perdagangan Kalsel per Agustus 2021 lalu.(jejakrekam)

Penulis Iman Satria/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.