Amuk Meratus Micky Hidayat, Agus Suseno Suarakan Nelangsanya Loksado

0

DETIK-detik pergantian tahun 2019 menuju 2020, ditandai dengan pembacaan puisi tiga generasi penyair. Sastrawan kawakan Micky Hidayat, dilanjutkan YS Agus Suseno dan ditutup penyair muda, Hajriansyah di Kampung Buku, Jalan Sultan Adam, Banjarmasin, Selasa (31/12/2019) malam.

PARA penyair pun menyuarakan penolakan terhadap rencana perampasan Pegunungan Meratus melalui korporasi tambang yang telah mengantongi izin. Seperti Micky Hidayat, dengan intonasi suara naik turun membawakan puisi berjudul Amuk Meratus.

“Renungkanlah! Sebuah peristiwa yang tak akan pernah tercatat dalam sejarah kemanusiaan, betapa tragis dan memilukan. Suatu saaat nanti, jasadku akan bangkit menuntut balas atas perlakukan klaian yang semena-mena, brutal, sadis, psikopat dan tak berperikemanusiaan yang adail apalagi beradab terhadap tubuhku,” baca Micky Hidayat, menggambarkan penderitaan Pegunungan Meratus.

Puisi kedua pun dibacakan sang putra sastrawan legendaris Kalsel, Hijaz Yamani ini berjudul Suara dari Meratus. Lewat puisi yang ditulis pada 23 Maret 2019 di Banjarmasin, Micky Hidayat lagi-lagi menggambarkan suara-suara dari lereng Pegunungan Meratus yang nelangsa dikepung tambang emas hitam dan sawit.

BACA : Puisi Dua Pejuang Kalimantan Berbeda Jalan; Hassan Basry-Ibnu Hadjar

Di akhir puisinya, Micky Hidayat pun mengambil prokem yang tengah nge-hits dan dipopulerkan Selegram Banua, Antonio Borneo dengan judul Tambahee Lageee. Puisi dalam bahasa Banjar ini menggambarkan begitu serakahnya manusia untuk mengeruk habis semua anugerah Tuhan, gunung dikeruk, bukit-bukti digunduli, hingga sungai dan danau pun tak lagi bersahabat, menciptakan banjir dan petaka alam lainnya.

Penyair berkumis tebal yang pernah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 1997 dengan membaca sajak terlama di Indonesia dengan durani 5,5 jam nonstop itu, mengajak para pendengar karya sastra untuk terus bersuara lantang atas segala keserakahan atas alam Kalimantan Selatan.

BACA JUGA : Usai Pegunungan Meratus, KSK Garap Antalogi Puisi Sayur Mayur

Lain lagi dengan YS Agus Suseno. Sastrawan yang dikenal vokal ini pun membacakan puisi karya sastrawan yang kini mulai dilupakan generasi milenial, Ajamuddin Tifani (1951-2002) berjudul Kapal Kertas.

Bait demi bait yang cukup pendek ini disuguhkan Agus Suseno dengan penuh penjiwaan. Menurut Agus Suseno, selama ini, banyak bait-bait puisi yang penuh pesan mendalam seakan tenggelam seiring tiadanya sang penyair.

Puisi karya sastrawan lainnya, Burhanuddin Soebely (1957-2012) berjudul Concerto Balai Bilaran jadi pembuka kedua dari suara menggelegar YS Agus Suseno. Sastrawan yang juga budayawan Banjar ini melukiskan dari bait karya Burhanuddin Soebely, nasib yang kini dialami kawasan nan hijau ranum, Loksado terjamah tambang.

Puisi berbahasa Banjar berikut karya Agus Suseno berjudul Gunturnya Haja-Hujannya Kada, menjadi pendobrak ketiga di atas panggung sederhana. Bait yang berisi kritikan kepada para pejabat Banua jadi sorotan Agus Suseno dalam puisi karyanya itu.

Ini sejalan dengan puisi berjudul Tanah Para Datu, yang kini dirampok para kaum serakah. Puisi yang ditulis pada 16 September 2018 dibacakan Agus Suseno dengan penuh makna dan membangkar semangat para pendengar di Kampung Buku.

BACA LAGI : Bela yang Tersisih, Kritik Tajam Puisi Banjar Seniman Nyentrik YS Agus Suseno

Gaya majas menggambarkan pertengkaran kepiting, udang dan kerang dalam puisi berjudul Agar Kau Ingat Arah Kembali, jadi sajian berikutnya dari Agus Suseno. Nasib yang mendiskripsikan kehidupan binatang atau fabel dalam karya sastra ini seakan menyindir perebutan kekuasaan karena dipicu kekayaan alam, seperti terjadi di Kalsel.

Sebagai pamungkas, sastrawan yang dijuluki Datu Tadung Mura ini pun membacakan puisi berjudul Di Mana Kau, Ibnu Hadjar?  Rangkaian puisi ini ditutup Hajriansyah. Pengelola Kampung Buku yang juga sastrawan dan budayawan muda serta pelukis jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melengkapi suguhan penyair tiga zaman di pengujung tahun.

“Kita harus melek dengan perkembangan seni sastra di zaman sekarang. Perlu kita ceritakan kembali sejarah seni sastra dan para tokohnya yang ada di Banua, agar tak hilang dan lekang ditelan zaman,” ucap Agus Suseno kepada jejakrekam.com.

BACA LAGI : Terinspirasi Jembatan Rumpiang, Ada Rahasia di Antologi Puisi EBTAM

Sementara, Hajriansyah pun mengaku bangga bisa satu panggung dengan dua sastrawan kawakan Kalsel yang telah menasional itu.

“Karya para sastarawan Kalsel seperti Bang Micky Hidayat dan YS Agus Suseno ini bernilai tinggi. Jika kita tidak menjaga dan menghidupkan, siapa lagi,” imbuh Hajriansyah.

Aksi panggung penyair tiga generasi ditutup dengan sedikit diskusi, dan dihadiri puluhan sastrawan, jurnalis, aktivis, pegiat seni dan lainnya. Lagu-lagu pengantar pergantian tahun pun dibawakan secara bergantian.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.