ACT

Sulitnya Warga Sikakap Dapatkan Air Bersih

Kepulauan Mentawai saat ini mengalami krisis air bersih. Lima bulan sudah tak turun hujan membuat warga harus mengantre air di mata air yang debitnya sangat kecil.

0 44

TAK hanya melanda Jawa saja, kekeringan di tahun 2019 juga mendera Kecamatan Sikakap, Kabupaten Mentawai, Sumatra Barat. Lima bulan sudah tak turun hujan, membuat sumur warga mengering. Saat ini, untuk pemenuhan air bersih, warga Sikakap terpaksa mengantre mata air yang ada di perbukitan. Itu pun debit air sangat kecil, sedangkan banyak warga yang membutuhkan.

IRWANDI, relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang berada di Sikakap, mengatakan, selain mata air yang debitnya sangat kecil, warga juga memenuhi kebutuhan air dengan membelinya. Per 600 liter air bersih di Sikakap dihargai dengan Rp 75 ribu. “Cukup mahal harga air di sini, karena banyak masyarakat yang masih prasejahtera,” ungkapnya, Sabtu (2/11/2019).

Salah satu warga Sikakap, Ishak (43), mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan air keluarganya selama musim kemarau ini sangat sulit. Tak jarang ia harus mengajak keluarganya untuk membantu mengambil air di perbukitan yang cukup jauh dari permukiman.

Merespons kekeringan ini, ACT Sumatra Barat pada Sabtu (2/11) lalu mendistribusikan 10 ribu liter air. Air ini berikan ke warga yang telah mengalami krisis air sejak berbulan-bulan lalu. “Adanya bantuan air ini sangat membantu warga, jadi enggak perlu jauh-jauh sampai naik bukit,” ungkap Ishak.

Selain akhir pekan lalu, ACT Sumbar juga telah merencanakan pendistribusian air lagi di Sikakap. Aan Saputra dari Tim Program ACT Sumbar mengatakan, pendistribusian air bakal terus dilakukan selama kekeringan berlangsung. Kekeringan ini terjadi sejak terjadinya kemarau panjang di tahun 2019. “Harapannya segera turun hujan agar warga tak lagi kesulitan mendapatkan air bersih,” ungkap Aan.

Selain di Sikakap, ACT juga terus mendistribusikan air bersih ke wilayah lain yang terdampak kekeringan, salah satunya Provinsi DI Yogyakarta. Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo menjadi lokasi utama karena di wilayah tersebut yang mengalami kekeringan terparah. “Sampai saat ini air yang telah terdistribusi dari ACT ke wilayah DI Yogyakarta sudah mencapai lebih dari 1,2 juta liter air,” ungkap Kharis Pradana dari tim program ACT DI Yogyakarta, Jumat (8/11/2019).(jejakrekam)

Penulis Dana Kurnia (ACT)
Editor Fahriza

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.