ACT

Identifikasi Struktur dan Perubahan Lanskap Banjarmasin di Masa Kesultanan (1526-1860) (1)

Oleh : Vera D Damayanti

0 225

BANJARMASIN pada mulanya merupakan sebuah kesultanan yang berdiri di tahun 1526, dengan pusat  pemerintahannya di distrik Banjarmasih yang terletak di muara Sungai Kuin. Saat ini secara adminsitratifareanya merupakan bagian dari Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara.

DI AWAL abad ketujuhbelas, pelabuhan Kesultanan Banjarmasin dikenal sebagai penghasil lada yang penting di Nusantara yang menarik para pedagang asing, baik dari daratan Asia maupun Benua Eropa untuk berdagang lada.

Semakin dikenalnya perdagangan lada di Banjarmasin telah menarik banyak pedagang yang bersaing untuk  mendapatkan hak monopoli perdagangan lada dari sultan. Pada akhirnya, perdagangan dan persaingan ini menimbulkan konflik berlatar belakang politik ekonomi.

Adanya berbagai persitiwa terkait perdagangan dan politiknya ini menjadi landasan penting dalam studi ini, baik untuk memformulasikan struktur lanskap maupun dalam analisis perubahan lanskap Banjarmasin. Pengetahuan akan sejarah suatu lanskap merupakan salah satu aspek penting dalam merencana dan  mendesain lanskap.

BACA : Diawali Orang Bugis, Tajau Kuin Pernah Menembus Pasar Seni Bali

Menurut Marcucci (2000), informasi kesejarahan berguna untuk mengetahui nilai sejarah suatu tempat atau elemen lanskap sehingga perlu untuk dilestarikan sebagai sebuah warisan (landscape as legacy).

Data kesejarahan juga dapat menjadi inspirasi dalam membuat rencana atau rancangan lanskap dalam berbagai skala dan peruntukan. Lebih lanjut, pengetahuan sejarah lanskap berperan dalam membantu arsitek lanskap untuk lebih memahami karakter lanskap setempat, serta dapat menjadi alat analisis untuk memahami seluk-beluk berbagai permasalahan dalam lanskap, baik fisik, ekonomi, maupun sosial-budaya.

Pengetahuan sejarah lanskap diperlukan terutama dalam menghadapi permasalahan lanskap yang dalam jangka panjang tak kunjung teratasi dikarenakan solusi yang dibuat tidak substansial. Untuk itu, proses yang mempengaruhi arah perubahan lanskap (keystone process) perlu diidentifikasi dalam penelusuran sejarah lanskap.

Dalam studi ini, kategori proses budaya (cultural process) baik dalam konteks proses politik-ekonomi dan sosial-budaya, menjadi menjadi dasar dalam menganalisis perubahan lanskap.

BACA JUGA : Jadi Bandar, Umur Pasar Terapung Muara Kuin Setua Kesultanan Banjar

Pemanfaatan sumber kesejarahan primer seperti arsip dan publikasi yang dibuat semasa periode  kesejarahan dirasa masih kurang dimanfaatkan dalam studi lanskap di Indonesia. Oleh karenanya, salah satu hal yang mendasari penelitian ini yaitu mempelajari sejarah lanskap Banjarmasin dengan menggunakan data kesejarahan primer sebagai salah satu sumber data utama.

Tujuan utama penelitian ini yaitu mempelajari perubahan lanskap di Banjarmasin di masa kesultanan. Diharapkan penelitian ini bermanfaat sebagai acuan studi penelusuran sejarah lanskap kota-kota lain di Indonesia.

Metode yang diambi lokasi area studi yaitu Kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Studi ini dilakukan pada 2016-2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang secara garis besar  meliputi persiapan berupa pemilihan topik, dalam hal ini terkait dengan keystone processes; pengumpulan sumber kesejarahan primer dan sekunder; verifikasi secara triangulasi dan observasi lapang; interpretasi secara deskriptif dan spasial; penyusunan peta rekonstruksi dan penulisan narasi.

Dalam studi ini yang dimaksud dengan data primer yaitu berbagai bentuk material atau sumber informasi yang dihasilkan semasa periode yang diteliti. Sedangkan data sekunder yaitu bebagai material atau sumber informasi yang menganalisis atau menginterpretasikan data primer. Dalam studi ini, data primer yang digunakan mencakup arsip dokumen, sketsa, peta, serta publikasi jurnal eksplorasi dan perjalanan. Sementara itu sumber data sekunder berupa publikasi terkait studi.

BACA JUGA : Dari Bandarmasih, Transformasi Banjarmasin dari Peta-Peta Kuno Penulis Eropa

Dalam pengumpulan dan analisis data, komponen-komponen yang mengkarakterisasi lanskap yaitu proses, ruang, material, serta bentukan (Spirn, 1998) menjadi panduan dalam menelusuri data dari berbagai sumber kesejarahan dengan tujuan untuk menghasilkan data kualitatif. Berdasarkan keystone processes dan karakter lanskap yang terbentuk, kemudian diformulasikan tipologi lanskap Banjarmasin pada periode dimana keystone processes berlangsung.

Produk akhir studi berupa satu seri peta rekonstruksi lanskap Kota Banjarmasin di masa kesultanan serta narasi proses perubahan lanskapnya. Sebagai bahan dasar peta digunakan sumber peta-peta dari VOC dan pemerintah Hindia Belanda yang menggambarkan Banjarmasin ditahun 1700-1720, 1845, 1893, dan 1916.

Atribut berbagai elemen lanskap dalam peta selain menjadi sumber data primer juga menjadi acuan dalam penggambaran rekonstruksi perubahan lanskap, sehingga didapat :

1 .Karakter lanskap alami

Banjarmasin terletak sekitar 50 km dari muara Sungai Barito di Laut Jawa. Kota ini dilalui oleh sungai-sungai besar yaitu Barito, Martapura dan Alalak. Banjarmasin dipengaruhi oleh iklim tropis dengan kelembaban dan suhu tinggi.

Musim basah pada Oktober-April saat angin muson barat membawa angin yang lembab. Suhu  udara Banjarmasin saat ini berkisar antara 28-35°C. Pada masa kesultanan, variasi iklim berpengaruh terhadap kegiatan perekonomian, dimana musim hujan menentukan budidaya lada dan angin muson menentukan periode pelayaran para pedagang terutama dari luar Kalimantan (Ras, 1968; Knapen, 2001).

Daratan Banjarmasin terbentuk di atas dataran aluvial dan deposit gambut sebagai bagian dari cekungan Barito (Barito Basin). Proses geologi pembentukan daratan Banjarmasin sangat dipengaruhi oleh adanya sungai-sungai.

BACA LAGI : Jembatan Coen, Penghubung Dua Tepian dan Kutipan Tol Sungai

Pembentukan daratan terutama disebabkan proses progradasi pada periode Holocene sekitar 10.000 tahun yang lalu. Pembentukan daratan disebabkan oleh pengendapan sedimen dan akresi dari Pegunungan Meratus di muara Sungai Martapura dan Alalak yang pada saat itu letaknya dekat dengan pegunungan Meratus dan berupa teluk di Laut Jawa (Sumawinata, 1998).

Pembentukan daratan diikuti dengan evolusi lingkungan sedimentasi yang kemudian menentukan suksesi vegetasi. Suksesi lingkungan dimulai dari pantai berpasir, dataran pasang-surut dan pematang (levee), area rawa payau, rawa sungai, dan terakhir menjadi rawa gambut.

Vegetasi awal yang tumbuh yaitu di dataran pasang surut dan pematang, berupa komunitas halophyt mangrove dengan spesies pionir seperti Avicennia, Sonneratia dan Rhizopora yang toleran kondisi salin. Ketika suksesi lingkungan mencapai puncaknya, terbentuk hutan rawa gambut di area belakang pematang sungai (backswamp) beserta vegetasi hutan riparian yang tumbuh di daerah pematang sungai (Sumawinata, 1998).

Kondisi jenis tanah pada area pematang yaitu Entisol, sementara di belakang pematang didominasi oleh Endoaquents yang mengandung tanah gambut Histosol. Kondisi subsoil berupa jenis tanah yang kaya akan pirit atau besi sulfida (FeS2).

Jenis tanah ini jika dibuang airnya menyebabkan pirit teroksidasi sehingga tanah menjadi sangat asam, dan memicu munculnya Alumunium Sulfat yang jika keduanya bereaksi membentuk Ferri-sulfat yang beracun bagi tanaman (Van Wijk, 1950).

Berdasarkan data di atas, karakter lanskap alami Banjarmasin sebelum adanya intervensi manusia terbentuk atas elemen sungai, pematang sungai (riparian), rawa, dan rawa gambut. Dengan kondisi tersebut maka di masa kesultanan area ini kurang sesuai untuk pertanian, terutama karena aspek kendala dari jenis tanah, hidrologi, dan keterbatasan pengetahuan dan teknologi.

2. Berdirinya Kesultanan Banjarmasin

Munculnya kesultanan Banjarmasin di muara Sungai Kuin tak lepas dari dua kekuasan politik yang ada sebelumnya yaitu Nagara Dipa dan Nagara Daha. Kedua kerajaan ini bertempat di tepian Sungai Nagara, anak Sungai Barito di utara Banjarmasin.

Pelabuhan dagang Nagara Dipa berada di Muara Rampiu, dan Nagara Daha di Muara Bahan (Marabahan), di Muara Sungai Nagara. Nagara Dipa yang diperkirakan berdiri di abad empatbelas, merupakan kerajaan Hindu yang mendapat pengaruh dari kerajaan Majapahit. Pada abad kelimabelas, pusat kekuasaan ini dipindahkan ke hilir yang menandai awal berdirinya Nagara Daha yang masih mengikuti tradisi Hindu (Ras, 1968; Ganie, 2011).

BACA LAGI : Mengintip Kejayaan Karet Kalsel Era Kolonial Belanda

Pada tahun 1526, putra mahkota Nagara Daha yaitu Pangeran Samudera yang tersingkir dari keraton dikarenakan ambisi pamannya, mendirikan keraton di distrik Banjar di muara Sungai Kuin atas inisiasi Patih Masih –pemimpin daerah Banjar. Ia didukung oleh para patih dari daerah di sekitar Banjar seperti Balandean, Sarapat, Balitung, dan Kuwin.

Pembentukan keraton ini berpengaruh terhadap perpindahan pusat perdagangan ke pelabuhan Banjarmasih di hilir Barito. Keraton Banjarmasih, yang kemudian dikenal dengan Banjarmasin, berubah menjadi sebuah kesultanan yang dipengaruhi agama Islam setelah berhasil menaklukkan Nagara Daha yang didukung 1000 pasukan dari Demak –kerajaan Islam yang kuat di Jawa kala itu.

Kesultanan Banjarmasin menjadi sebuah kota-negara (city-state) yang pengaruh kekuasaannya meluas di Kalimatan Selatan, Timur dan sebagian Kalimantan Tengah (Ras, 1968; Saleh, 1982). Hal ini tak lepas dari peran Pelabuhan Banjarmasin yang menguasai jalur perdagangan di selatan Kalimantan.

3. Pelabuhan Banjarmasin

Memasuki  ‘era niaga’ pada abad kelima belas hingga tujuh belas kawasan Asia Tenggara memasuki ‘era niaga’ (the age of commerce) dimana aktivitas perdagangan meningkat signifikan. Fenomena ini tak hanya mendorong persebaran dan difusi budaya, teknologi, dan ideologi dari daratan Benua Asia ke kawasan kepulauan Asia Tenggara, namun juga mendorong munculnya kota-kota pelabuhan dagang dimana kapal-kapal pedagang merapat untuk singgah dan bertransaksi termasuk diantaranya kota pelabuhan Banjarmasin.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Pengajar di Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Indonesia

Peneliti Centre for Landscape Studies, Faculty of Arts, University of Groningen, the Netherlands

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.