ACT

Bahas Spiritualitas Agama, Tokoh Agama Kalsel Ajak Semai Rasa Kebersamaan

155

TOKOH agama di Kalimantan Selatan berkumpul di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin, Sabtu (7/9/2019). Mereka membahas titik temu agama-agama dalam diskusi yang dihelat Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Selatan.

PARA tokoh agama yang hadir pun duduk satu meja. Yakni, Bhanthe Shaddaviro Mahatera, tokoh agama Budha, Uskup DR Boddeng Timang, petinggi Katolik di Banjarmasin dan cendikiawan Kristen Dr Darius Dubut dan serta cendikiawan muslim dan Nahdlatul Ulama (NU) Kalsel Dr (Cand) Humaidy Abdussami.

Tampak pula hadir dalam dialog santai penuh khidmat, akademisi dari UIN Antasari yang juga mantan Ketua KPU Kalsel Dr Mirhan,  Romo Al Faris, Romo Toni, aktivitas perempuan Fatayat NU dari Hj Normayani, Ketua LK3 Rafiqah dan peserta lainnya dari kalangan mahasiswa dan pegiat media.

BACA : Dandim 1007/Banjarmasin Silaturrahmi Ke Tokoh Agama

Dipandu Noorhalis Majid, para tokoh tersebut menyampaikan pandangannya menyangkut spiritualitas secara bergantian. Mereka menyadari bahwa spiritualitas merupakan hakikat dari agama, dapat menjadi titik temu bagi agama-agama.

Bhanthe Shaddaviro Mahtera mengungkapkan, spiritualitas harus dilatih dan diasah. Ia mengatakan semakin diasah akan membuat hal-hal yang emosional menjadi rasional.

“Tugas para tokoh agama, membimbing umatnya agar rasional, sehingga tidak sumbu pendek. Yang sumbunya pendek akan mudah emosional. Mari mengasah spiritualitas agar arif bijaksana melihat berbagai persoalan, terutama menyangkut hubungan antar agama,” tuturnya.

BACA JUGA : Tensi Politik Pasca Pemilu 2019 Memanas, Tokoh Agama Diminta Angkat Suara

Begitupula, Dr Darius Dubut mengungkapkan agama jangan sampai terjebak pada simbol-simbol, harus masuk pada substansi, dan yang substansi itu adalah spiritualitas. “Bila spiritualitas tinggi, maka tidak akan ada klaim kebenaran. Semua akan saling menghargai dan hidup dalam kesadaran agama yang tinggi,” ucapnya.

Sementara, Humaidy menegaskan Islam adalah kepasrahan kepada Tuhan. Siapapun yang pasrah pada Tuhan, maka dia Islam. Ungkapan ini sama pada semua agama.

“Siapa saja yang menyampaikan kasih sayang maka dia Kristiani. Siapa saja yang menyampaikan budi baik, dia Budhis, dan lain sebagainya, maka spritualitas adalah bentuk kepasrahan kepada Tuhan dan menjadi titik temu dari agama-agama,” papar dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini.

Senada itu, Uskup Dr Bodeng Timang, mengungkapkan pernyataan Gu Dur (KH Abdurrahman Wahid) ketika bertemua Kardinal, dia mengatakan, “Saya seiman dengan Kardinal dan seagama dengan Soeharto”. “Artinya, spiritualitas membuat orang menjadi seiman, walapun berbeda agama. Seagama belum tentu seiman jika belum mampu mencapai tingkat  spiritulitas,” tuturnya.

BACA LAGI : Implementasikan Kemerdekaan dengan Merawat Keberagaman dan Persatuan

Dialog penuh kekeluargaan, berangsung dengan khidmat. Sejumlah pertanyaan dan tanggapan menyangkut berbagai isu terbaru di tanah air diungkapkan. Para tokoh sepakat untuk terus memupuk spiritualitas umat beragama, bersamaan itu membangun silaturahmi, agar komunikasi terus terjalin.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.