Paribasa Banjar; Hundang Bapadah Ratik

Oleh : Noorhalis Majid

KALAU punya pengalaman menangguk hundang (udang). Terutama bila menangguknya di pinggir sungai.  Hasil tanggukan akan tercampur antara udang dengan ratik (ranting, rumput, sampah kecil).

BILA tidak teliti, yang dikira udang, ternyata ratik. Dikira ratik dan terbuang, ternyata udang.  Perlu ketelitian memilah udang dan ratik. Warnanya samar. Bentuknya juga mirip.  Udang bisa pura-pura menjadi ratik, dibuang dan berenang lagi.

Aktivitas menangkap udang dengan tangguk, memberikan pengalaman sosiologis. Sulit memahami paribasa  (peribahasa) dalam bahasa Banjar ini, bila tidak pernah tahu soal aktivitas menangguk udang di sungai.

Sejumlah paribasa, diambil dari aktivitas keseharian. Bahwa orang Banjar memetik pelajaran dari keseharian yang dilakukan. Menjadikannya sebagai perumpamaan, untuk dimaknai sebagai nasihat hidup.

BACA : Paribasa Banjar; Dimamah Hanyar Ditaguk Penuh Makna

Udang dan ratik, sesuatu yang tidak sepadan. Mengupamakan perbandingan antara yang bernilai dengan tidak bernilai. Udang dicari, ratik dihindari. Ketika dipadankan, ada sesuatu yang disembunyikan dari keduanya.

Paribasa ini bermakna orang yang rendah hati. Selalu merendah. Tidak mau menonjolkan diri.  Berilmu, mengaku tidak banyak tahu. Berpengalaman luas, mengaku tidak paham apa-apa. Berharta, berpenampilan sederhana. Memiliki jabatan tinggi, bergaya sangat biasa. Pendek kata, penampilan dan gayanya, tidak seperti semestinya.

Orang Banjar pada dasarnya tidak suka dengan orang sombong, membanggakan diri, petantang petenteng. Sejumlah kosa kata lahir, menunjukkan ketidak sukaan itu. Piragah, pandir, pambual, pina musti, pa’iyanya, dan banyak kosa kata menyindir sinis yang menonjolkan diri.

BACA JUGA : Baguna Tahi Larut; Paribasa Banjar, Refleksi Budaya

Paribasa ini memotret karakter yang justru sebaliknya. Orang yang suka merendah, tidak mau memperlihatkan kelebihan, menyebunyikan kemampuan dimiliki. Membuat orang terkagum-kagum. Menghormati kesederhanaannya.

Karakter seperti ini memang langka. Sering dijumpai justru melebihkan dari senyatanya. Lebih baik kalah nasi dari pada kalah aksi. Fenomena itu sekarang  yang marak. Berpura-pura hebat, kaya, berprestasi, padahal biasa saja. Apalagi era media sosial. Pencitraan. Lebih banyak seolah-olah dari pada senyatanya. Ada istilah yang cukup menarik tentang hal ini, “megalomania”, menghayal terlalu tinggi, jauh dari kenyataan.

BACA LAGI : Kada Jadi Baras; Sindiran Pekerjaan yang Sia-Sia

Memiliki uang seratus ribu, mengaku satu juta. Sejuta mengaku seratus juta. Melebihkan dari senyatanya. Sementara yang benar-benar kaya, berprestasi, berilmu tinggi, memiliki pengalaman luas, jabatan tinggi, mengaku hanya ratik. Hundang bapadah ratik. (jejakrekam)

Penulis adalah Kepala Ombudsman Perwakilan Kalsel

Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar