Dirgahayu

Pegunungan Meratus Menjual, Menpar : 2020 Harus Diakui Unesco Jadi Taman Dunia

PANORAMA dan kekayaan alam Pegunungan Meratus dinilai Menteri Pariwisata Arief Yahya, jauh lebih menjual di pasar internasional sebagai destinasi ekowisata dunia. Ditarget 2020, Kementerian Pariwisata akan membantu Pemprov Kalsel untuk menggolkan statusnya masuk dalam jaringan Unesco Global Geopark (UGG).

“SETIAP daerah harus punya ikon yang diunggulkan. Kalau di Sumatera Utara itu, ada Danau Toba, lalu di Jawa Tengah dan Yogyakarta, ada Borobudur. Makanya, kalau di Kalsel yang lebih menjual adalah Pegunungan Meratus, statusnya jadi geopark nasional, tapi harus internasional,” tegas Menteri Pariwisata Arief Yahya, saat mengunjungi Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam di Mandiangin, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Senin (12/8/2019).

Dengan statusnya menjadi taman dunia, Menpar Arief Yahya yakin akan bisa mengundang wisatawan mancanegara untuk mengunjungi Kalsel. Meski di Kalsel sendiri, diakui Arief Yahya, ada beberapa keunikan lainnya jadi destinasi wisata seperti Sungai Barito, Sungai Martapura, bekantan serta budaya kulinernya.

BACA : Dari Riset Balitbangda, Terinspirasi Eropa Muncul Ide Geopark Meratus

“Namun, harus ada satu yang diunggulan terlebih dunia untuk kelas internasional. Kami melihat itu ada di Pegunungan Meratus, dengan gunung batunya yang kalah dengan Raja Ampat Papua,” kata Menpar Arief Yahya.

Mantan CEO PT Telekomunikasi Indonesia memastikan kementeriannya akan mendukung penuh upaya Pemprov Kalsel untuk mendapat predikat Unesco Global Geopark atau masuk dari jaringan taman budaya di bawah lembaga otonom Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut.

Menurut Arief, bagaimana pun industri pariwisata jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan industri lainnya. Dia menyentil ketika rotan, kayu, minyak dan batubara di Kalsel bakal habis, maka paling ideal untuk menopang perekonomian adalah sektor pariwisata.

“Semakin Pegunungan Meratus itu dilestarikan, maka semakin menyejahterakan masyarakat. Pohon besar itu lebih mahal dipandang, ketimbang ditebang. Gunung itu lebih mahal dilihat, daripada dibom dan diambil batubaranya,” kritik Arief.

BACA JUGA : Pemprov Kalsel Target Geopark Pegunungan Meratus Diakui Unesco

Doktor jebolan Universitas Padjajaran Bandung ini menegaskan pilihan menjadikan Pegunungan Meratus menjadi taman dunia, sangat tepat. Ia pun berseloroh sebenarnya jatuh cinta dengan Pegunungan Meratus, karena sewaktu pernah bekerja di PT Telkom di Balikpapan, Kaltim, selalu jalan darat menuju ke Kalsel.

“Satu tujuan saya, agar bisa menikmati keindahan Pegunungan Meratus. Makanya, saat pencanangan Visit Kalsel 2020, kami akan senang jika Pegunungan Meratus ini menjadi Unesco Global Geopark,” imbuhnya.

Jaminan dari Menpar Arief Yahya ini pun dijawab Kepala Dinas Kehutanan Kalsel Hanif Faisol Nurofiq yang memastikan akan membangun apa saja yang dibutuhkan agar bisa memenuhi kriteria Pegunungan Meratus menjadi taman dunia.

“Ya, belajar dari golnya Danau Toba yang merupakan kaldira terbesar di dunia. Ternyata, Pegunungan Meratus gaungnya sudah dikenal dunia internasional. Makanya, kami yakin statusnya menjadi geopark internasional akan bisa terwujud, dengan catatan dibantu semua pihak,” imbuhnya.

BACA LAGI : LPMA Nilai Penetapan Geopark Bukan Langkah Tepat untuk Lindungi Pegunungan Meratus

Sekadar diketahui, di Indonesia, ada sekitar 40 geoheritage, enam di antaranya sudah diakui Unesco sebagai geopark atau taman dunia. Konsep geopark merupakan pengembangan kawasan wisata yang memberi pengaruh terhadap konservasi, edukasi dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satunya adalah Danau Toba di Pulau Samosir, Sumatera Utara, Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat, Gunung Batur di Bali, Gunung Sewu di Yogyakarta, Geopark Merangin di Jambi, dan Kawasan Cadas Sangkulirang, Kalimantan Timur dan lainnya.(jejakrekam)

 

Penulis Balsyi
Editor Didi GS