ACT

Baru Ada Empat Kamus Bahasa Daerah, Bahasa Berangas di Ambang Punah

0 661

UPAYA penyelamatan bahasa asli Kalimantan Selatan terus dilakoni. Secara umum berdasar data Balai Bahasa Provinsi Kalsel, sedikitnya ada 18 bahasa yang digunakan para penuturnya dan tinggal di Banua. Mereka adalah penduduk asli maupun  para pendatang.  

PENUTUR bahasa terbesar di Kalimantan Selatan adalah Bahasa Banjar. Di samping itu, ada pula komunitas penutur Bahasa Dayak Bakumpai, Dusun Deah, Dusun Maanyan, Dayak Halong, Lawangan, Samihin, Berangas dan Bahasa Lawang yang merupakan bahasa asli Kalimantan Selatan. Sisanya, bahasa yang dituturkan pemukim di Kalsel adalah bahasa Jawa, Madura, Bugis, Bajau, Sunda, Bali, Mandar, Sasak dan Flores.

Hingga akhirnya, Bahasa Berangas dan Abal dikatakan hampir punah, karena para penuturnya makin sedikit dan bisa dihitung jari. Rata-rata para penuturnya sudah berumur tua. Proses perekaman para penutur Bahasa Berangas yang kebanyakan bermukim di Kelurahan Alalak Utara, Banjarmasin Utara, serta kawasan Berangas, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, sempat dilakukan tim yang diterjunkan Balai Bahasa Kalsel.

BACA : Hikayat Sang Penyusun Kamus Bahasa Banjar, Prof Djebar Hapip

Divisi Analisis Kata dan Istilah Balai Bahasa Kalsel, Anasabiqatul Husna mengakui bahwa kamus bahasa di Kalsel justru disusun secara pribadi, seperti kamus bahasa Banjar-Indonesia yang dihimpun almarhum Prof Dr Jebar Hapip,

“Memang, ada pula disusun dan diterbitkan oleh pemerintah, dalam hal ini Balai Bahasa Kalimantan Selatan. Saat ini, Balai Bahasa Kalsel telah menyusun empat kamus,” ucap Anasabiqatul Husna kepada jejakrekam.com, Sabtu (13/7/2019).

Di antaranya, Balai Bahasa Kalsel menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia-Banjar Dialek Kuala, Bahasa Banjar Hulu-Indonesia, Bahasa Indonesia-Dayak Deah, Bahasa Indonesia-Dayak Halong.

Lantas, apakah ada rencana membuatkan kamus Bahasa Berangas? Perempuan yang akrab disapa Ana ini menjawab ada. Hanya saja, belum terealisasi. Apalagi, beber dia, timnya sudah mulai mengumpulkan kosakata Bahasa Berangas, namun lantaran ada perubahan kebijakan, kegiatan ini pun tidak berlanjut lagi.

“Saat ini, Balai Bahasa Kalsel lebih fokus pada pengumpulan kosakata dan istilah yang akan diusulkan untuk masuk ke dalam KBBI,” kata Ana.

BACA JUGA : Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya dengan Karya Sastra

Apakah tidak ada lagi untuk pembuatan kamus? Ana menjawab, tetap ada. Ia menjelaskan saat ini tetap mencoba mengumpulkan kosakata untuk kamus, saat pengumpulan data kosakata ke KBBI.

“Tapi ini memakan waktu yang lebih lama karena satu waktu dua kerja. Tentunya, masih banyak tugas yang harus dilakukan terkait penyusunan kamus. Selain masih perlu diterbitkan kamus-kamus baru. Kamus bahasa daerah yang ada pun sangat perlu revisi dan penambahan kosakata,” katanya.

Menurut Ana, bahasa itu sifatnya dinamis dan berkembang sesuai dengan kebutuhan penuturnya. Jika bahasa itu tidak ada perkembangan, atau malah mengalami kemunduran. Maka, bisa jadi bahasa itu akan mengalami kepunahan. “Ya, mudah-mudahan ada kesempatan untuk menyelesaikan kamus Bahasa Berangas,” ujarnya.

BACA LAGI : Digerus Bahasa Banjar, Penutur Bahasa Berangas yang Kian Langka

Bagi Ana, masyarakat Berangas pun hendaknya memiliki kesadaran untuk terus mempertahankan bahasa mereka. Sebab, kata dia, jika penuturnya sendiri enggan menggunakan bahasanya, sudah dipastikan bahasa tersebut akan punah. “Ini jelas. Sebab, bahasa itu muncul karena ada masyarakat penuturnya,” pungkas Ana.

Sementara itu, sosiolog antropolog FISIP Universitas Lambung Mangkurat Setia Budhi mengungkapkan di era kolonial Belanda, etnis Berangas terpisah dari suku Banjar, seperti Bakumpai, dan Dayak Ngaju. “Berangas itu berdiri sendiri sebagai bagian dari subetnis Dayak Ngaju. Memang, dari kosakata, Bahasa Berangas itu lebih dekat dan masuk rumpun Bahasa Dayak Ngaju,” tutur Setia Budhi.(jejakrekam)  

 

 

Penulis Arpawi
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.