Dirgahayu

Oktober 2019, Proyek Bandara Internasional Syamsudin Noor Rampung

PROYEK jumbo PT Angkasa Pura I senilai Rp 2,3 triliun untuk menyulap wajah Bandara Syamsudin Noor ditarget rampung pada Oktober 2019. Hingga Mei 2019, progress fisik bandara bertaraf internasional dengan arsitektur intan itu telah mencapai 70 persen.

ADA dua megaproyek yang digarap di kawasan Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru itu adalah pembangunan apron timur seluas 80,4 ribu meter persegi (m2), akan mampu didarati delapan pesawat serta menampung 16 pesawat di atas apron seluas 129,8 ribu m2.

Sedangkan untuk bangunan terminal saat ini 9,2 ribu m2 dikembangkan menjadi 65,2 ribu m2 pada tahap satu. Dilanjutkan dengan pengembangan tahap dua menjadi seluas 108 ribu m2 yang mampu menampung 12 juta penumpang per tahun. Termasuk, areal parkir roda dua dan roda empat.

BACA : Dampak Tiket Mahal dan Bagasi Berbayar, Sejumlah Layanan Jasa di Bandara Gigit Jari

Jika sebelumnya, seluas 4.579 m2 dengan daya tampung 470 kendaraan roda empat dan 240 roda dua, diperluas menjadi 34.360 m2 untuk parkir roda empat dengan daya tampung 1.524 unit dan parkir roda dua di atas lahan seluas 2.420 m2 dengn kapasitas 720 unit.

Staf Khusus Gubernur Kalsel Taufik Arbain mengungkapkan untuk pembangunan bandara internasional di Bandara Syamsudin Noor sudah mencapai 70 persen. “Insya Allah, akan rampung Oktober 2019 mendatang. Jadi, proyek ini bukan sekadar fisik dengan desain infrastruktur fungsional dan estetis, namun juga nantinya menunjukkan kelas Bandara Syamsudin Noor,” ucap Taufik Arbain kepada jejakrekam.com, Selasa (4/6/2019).

BACA JUGA : Terminal Baru Bandara Tjilik Riwut Habiskan Anggaran Rp 700 Miliar

Pria yang juga termasuk tim pemantau proyek bandara ini mengungkapkan dari desain dan maket Bandara Syamsudin Noor nantinya akan dilengkapi taman dengan dana indah, hotel hingga mall serta areal parkir sehingga bisa menampung 7 juta penumpang per tahun.

“Kita berharap jika Bandara Syamsudin Noor ini rampung, bisa mendorong bisnis pariwisata dan peluang bisnis lainnya di Kalsel. Tentunya, kebijakan makronya adalah harga tiket pesawat harus terjangkau, karenanya regulasi harus memihak rakyat,” tandas akademisi FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.(jejakrekam)

 

Penulis Syahminan
Editor Didi GS