Dirgahayu

Dermaga Muara Bahan dan Kisah Para Pemburu Rempah (1)

Foto : Jepara.blogspot.com

BANDAR perdagangan era Kerajaan Negara Daha (1478-1526), awalnya berada di Muara Rampiau (Desa Marampiau, Kecamatan Candi Laris Selatan) dipindah ke Bandar Muara Bahan (Marabahan, Kabupaten Barito Kuala),  tergolong sibuk ketika misi perburuan rempah dari para pelaut dunia menyapanya.

DI ERA Kerajaan Negara Daha dengan empat raja dari Dinasti Suryanata, yakni Raden Sekar Sungsang, Raden Sukarama (kakek dari Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah, Raja Banjar pertama), Raden Paksa atau Pangeran Mangkubumi dan raja terakhir, Raden Panjang bergelar Pangeran Tumenggung, Bandar Muara Bahan menjadi pusat perdagangan rempah dan hasil bumi Kalimantan yang ramai.

Dari hasil riset yang dilakukan Setia Budhi Ph.D, sosiolog dan antropolog FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengungkap Bandar Muara Bahan, sebelum kelahiran Bandarmasih, cikal bakal Kesultanan Banjar merupakan salah satu rute perdagangan internasional dalam misi perburuan rempah dunia.

Setia Budhi mengutip sejumlah referensi seperti Giles Milton dalam Nathaniels Nutmeg (1999) yang diterjemahkan dengan “Pulau Run” (Juni 2015), Jack Turner juga menulis “Para Pencari Rempah” dalam Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme. Pembahasan mengenai “Cita Rasa yang Melayarkan Ribuan Kapal”.

“Dari buku ini mengungkap asal muasal mengarungi sejarah rempah itu sendiri.  Seperti juga ditulis sejarawan lainnya, Aksara (2017). Dalam buku itu, Jack Turner menulis, “setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah-rempah, berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki. Karena semuanya itu tidak muncul begitu saja, saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya,” kata Setia Budhi kepada jejakrekam.com, Minggu (3/2/2019).

BACA :  Etnis Bakumpai Lebih Dulu Menganut Islam Dibanding Masyarakat Banjar

Tulisan Jack Turner mengutip surat perjalanan ketiga sang penjelajah Eropa, Christoper Columbus, ditulis di Jamaika, 7 Juli 1503. Menurut Setia Budhi, dari sini, ribuan kapal melepas jangka dan berlayar ke berbagai belahan bumi, bukan hanya menyangkut masalah kolonialisme.

“Pada abad ke-15, Eropa tengah mengalami masa Renaissance,  sebuah kapal Portugis dipimpin Vasco da Gama mendarat di Kalkuta, dan masyarakat Eropa mulai terbuka mata terhadap rahasia rempah-rempah. Selama ribuan tahun perdagangan rempah-rempah merupakan perdagangan tidak langsung dengan banyak penghubung sehingga masyarakat Eropa tidak mengetahui darimana asal rempah-rempah tersebut,” papar Setia Budhi.

Antropolog jebolan Universitas Kebangsaan Malaysia ini mengungkapkan ketika itu permintaan terhadap rempah-rempah sangat tinggi, sementara pasokannya dikontrol ketika Islam menguasai Syiria, Persia dan Jazirah Arab. Perdagangan rempah ketika dikuasai para pedagang Arab.

Hal ini berkelindan dengan catatan sejarah bahwa sejak 2600 SM, Mesir sudah mengimpor rempah-rempah untuk memberi makan pekerja Asia mereka yang sedang membangun piramida agar punya lebih banyak tenaga. “Cengkeh juga sudah agak populer di Syiria sekitar waktu itu, tanaman yang hanya terdapat di satu pulau di Nusantara,” ucap Setia Budhi.

Menurut dia, di Eropa sendiri, rempah-rempah digunakan untuk pengawetan makanan. Panen yang gagal, makanan yang mulai rusak, hanya bisa dimakan jika diberi garam dan merica yang banyak.

“Pada tahun 408, kaum Visigoth meminta tebusan emas, perak dan merica agar mereka menghentikan mengepung Roma. Sebuah daftar harga abad ke-14, memperlihatkan harga satu pon pala adalah senilai tujuh ekor lembu gemuk,” beber Setia Budhi.

BACA JUGA :  Ulek Sungai Barito dan Denyut Kehidupan Masyarakat Bakumpai

Nah, menurut dia, peran pedagang Arab sebagai perantara perdagangan komoditas rempah ini ke Eropa. Sedangkan, orang-orang Eropa tidak mengetahui asal muasal rempah-rempah.

Hal ini terbukti, pada abad ke-5 SM, Herodotus menerima kisah pedagang Arab yang mengatakan bahwa kayu manis berasal dari pegunungan di Arabia. “Cerita ini jelas mengalihkan perhatian terkait  perang pemburu rempah di wilayah Asia,” kata Setia Budhi lagi.

Ia menjelaskan ketika Turki jatuh ke Ottoman pada 1453, mereka menutup jalur rempah-rempah yang biasa dilalui Arab ke Venesia, sehingga perdagangan harus melalui Mesir yang menaikkan pajak rempah-rempah sampai 30 persen.

“Kelaparan akan rempah-rempah yang dimonopoli pedagang Mesir dan Venesia ini memaksa para raja-raja Eropa untuk mendanai kapal-kapal untuk berburu rempah-rempah langsung ke India. Sebetulnya secara khusus perjalanan diarahkan ke Selat Malaka, sebuah pusat perdagangan rempah-rempah dan konon gerbang menuju sebuah pulau rempah-rempah,” bebernya.

BACA LAGI :  Islamisasi Tanah Banjar dan Gagalnya Raden Sekar Sungsang Dirikan Kerajaan Islam

Menurut Setia Budhi, pembiayaan perjalanan ini sangat berisiko karena hanya setengah dari kapal-kapal tersebut yang bisa kembali.  Dari sini, akhirnya bangsa Erpa meyakini siapapun yang menguasai Malaka akan memegang tenggorokan Venesia.

Ketika penjelajah Portugis datang ke Lisbon dari India dengan membawa banyak rempah-rempah, Venesia dan Mesir tertegun, harga lada di Lisbon turun sampai seperlima harga di Venesia.

Dari analisis itu, Setia Budhi mengatakan pergerakan Ottoman pada 1453 dan sesudahnya itu dimungkinkan juga merembes ke Nusantara dengan menggunakan jalur perdagangan. “Jadi, merebut takhta rempah tidak hanya di kawasan Timur tetapi juga lego jangkar di Muara Sungai Barito yang mengiris pelabuhan Bandarmasih dengan wilayah pedalaman,” ucapnya.

Dari sini, menurut Setia Budhi, tidak mustahil kurma menjadi bagian penting perdagangan Dinasti Ottoman ke Nusantara dan Bandarmasih.

“Hal ini ditopang adanya perayaan Ramadhan yang mengiringinya. Islam yang dipeluk penduduk setempat diiringi dengan permintaan terhadap buah kurma sebagai sajian berbuka puasa,” ucapnya.

Inilah mengapa, akhirnya orang-orang Yaman yang turut berburu rempah juga singgah ke Bandar Muara Bahan. Dari mereka inilah, akhirnya Islam dikenal penduduk Bandar Muara Bahan yang sebagian besar adalah etnis Bakumpai.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi