Ketika ‘Calap’ (Banjir) Mendera Kota, Siapa yang Salah (4-Habis)?

MODEL drainase yang hanya mengandalkan gaya gravitasi untuk memperlancar air mengalir, jelas tak efekif bagi Kota Banjarmasin. Kondisi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ini sangat luas, sehingga untuk skala kota perlu model yang tepatguna. Model drainase yang saling terkoneksi dan berpola zonasi kawasan lebih ideal.

SECARA topografi, Kota Banjarmasin jelas bermasalah dengan air. Nah, jika model drainase mengandalkan gaya gravitasi akan menjadi potret dari kegagalan mengali potensi sungai sebagai salah satu kearifan lokal. Semestinya, posisi sungai yang membelah dan mengeliling Kota Banjarmasin bisa mendukung pertumbuhan kota ke depan , terutama dari segi mengatur sirkulasi air.

Anak sungai baik yang dibentuk oleh alam ataupun buatan (kanal), sejak zaman dulu dipertahankan sebagai jalur tol air. Bahkan, dikembangkan oleh nenek moyang dan kaum penjajah, faktanya justru dibiarkan menyempit, hilang dan dimatikan dengan sengaja. Kesengajaan dengan membiarkan produk pembangunan mengalahkan kepentingan lingkungan.

BACA :  Ketika ‘Calap’ (Banjir) Mendera Kota, Siapa yang Salah (1)?

Cermati saja, bagaimana Jalan Achmad Yani dan Jalan Veteran sampai Kuripan yang dulu diapit sungai, sekarang sudah punah. Yang tersisa hanya untuk buangan air limbah kotor. Ironis memang. Sungai berubah menjadi drainase yang kadang kala mengeluarkan bau sangat tidak nyaman.

Nah, bila pemahaman para pengambil kebijakan ataupun mungkin pihak teknis dari Balai Kota masih menganggap sepele ikhwal air  melalui cara penanganan yang parsial dan tidak komprehensif, bisa dipastikan ke depan akan muncul masalah besar.

BACA JUGA :  Ketika ‘Calap’ (Banjir) Mendera Kota, Siapa yang Salah (2)?

Kota Banjarmasin akan menjadi kota yang tidak nyama. Kota ini akan diserbu curahan air, ketika musim hujan dan bahkan ketika air pasang.

Mari kita ilustrasikan, bila terjadi kenaikan muka air laut akibat pemanasan global dan kemudian sisi lain kondisi sungai semakin banyak menyempit, dengan endapan yang tinggi. Juga anak-anak sungai banyak yang mati, maka tentu daya tampung sungai semakin rendah.

Tentunya, air laut saat pasang akan semakin jauh masuk ke arah hulu sungai dengan volume yang lebih besar dibanding tempo dulu. Ini ujungnya akan mempengaruhi kondisi air yang tertampung di Sungai Barito dan Sungai Martapura.

BACA LAGI :   Ketika ‘Calap’ (Banjir) Mendera Kota, Siapa yang Salah (3)?

Air masuk akan semakin banyak dan sisi lain anak-anak sungai sebagai pembagi atau pemecah alur air juga sudah hilang. Dampaknya, kenaikan pasang akan melewati muka daratan. Tentu secara otomatis akan membuat banyak genangan.  Kemudian ditambah dengan semakin hilangnya area resapan air dipastikan segaris lurus memunculkan masalah. Ini karena air yang tergenang sulit untuk mencari jalan untuk mengalir jauh.

Aspek penting yang saat ini sangat jarang diperhatikan dalam menata pola drainase adalah kondisi permukaan daratan terendah Kota Banjarmasin terhadap permukaan air laut. Kalau dulu ada di kisaran 17 centimeter di bawah muka air laut, maka kondisi saat ini perlu ditegaskan pada ketinggian minus berapa.

BACA LAGI :  Denyut Kota Kanal Warisan Belanda yang Terabaikan

Mungkin saja, saat ini kondisinya sdh jauh di atas angka 17 centimeter akibat dampak dari pemanasan global dan endapan atau pengecilan badan sungai.

Bahkan, bisa saja kondisi saat ini mencapai kisaran posisi 30 centimeter dibawah muka air laut. Indikatornya sangat sederhana. Lihatlah pergerakan dari air asin yang sudah semakin jauh masuk ke hulu sungai. Ini salah satu satu contoh yang menunjukkan indikasi kian rendahnya daya tampung sungai.

Salah satu pirantinya adalah unit pengolahan air PDAM Bandarmasih atau intake di kawasan yang dulu maksimal bisa digunakan sekarang sudah tidak maksimal. Terutama, terkait kondisi ketersedian air baku, dan terpaksa dialihkan atau dibuat penambahan ke area hulu. Ini wujud dari adanya dampak perubahan kondisi tersebut.

Dari hal ini, untuk menuntaskan persoalan genangan air tidakterkait drainase saja, bukan itu inti persoalan. Inti utama adalah terletak pada tiga hal utama tadi. Hal kondisi muka air laut atau pengaruh pemanasan global, lalu berkelindan dengan kondisi sungai dan terakhir masalah area resapan air.  Jadi, untuk menata drainase di Kota Banjarmasin supaya bisa berfungsi secara tepatguna maka ketiga aspek tersebut, harus dikaji secara teliti dan dilakukan pembenahan.

Bila ketiga aspek ini tidak disikapi, maka sangat muskil sistem drainase bisa maksimal. Ujung-ujungnya, genangan, calap atau banjir akan menjadi langganan rutin. Bisa jadi, akhirnya akan menjadi bencana bagi Kota Banjarmasin.(jejakrekam)

Penulis adalah Ketua LPJK Provinsi Kalimantan Selatan

Arsitek di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalsel