Mengenang Zafry Zamzam, Ulama Banua yang Multitalenta

ZAFRY Zamzam adalah panggilan Tuan Guru H Zamzam. Lahir pada 15 September 1918 di Kampung Sirih, Simpur, Kandangan, Kalimantan Selatan, dari pasangan suami-isteri Zamzam dan Ijum. Zafry Zamzam merupakan anak tertua dari 5 bersaudara yakni Tuhalus (Ibut), Mukri (Ganal), Abbas (Itai), Jumrah (Galuh) dan Utuh (Lamak). Semuanya bekerja sebagai petani, hanya beliau yang tidak bekerja sebagai petani, terus sibuk dengan dunia pendidikan beliau, perjuangan, dakwah, jurnalistik dan birokrasi.

NAMUN, beliau tak lupa tetap mengabdi untuk masyarakat dan kemajuan daerah. Pada awalnya, nama beliau Muhammad Djaperi dan kemudian mengalami perubahan menjadi Zafri Zamzam, suatu perubahan yang tidak diketahui kapan berubah dan apa sebab-musabab perubahan itu?

Pada tahun 1937, beliau menikah dengan seorang gadis dari daerah beliau sendiri bernama Kustaniyah. Dari pernikahan itu melahirkan putera-puteri sebanyak 11 orang, yaitu, Fauzy Zamzam, Fahmy Zamzam, Fadjry Zamzam, Huriah Zamzam, Fadly Zamzam, Naimah Zamzam, Fachry Zamzam, Fitri Zamzam, Fiqhy Zamzam, Rahimah Zamzam dan Fathullah Zamzam. Beliau tinggal menetap di rumah Jalan A. Yani Barat No. 1A.

Awalnya beliau bersekolah di Desa Kelumpang dan menamatkan Sekolah Rakyat (Volkschool dan Verorschool), pada tahun 1925. Kemudian beliau melanjutkan ke Sekolah Guru Desa (Cursus Volks Orderwijzer) di Kandangan dan tamat pada tahun 1930. Setelah menamatkan Sekolah Rakyat beliau juga sempat belajar di Madrasah Islam di Kandangan.

Pada tahun 1935, beliau melanjutkan pelajaran ke Pondok Darussalam, Martapura dan pada tahun 1937 memasuki Kweekschool Islam PP Gontor, Ponorogo. Keinginan beliau untuk menambah ilmu melalui institusi pendidikan tak berjalan dengan mulus, tidak membuat beliau patah semangat bahkan justru semakin menyala-nyala untuk mengikuti perkuliahan tertulis.

Pada tahun 1955 beliau mulai mengikuti kuliah tertulis pada Fakultas Hukum & Politik Universitas Madjapahit, Jakarta.  Kemudian pada tahun 1960 beliau mengikuti kuliah tertulis pada Fakultas Hukum & Pengetahuan Masyarakat , Universitas Bhinneka Tunggal Ika, Bandung. Hampir pada tahun bersamaan, beliau juga mengikuti kuliah tertulis pada Fakultas Hukum & Ekonomi, Balai Perguruan Sriwijaya, Yogyakarta.

BACA : Menghidupkan Kembali Sungai Tuan, Menjaga Warisan Datu Kalampayan

Kehidupan beliau yang selalu berpindah-pindah mengikuti tugas yang dipikul beliau. Dari tahun 1938 hingga tahun 1943, beliau berpindah-pindah dari Kandangan ke Banjarmasin, terus ke Kelua, Tanjung Redeb, Sampit dan Alabio bertugas sebagai guru/muballig dari Musyawaratut Thalibin, Nahdlatul Ulama (NU) dan Komisaris Daerah Partai Islam Indonesia (KDPII).

Sejak tahun 1943 beliau kembali ke Kandangan dan menjadi guru pada Sekolah Rakyat Negeri Jenjang 6 Tahun di Kota Kandangan. Pada tahun 1945 beliau diangkat sebagai Kepala Bagian Penerangan Pemerintah Wilayah Hulu Sungai dengan Kepala Klerk. Kemudian pada tahun 1947 beliau diangkat menjadi Ketua Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Pada tahun 1948, beliau menjadi Anggota Dewan Daerah Banjar, berkedudukan di Banjarmasin, sekaligus ditunjuk oleh kawan-kawannya sebagai ketua PWI pertama di Kalimantan Selatan. Dalam kurun waktu tahun 1940 dan 1953 beliau ditugaskan sebagai Kepala Jawatan Penerangan Daerah Hulu Sungai, menjadi anggota BPD dan kemudian anggota DPR Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Pada tahun 1954 dan 1963 beliau menjadi anggota DPRDS Kabupaten Hulu Sungai Selatan, lalu pindah ke Banjarmasin menjadi Kepala Jawatan Penerangan Kalimantan Selatan serta merangkap menjadi Kepala PN Percetakan Negara di Banjarbaru. Pada tahun 1960, beliau ditetapkan menjadi MPRS di Jakarta. Pada tahun 1961 diserahi tugas sebagai Dekan Fakultas Publisistik, Banjarmasin.

Kemudian dari tahun 1964 sampai 1972 beliau diangkat Menteri Agama sebagai Rektor IAIN (sekarang UIN) Antasari, Banjarmasin sekaligus merangkap menjadi Pj. Dekan Fakultas Tarbiyah dari tahun 1967 sampai dengan tahun 1971. Setelah tugas beliau sebagai Pj. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari, Banjarmasin selesai, pada tahun 1971, beliau melanjutkan tugas yang awalnya sebagai Lektor Kepala dalam mata kuliah Ilmu Dakwah.

Pada tanggal 2 September 1960, atas keputusan Departemen Penerangan RI Jakarta, beliau meninggalkan Banjarmasin menuju Jakarta, selanjutnya bergabung dengan rombongan Departemen Penerangan lainnya menuju Amerika Serikat selama 3 bulan atas undangan Pemerintah Amerika Serikat. Hasil perjalanan ke Amerika Serikat itu beliau tulis secara berseri dalam Surat Kabar di Banjarmasin dengan judul “Kisah Kelana ke Amerika. Banyak hasil karya beliau, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Sebagai Ulama Juru Dakwah.

Berangkat dari ihwal di atas, beliau bisa dikatakan ulama multitalenta, bukan saja sebagai ulama yang berwawasan luas, tapi juga intelektual yang cerdas, aktivis yang idealis, pejuang yang sangat berani, jurnalis yang kritis plus heroik, birokrat yang sederhana dan muballig yang pantang menyerah.

Mujiburahman (Rektor UIN Antasari, sekarang) mengatakan beliau dalam skala kecil dapat dibaca sebagai adicerita Islam di masyarakat Banjar pada masa perjuangan kemerdekaan hingga awal Orde Baru. Beliau adalah tokoh Islam yang mengalami pendidikan tradisional sekaligus pendidikan moderen.

Beliau berkiprah sebagai guru, penulis, wartawan, pejuang, pendakwah ahli hukum hingga menjadi Rektor IAIN Antasari yang pertama, semua cerita hidup beliau, ini kiranya dapat dibingkai menjadi sebuah adicerita tentang upaya memadukan keislaman, keindonesiaan dan kemoderenan di Kalimantan Selatan.

BACA JUGA : Lepas dari Bias, Hidupkan Jalan Kontroversial Datu Abulung di Atas Pentas

Hal ini sejalan dengan catatan dokumen beliau, bahwa tokoh yang beliau kagumi adalah Soekarno dan HAMKA, Soekarno mewakili keindonesiaan dan HAMKA mewakili keislaman dan kemoderenan. Akhirnya, entah kebetulan atau karena hukum daur ulang sejarah, beliau sebagai Rektor pertama IAIN Antasari, Banjarmasin, mempunyai banyak kesamaan dengan Rektor UIN Antasari, Banjarmasin, sekarang Prof Dr H Mujiburahman MA, yakni sama-sama diangkat sebagai Rektor pada usia 46 tahun dan diangkat oleh Menteri Agama dari keluarga yang sama yakni masing-masing dilantik oleh KH Saifuddin Zuhri dan anaknya H Luqman Saifuddin. Kesamaan lainnya adalah sama-sama ulama yang berwawasan luas dan suka menulis serta senang publikasi di koran.

Ini suatu rahasia Allah yang mungkin di balik itu semua, banyak mengandung hikmah yang mesti digali, dicari dan diraih oleh seluruh civitas academica UIN Antasari, Banjarmasin. Rektor pertama IAIN Antasari, Banjarmasin ini, meninggal dunia di Banjarbaru pada tanggal 23 Desember 1972 dalam usia masih muda 54 tahun. Allah Yarham.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah UIN Antasari Banjarmasin

Peneliti dan Staf Senior LK3 Banjarmasin