Yang Bertahan di Tapal Batas: Wajah Muram Praktik Perkebunan Sawit Banua

TUNTAS dengan film dokumenter Bara di Bongkahan Batu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel bersama Padma Borneo Raya merilis karya terbaru berjudul Yang Bertahan di Tapal Batas. Jika sebelumnya menguak praktik buruk pertambangan Kalimantan Selatan, karya kali ini menampilkan wajah muram geliat perkebunan kelapa sawit Banua.

PEMUTARAN film Yang Bertahan di Tapal Batas secara perdana digelar di Auditorium Mastur Jahri UIN Antasari, Senin (5/11) malam. Karya ini diputar sekaligus dalam rangka perayaan Aruh Film Kalimantan 2018 yang dicetus oleh Forum Sineas Banua (FSB), lewat program yang diberi nama Lestari.

Dokumenter besutan sutradara Budi Kurniawan ini menceritakan bagaimana masyarakat masih bisa bertahan di tapal batas. Meski harus terkepung oleh ekspansi perkebunan sawit. Dua contoh lokasi yang ditampilkan dalam sinema ini adalah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Hulu Sungai Utara (HSU), padahal dua daerah rawa gambut ini terkenal dengan potensi lokalnya.

Diisi dengan sesi diskusi, Direktur Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono yang langsung jadi pembicara. Menurutnya menyebut film ini semata-mata untuk menegaskan masyarakat bahwa Kalimantan Selatan sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.

“Ada beberapa scene di film yang menampilkan wilayah-wilayah yang masih bertahan. Walaupun hak guna usaha (HGU) memang sampai ke situ, tetapi, masyarakat masih bisa bertahan karena mereka tidak mau perkebunan sawit masuk ke desa mereka” tuturnya.

Ambil contoh terkepungnya wilayah Distrik Negara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Alih-alih mengembangkan potensi lokal seperti semangka atau gumbili (ubi) nagara, pemerintah kabupaten malah terus menambah luasan perkebunan perkebunan sawit, meski masyarakat terus menolak.

Ditambahkan Kisworo, menjamurnya perkebunan kelapa sawit Banua sendiri sudah membuat Kalimantan Selatan mengalami status darurat ruang. Dilihat dalam data Walhi Kalsel, 17 persen wilayah Kalsel sudah ditindih oleh perkebunan monokultur alias sawit. Sementara, 33 persen wilayah lainnya sudah dikuasi pertambangan batu bara.

“Artinya sisa 50 persen. Jangan tambah izin baru lagi. Kelola yang sudah ada. Lakukan pengembangan potensi lokal. Jangan selalu mendatangkan investasi yang akan selalu mengancam ruang hidup rakyat” tegas Cak Kis, sapaannya.

Didatangkan langsung dari Distrik Negara, petani Desa Baruh Jaya, Bakri menyebut film ini cuma sepotong kisah dari apa yang terjadi sebenarnya jika Anda berkunjung ke lapangan. “Lebih ngeri lagi kalau langsung melihat kondisinya,” tutur petani semangka Nagara ini kepada jejakrekam.com

Bakri memberikan contoh, sebelum hadirnya perkebunan sawit, kualitas kesejahteraan masyarakat Nagara masih boleh dibilang aman. Namun, setelah adanya gempuran perkebunan monokultur, kehidupan berubah anjlok.

“Dulu, dengan 4 hektare lahan, mampu menyekolahkan anak, memondokkan anak pesantren sampai lulus. 2010, ditabrak oleh perusahaan, akhirnya lokasi lahan beliau terputus oleh perusahaan. Akses terputus, hasil panen terganggu. Lahan dijual tidak mempunyai tanah lagi untuk bertani,”
ceritanya.

Upaya perlawanan pun terus ditempuh untuk mempertahankan tanah. Utamanya, menolak ketika ditawari iming-iming besar ketika tanah yang mereka tempati ditawar oleh pihak perusahaan. “Intinya, alat produksi kami yang utama adalah tanah. Jika itu hilang, habislah segalanya,” tandasnya. (jejakrekam)

Penulis Donny Muslim
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat
Loading...