Menengok Pembuatan Gelang Simpai, Hasil Olah Tangan Kreatif Dayak Meratus

KERAJINAN gelang Simpai hasil olah tangan khas Dayak ditampilkan dalam stan #SaveMeratus yang ikut nimbrung dalam pagelaran Religi Expo 2018, di Eks Kantor Gubernur Kalsel, Jalan Jenderal Sudirman, Jumat (2/11/2018). Dikerjakan oleh anak-anak muda, salah satu kearifan lokal masyarakat pegunungan Kalsel ini sangat dijaga oleh mereka dari pesatnya arus zaman.

DUDUK lesehan di stan #SaveMeratus, tangan Muhammad Hamidi terlihat cekatan membuat sebuah gelang penuh motif. Anak muda asal Pegunungan Meratus, Desa Batu Ampar, Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten HST lazim menyebutnya dengan gelang simpai.

Tak sekadar memamerkannya di stan, Hamidi menceritakan dua tahun terakhir dirinya memang menggeluti usaha kerajinan pembuatan gelang ini. “Dalam sehari saya bisa membuat 5-10 gelang ,satu gelang memakan waktu sekitar 5-10 menit,” cerita Mahasiwa Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) semester tujuh ini kepada jurnalis jejakrekam.com, Sabtu (03/11/2018).

Diceritakan Hamidi, di kampung kelahirannya, bahan baku gelang simpai terbuat dari tumbuhan paku. Bahan ini memang tadinya tidak khusus untuk dibuat gelang, tetapi karena saran dari banyak orang, dia akhirnya mencoba-coba membuatnya sendiri. “Tumbuhan paku kalau di kampung kami untuk melilit tangkai mandau atau tangkai parang. Juga digunakan untuk melilit sarungnya,” ujarnya.

Foto: Istimewa

Harga satu buah gelang simpai sendiri punya nilai jual yang tak sedikit. Untuk ukuran kecil, bisa dipatok dengan harga Rp. 30 ribu. Sementara, bagi pembeli yang menginginkan ukuran yang lebih besar bisa dijual dengan harga Rp. 50 ribu. Tergantung dari lebar Gelang Simpai. “Selama expo ini saja kami sudah menghasilkan sekitar Rp. 500 ribu. Menguntungkan,” bebernya.

Salah seorang pembeli gelang simpai, Abdurrahman mengatakan kepincut gelang ini karena tertarik dengan motif bentuknya yang bisa dibilang unik.

“Khas sekali, apalagi ini merupakan hasil olah tangan masyarakat Dayak Pegunungan Meratus. Kita harus mendukung mereka untuk mandiri dalam perekonomian, meski dari sektor ekonomi kreatif kecil-kecilan begini. Bukan malah dibiarkan tergiur dengan tambang atau sawit,” tegas warga Hulu Sungai Tengah, yang kebetulan mengunjungi gelaran Religi Expo ini. (jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Fahriza
Anda mungkin juga berminat
Loading...