Cerita Bioskop Ratna dan Pasar Blauran, Kenangan Tersisa Warga Banjarmasin

Foto : Didi GS

HIBURAN rakyat yang berbandrol murah, sepertinya agak sulit didapat lagi di Banjarmasin. Sejak berdirinya pusat perbelanjaan modern, plus tempat hiburan malam (THM), kini yang tersisa hanya kenangan bagi warga yang telah menginjak usia kepala 50 hingga 60 tahun. Banyak bangunan atau tempat yang dulu pusat keramaian, telah berubah 180 derajat.

SEPERTI yang kini dirasakan Hj Latifah. Warga yang sempat bermukim di kawasan Jalan Pangeran Samudera, dekat pusat Pasar Sudimampir, Pasar Cempaka dan Pasar Niaga ini, merasakan denyut hiburan malam merakyat seakan telah lenyap di era sekarang.

“Dulu, di kawasan ini (Jalan Brigjen Katamso), hingga Pasar Cempaka dan Pasar Niaga, kalau malam hari sangat ramai. Di sini menjadi pusat keramaian publik karena berada di kawasan Pasar Blauran,” kenang Hj Latifah yang kini menginjak usia 54 tahun kepada jejakrekam.com, Sabtu (8/9/2018).

Dia menyebut dua bioskop yang mengapit pusat keramaian Pasar Blauran, kini teronggok menjadi gedung yang beralihfungsi atau tak terpakai adalah salah satu bukti kejayaan masa itu.

“Dulu, di Pasar Blauran ini, ada dua bioskop yang jadi tontonan murah meriah. Ya, Bioskop Ratna dan Bioskop Cempaka,” kata wanita yang kini tinggal di Manarap, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar ini.

Ia mengungkapkan dulunya, kawasan Pasar Blauran terkenal dengan sang juragan tanah H Abdat. Hingga akhirnya, kawasan itu dikenal dengan sebutan halaman Abdat. Seorang warga Banjarmasin keturunan Arab yang dikenal kaya raya.

Sementara, pusat keramaian lainnya seperti bioskop  kebanyakan dimiliki seorang pengusaha Tionghoa. Mafhum, kawasan Cempaka dan Niaga, memang merupakan salah satu perkampungan dan pusat pertokoan yang dihuni warga Tionghoa. Hal ini dibuktikan dengan masih kokohnya berdiri Kleteng  atau Tempekong Po An Kiong. Pusat peribadatan umat Konghucu, Buddha dan Tao ini persis berada di ‘hok’ atau pertigaan Jalan Niaga dan Jalan Brigjen Katamso.

“Waktu itu, saya masih anak-anak. Jadi, sering bermain dan berbelanja ke Pasar Blauran. Kan, rumah ayah saya berada di belakang pasar ini,” kata putri mantan Imam Masjid Noor, H Darham ini.

Hj Latifah menyebut keramaian Pasar Blauran makin kalah saingan dengan hadirnya Pasar Tungging di kawasan Belitung, Banjarmasin Barat. “Sekarang, Pasar Blauran tak seramai dulu. Apalagi, sekarang tak ada lagi bioskop, jadi pengunjung tentu akan malas,” ucap ibu yang sehari-hari memimpin majelis maulid ini.

Kenangan lawas ini juga dirasakan Kasful Anwar. Pria yang lahir di tahun 1964 ini, mengakui dari cerita yang ada, bangunan yang kini jadi gedung parkir sepeda motor di Jalan Brigjen Katamso adalah eks Bioskop Ratna.

“Waktu pemberontakan G30S/PKI, bangunan ini kemudian dikuasai tentara. Makanya, sekarang jadi milik Korem 101/Antasari,” kata Kasful Anwar.

Dia tak menepis dulu di tahun 1960 hingga 1990-an, jelang memasuki tahun 2000, ketika industri perfilman nasional masih merajai pasar dalam negeri, bermunculan bioskop berkantong tipis. Sebut saja, Bioskop Merdeka di kawasan Pasar Lama, Bioskop Cempaka dan Ratna yang berada di Pasar Niaga dan Cempaka, serta Bioskop President, Ria, dan lainnya yang berada di  kawasan Pasar Sudimampir.

“Pendeknya, dulu malam hari di  Banjarmasin sangat hidup. Habis berbelanja di pasar, bisa langsung nonton. Pilih bioskop yang murah atau mahal, tinggal menuju ke tempatnya,” kata Kasful Anwar.

Ia bercerita walau ketika itu sudah berdiri Mitra Plaza dengan Bioskop 21, namun pamor sekelas Bioskop Cempaka dan lainnya masih tetap tak meredup. Menurut dia, kemajuan teknologi memang tak bisa dihindari, ketika industri perfilman diserbu rekaman berbentuk CD, VCD dan kini sudah bisa menonton film di internet.

Sekarang, bangunan eks Bioskop Ratna telah menjadi gedung parkir sepeda motor. Di depan bangunan tertulis Primer Koperasi Angkatan Darat (Primakopad) Korem 101/Antasari, menutup bangunan dulu berfungsi sebagai pusat perkantoran. Bahkan, tulisan Kalimantan Tenggara, masih samar-samar terlihat di depan gedung.

Sementara, kayu balok besar yang kokoh tampak masih kuat menyangga bangunan lawas ini. Bentuknya pun terbuka, layaknya sebuah arena bioskop. Untuk ruang mesin pemutar film juga masih terjaga, meski sudah termakan usia. “Kayu-kayunya besar. Dulu, di tempat ini alat pemutar film itu ditaruh,” ucap Kasful Anwar, seraya menunjuk bagian dari bangunan tua itu.

Dalam buku Sedjarah Kota Bandjarmasin yang ditulis Artun Artha (1970), digambarkan bahwa ibukota Provinsi Kalsel ini memang sangat kekurangan tempat hiburan rakyat. Menurut Artum Artha, sejak era Walikota Banjarmasin Burhan Afhanie, Hadji Hoerman hingga Hanafiah, sudah diusahakan agar kawasan Banjar Raya menjadi pusat hiburan rakyat yang murah.

Namun dengan keterbatasan dana, akhirnya rencana itu pun urung. Artum Artha yang juga mantan Ketua DPRD Kotamadya Banjarmasin ini pun menulis soal rencana membangunan restoran terapung di Sungai Martapura depan Lapangan Merdeka (kini masuk kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin), juga belum terwujud.

Belum lagi, rencana pembangunan Museum Banjar yang digagas era Gubernur M Jamani, dan diteruskan Gubernur Abranie Sulaiman sebagai pusat hiburan dan edukasi, lagi-lagi belum bisa terealisasi.

Artum Artha yang juga seorang wartawan ini juga menulis beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda, serta dibangun di era kemerdekaan juga menghilang.  Dia menyebut  Toko H.J.Meyer diubah menjadi Balai Kota,  Toko Hennemann & Co, telah dihancurkan, termasuk Gedung De Javasche Bank disulap menjadi Bank Indonesia dengan gedung baru.

Adapula, Factorij N.V Bank menjadi Bank Umum, dan telah hilang dari tepi Jalan Lambung Mangkurat, dulu bernama Laan de Resident de Hans. Belum lagi, Toko N.A.B menjadi Balai Wartawan, hingga berubah bentuk lagi menjadi Hotel Batung Batulis, di bahu Jalan Sudirman yang dulu bernama Jalan Karel van den Heijden.

 

Masih mengutip data dari buku Artum Artha, pusat-pusat perbelanjaan rakyat juga gencar dibangun seperti Pasar Cempaka, Pasar Lama, dan Pasar Baru serta Pasar Sudimampir di tahun 1959, menggantikan bangunan-bangun lama era kolonial Belanda.

Mengenai hiburan tontonan rakyat, Artum Artha juga mendata banyaknya bioskop yang awalnya berkibar di era penjajahan dan kemerdekaan seperti Bioskop Rex menjadi Ria, Bioskop Roxi berubah nama jadi Bioskop Dewi, dan Bioskop Royal berganti jadi Bioskop Mawar serta bangunan lainnya.(jejakrekam)

 

 

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...