Nasib Meriam Kuno Warisan Benteng Tatas yang Makin Tak Jelas

Foto: Dokumentasi

MERIAM kuno berukuran 2,9 meter hasil temuan dari pengerjaan proyek Jalan Sudirman pada 2016 silam, ternyata dibiarkan tergeletak di halaman Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin.

MIRISNYA, meriam yang merupakan peninggalan era kolonial Belanda di Benteng Tatas, justru tak dimanfaatkan sebagai benda bernilai sejarah. Sementara, Walikota Banjarmasin Ibnu Sina tetap ngotot tak akan memindah meriam itu keluar dari ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

Ada opsi yang ditawarkan Ibnu Sina. Mantan anggota DPRD Kalsel ini menilai kawasan siring Sungai Martapura dianggap paling pantas menjadi wadah penempatan meriam. Sambil melestarikan benda peninggalan bersejarah, Ibnu Sina berharap bisa menjadi sarana edukasi masyarakat agar tak terlampau ahistoris.

“Kami sudah anggarkan dalam APBD Perubahan 2018 untuk pemindahan serta pemasangan meriam,” ujar Ibnu Sina. Hanya saja, letak persisnya belum pasti. Masih meraba-raba lokasi yang tepat.

Dia mengakui Pemkot Banjarmasin dan Balai Arkeologi Kalsel memang sempat tarik ulur soal nasib meriam yang menggantung. Para peneliti sejarah menginginkan diletakan di Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru. Pemkot Banjarmasin malah tak sepakat.  Namun, belum ada juga sikap sampai dibiarkan berlarut-larut sampai dua tahun berlalu.

Peneliti sejarah dari Lembaga Kajian Sejarah, Sosial, dan Budaya (LKS2B) Kalimantan, Mansyur mengaku sebenarnya sejak lama melayangkan surat rekomendasi untuk Pemkot Banjarmasin. Dilengkapi dengan sebundel penelitian independen dari lembaga studi miliknya.

“Daripada terus dibiarkan, kami memberikan rekomendasi tetap pertahankan saja di Kota Banjarmasin. Syaratnya harus dilestarikan dengan nilai-nilai arkeologis,” kata Mansyur kepada jejakrekam.com, Kamis (30/8/2018).

Selain meriam dengan tipe stronghold cannon, Mansyur sangsi meriam kuno ini menjadi temuan terakhir di kawasan Jenderal Sudirman yang dulunya menjadi Benteng Tatas. Anggapannya pasti masih ada benda-benda bersejerah lainnya yang bisa ditemukan serta dilestarikan.

Dari Fort Tatas, meriam ini dulunya dibeli oleh perusahaan dagang Belanda atau VOC dari perusahaan Carron Company asal Skotlandia. “Jadi jangan sampai dikelola secara sembarangan. Saya menyayangkan Pemkot Banjarmasin lamban memindah meriam ini,” pungkas Mansyur.

Sebelumnya, para pegiat sejarah tergabung dalam Lembaga Adat dan Kebudayaan Banjar (Lakban) yang dimotori Surya Adhi Said pernah membuat petisi untuk penyelamatan meriam Belanda itu. Sayangnya, petisi itu dikalahkan dengan megaproyek pembangunan akses jalan di kawasan depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin tersebut.

Menurut Surya Adhi Said, keberadaan Benteng Tatas atau Fort of Tatas di era kolonial Belanda tak bisa dipisahkan dengan sejarah Banjarmasin. Sebab, menurut dia, kawasan yang dulu dikenal sebagai Pulau Tatas merupakan milik Kesultanan Banjar dan kemudian dikuasai Belanda dalam sebuah perjanjian yang mengikat.

“Dari Benteng Tatas, tumbuh perkampungan yang dibagi berdasar etnis. Inilah yang menjadi cikal bakal Banjarmasin modern. Tak mengherankan, ketika itu dikenal dengan adanya Banjarmasin baru di kawasan Benteng Tatas di tepi Sungai Martapura dikenal dengan Tanah Gubernur Jenderal Belanda, dan Banjarmasin lama di kawasan Kuin Utara di tepian Sungai Barito merupakan Tanah Kesultanan Banjar,” tuturnya.

Dosen Fakultas Teknik Uniska Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary ini mengatakan keberadaan Benteng Tatas-kini telah berdiri megah Masjid Raya Sabilal Muhtadin- masih bisa dibuktikan dengan adanya Sungai Tatas, serta ditemukan meriam kuno tersebut. Ia pun mengajak agar masyarakat Kalsel khususnya Banjarmasin tak alergi dengan benda-benda peninggalan era kolonial Belanda.

“Ini penting bagi edukasi kepada masyarakat bahwa para pejuang Tanah Banjar saat melawan penjajah Belanda dengan persenjataan modern ketika itu, justru sangat heroik, walau dengan persenjataan sederhana. Untuk membuktikan hal itu, ya benda-benda seperti meriam bisa jadi bukti,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Arpawi
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...