Kenapa Saya Memilih DPR RI?

Oleh : Syaifullah Tamliha

BANYAK yang bertanya-tanya: Mengapa saya tetap maju menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), setelah sebelumnya sempat mendaftarkan nama untuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD)? Saya akan berusaha menjawabnya melalui tulisan ini.

PERTAMA harus diakui bahwa Pemilu 2019 akan menjadi Pemilu yang sulit. Ada berbagai perubahan aturan main yang signifikan. Perubahan timeline presidential threshold, parliamentary threshold, partai-partai yang berlaga,  metode konversi suara, serta pembagian kursi per dapil. Saya merasakan, sebagai negara yang berkembang, kita sepertinya masih mencari format terbaik bagi demokrasi kita.

Aturan main yang selalu berubah dalam politik menuntut setiap politisi harus terus menerus beradaptasi. Bagi saya yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia politik, hal ini sudah biasa.  Iklim dan cuaca dalam politik memang kerap berubah-ubah.  Politisi sejati biasanya diukur dari kualitasnya dan kapabilitas untuk bisa  menyesuaikan diri dalam cuaca yang tak menentu.

Saya harus merespons perubahan di depan mata dan melakukan prediksi. Untuk itu, saya melakukan kalkulasi politis yang variabelnya begitu banyak. Saya harus mempertimbangkan ambang batas parlemen, kondisi daerah pemilihan, peta politik partai di daerah dan di pusat, preferensi masyarakat , hingga kesiapan administrasi, serta finansial. Semuanya harus dihitung. Politik memang bukan ilmu pasti.  Tapi, saya yang pernah mengambil jurusan eksak Matematika di sekolah, selalu berpikir matematis untuk mengubah ketidak-pastian menjadi pasti.

Karena mengambil posisi yang “pasti-pasti aja” itulah saya sebelumnya memilih melakukan pendaftaran di DPD. Alhamdulillah, saya memiliki pendukung yang setia. Jumlah mereka ribuan. Merekalah yang memberikan memberikan bukti dukungan KTP buat saya. Saat bakal calon lainnya berkasnya dikembalikan karena tidak memenuhi persyaratan administrasi, saya bahkan masih memiliki kelebihan dan ribuan dukungan cadangan.

Tapi, itu tidak membuat saya tenang. Kursi DPD mungkin akan lebih aman. Tapi itu membuat saya merasa lari dari pertempuran sebenarnya. Saya melakukan istikharah. Saya menyadari bagaimanapun politik hanyalah alat, keputusan baik dan buruk harus selalu kita mohonkan kepada-Nya.

Saya mendapatkan isyarat bahwa saya harus terus bertahan. Puluhan  tahun saya mengabdi di partai ini. Ada keterikatan emosional yang dalam. Saya besar dan berkarier sebagai politisi di partai Kabah ini. PPP seakan sudah menjadi identitas saya. Orang mengenal saya dengan warna hijau. Bukan warna-warna lainnya.

Isyarat lainnya semakin terang. Ketua Umum PPP i Romahurmuzy, cucu dari KH Wahab Hasbullah, tokoh NU yang menjadi panutan saya,  juga menyuruh saya untuk bertahan dan kembali maju menjadi calon legislatif. KH Idham Chalid juga pernah  berpesan kepada saya: selain harus memiliki materi yang cukup, seorang politisi juga harus memiliki mental yang tangguh. Bapak Ideologis saya itu selalu menekankan untuk tetap berada dalam peperangan yang berkecamuk. Di masa-masa sulit itulah, karakter seorang petarung sejati diuji.

Atas pertimbangan itulah,  dua jam jelang pendaftaran ditutup, saya akhirnya mundur dari pencalonan DPD. Saya telah mantap untuk kembali maju  untuk mewakili suara banua di parlemen. Saya berharap ini adalah pilihan atas niat baik saya mengabdi untuk masyarakat Kalsel.

Politik memang bukan ilmu pasti.  Ini adalah dunia yang cair dan serba mungkin. Bagi saya, dalam konteks inilah, saya berusaha bergerak.  Semua manuver-manuver yang saya lakukan sebagai politisi berada dalam konteks dan ruang spektrum strategi. Bukan hanya strategi untuk bertahan, tetapi juga untuk menang.

Semoga Allah SWT membalas niat baik dan usaha kita semua untuk memberikan yang terbaik bagi Banua.(jejakrekam)

Penulis adalah Anggota Komisi I DPR RI

Ketua DPP PPP

Anda mungkin juga berminat
Loading...