Film Perang Banjar Tegaskan Hidayatullah Tak Menyerah

UNTUK memutar gala primer Film Pangeran Antasari Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, tak tanggung-tanggung 8 studio berkapasitas sekitar 1.400 penonton diborong Pemprov Kalimantan Selatan. Film semi kolosal berbiaya Rp 2,3 miliar dari dana APBD Kalsel 2017, diputar perdana di Stadio XXI Duta Mall Banjarmasin, Senin (1/1/2018).

ALUR cerita film ini menitikberatkan pecahnya Perang Banjar di abad ke-17.  Pemicu perang itu adalah ketika surat wasiat Sultan Adam yang menunjuk Pangeran Hidayatullah sebagai pewaris takhta Kesultanan Banjar, tak dijalankan. Hal ini dikarenakan, Belanda ikut campur dalam suksesi Kerajaan Banjar, dengan mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai Raja Banjar.

Akibatnya, terjadi perlawanan rakyat Banjar terhadap Belanda, yang dikomando Pangeran Antasari dengan menyerang Benteng Orange Nassau di Pengaron, Kabupaten Banjar. Ada cerita menarik dalam adegan film tersebut. Yakni,  terkait Pangeran Hidayatullah. Selama ini, sebagian orang beranggapan yang bersangkutan menyerah kepada Belanda. Alasan ini, kerap menjadi kendala bagi sosok pahlawan dan bangsawan Banjar ini dianugerahi Pahlawan Nasional.

Nah, dalam cerita film ini ditegaskan bahwa  Pangeran Hidayatullah bukan menyerahkan diri kepada Belanda. Namun, ia dijebak oleh Belanda. Penegasan itu, terjadi dalam adegan di warung.

Di sana, Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor, yang berperan sebagai Utuh Buntat sedang berdiskusi di sebuah warung. Saat diskusi, Utuh Buntat menegaskan tentang perlawanan terhadap Belanda.

Di tengah adegan, Odes, salah seorang pendusuk asli yang diperankan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kalsel, Gusti Syahyar, mengemukakan sejarah zaman perjuangan dan pergulatan melawan kolonialisme.

Odes menegaskan selama ini Pangeran Hidayatullah yang dibuang ke Cianjur, Jawa Barat, ditangkap oleh Belanda karena menyerahkan diri. “Sidin kada menyarah. Tapi, sidin ditipu oleh Belanda makanya ditangkap. Sidin dikirim surat mamakai stempel Ratu Siti. Itu kisah nang sabanarnya,” ujar Odes, atau figuran orang desa dalam adegan film tersebut.

Iklan Samping 300×250

Usai pemutaran film tersebut, Gubernur Kalsel Sahbirin Noor menyebut banyak pelajaran yang bisa diambil. Pelajaran pendahulu itu, sangat berguna guna menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah dan negara Indonesia.

Ia pun mengakui ada kemungkinan membuat film dengan cerita berbeda lagi. Tapi, Paman Birin memastikan akan dicari alur cerita yang lebih heroik lagi.  “Dengan film ini , saya berharap masyarakat makin mencintai Banua. Karena, kita mempunyai leluhur yang luar biasa,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu pengunjung yang menyaksikan film ini tanpa mau menyebutkan namanya mengatakan, cerita dalam film itu cukup datar. Bahkan, menurutnya cerita dalam film ini tak ubahnya sinetron atau FTV.

“Banyak sekali di sana kejanggalan, seperti lompat sound dan adegan, itu fatal sekali. Kemudian, editing yang masih kasar terlihat sekali ada flicker dan lain-lain,. Secara bahasa juga ternyata penggunaan bahasa yang tidak pantas yang tidak seharusnya ada di struktur dialog bahari ternyata susah untuk aktor dari luar,” ujar pria yang menggeluti dunia film ini.

Secara keseluruhan,  ia menilai film Pangeran Antasari secara kualitas masih kurang. Namun, ia tetap bersyukur ada film sejarah yang bercerita tentang kejadian lokal. “Semoga ke depan lebih baik lagi,” cetusnya.(jejakrekam)

Penulis : Ahmad Husaini

Editor   : Didi G Sanusi

Foto      : Iman Satria

Anda mungkin juga berminat
Loading...

Film Perang Banjar Tegaskan Hidayatullah Tak Menyerah