Tuangkan Kreativitas di Tembok, Seni Graffiti Bukanlah Kejahatan

0

AKSI melukis dinding atau seni graffiti dan mural cukup marak di Banjarmasin. Tiap dinding kosong pun tak lepas dari tangan-tangan kreatif untuk dipoles menjadi indah, dibandingkan dibiarkan teronggok penuh rumput atau coretan berbau vandalisme.

DUA seniman jalanan, Azmi dan Mahmud Siba pun ingin menorehkan naluri seni saat melukis dengan kuas dan cat semprot di dinding yang sudah penuh lukisan mural dan graffiti di Jalan RE Martadinata, tembok milik eks Pelabuhan Martapura Lama.

Mereka pun mengambil sisa cat air berwarna ungu dan hitam, kemudian cat semprot untuk menuliskan khat Arab berbunyi alfin lays bijarima atau seni bukanlah kejahatan.

Bagi Mahmud Siba, mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin ini melukis dinding pada esensinya adalah seni, bukan sebuah kejahatan.

“Daripada tembok ini tak terawat dan dibiarkan kosong, bahkan penuh coretan yang tak jelas, lebih baik dihiasi dengan seni mural atau graffiti. Jauh lebih bagus dan bisa menginspirasi pengguna jalan,” ucap Mahmud Siba kepada jejakrekam.com, beberapa waktu lalu.

BACA : Pesan Graffiti di Taman Sari, Sepatutnya Aksi Bomber Diberi Tempat Khusus

Ia mengakui beberapa dinding atau tembok seperti di kawasan Pasar Lima, pernah jadi wadah atraksi dalam menuangkan ide dan kreativitas. Menurut Siba, semua peralatan dari cat, kuas, hingga cat semprot diambil dari kantong sendiri, tak ada sponsor atau donator. Semua itu dilakukan demi bisa menyalurkan bakat seni.

“Makanya, bagi kami seni itu bukan kejahatan. Memang pernah kami dilarang Satpol PP (Banjarmasin), ditanyakan izin dan lainnya. Kami sahut saja, daripada kosong dan dibiarkan tak terawat, apalagi penuh coretan tak menentu, lebih baik dilukis dengan bagus. Apalagi, di Banjarmasin, sudah banyak komunitas pencinta graffiti atau mural, ya biasanya disebut bomber. Sayangnya, dinding atau tawing itu sangat terbatas, bahkan bisa dibilang langka,” tutur Siba.

BACA JUGA : Seniman Grafiti Tagih Janji Walikota Banjarmasin Sediakan Tawing Bomber Khusus

Senada itu, Azmi, yang mengaku warga Banjarbaru senang bergabung dengan kalangan bomber Banjarmasin. Meski harus kucing-kucingan, Azmi mengaku ada seni dan hal yang menantang dalam menggiatkan dunia bomber. Ia pun beranggapan seni bukanlah kejahatan, sehingga tak pantas disanksi baik denda apalagi berbau penjara.

“Kami juga tidak sembarang melukis dinding atau tembok. Apalagi, jelas-jelas tembok itu berada di area publik, tentu kami akan menghiasinya,” kata Azmi.

Baik Azmi maupun Siba, mengatakan semua yang dilakukan juga tidak merugikan orang, karena biaya untuk graffiti atau mural sepenuhnya dari kantong sendiri. Bahkan, mereka pun tak merusak fasilitas publik, semua dilakukan agar tembok yang jadi wahana kreativitas bisa bernilai indah dan seni.

BACA JUGA : Bianglala Kehidupan Masyarakat Banjar di Tembok Perpustakaan Tendean

“Dibandingkan kota-kota besar di Indonesia, Banjarmasin memang belum ramah untuk dunia graffiti dan mural. Makanya, kami berharap ke depan, bisa disiapkan tembok atau tawing khusus untuk bomber. Jadi, ketika lukisan itu sudah kusan, bisa diganti dengan yang baru,” tutur Azmi.

Siba pun menimpali. Menurut dia, jika para bomber dianggap bagian dari orang yang bikin masalah karena merusak keindahan kota, tentu itu jauh dari memberi kesempatan bagi generasi muda untuk berkreasi, terutama dari seni lukis dinding atau tembok.

“Padahal, seni semacam ini patut dilombakan. Sebab, lewat seni lukis dinding, bisa dilihat hidup atau tidaknya seni kreativitas warga kota. Jadi, bagi kami, seni itu bukanlah kejahatan,” papar warga  Jalan A Yani Km 7, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar ini.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.