Desa Barikin dan Lakon Wayang Banjar, Warisan dari Kerajaan Negara Dipa

0

WAYANG Purwa Banjar punya identitas tersendiri, walau tak bisa dipisahkan dari pakem pewayangan Nusantara, khususnya dari Pulau Jawa. Kesenian yang diyakini berkembang di era Kerajaan Negara Dipa (1387-1495), berlanjut di masa Kesultanan Banjar sampai sekarang, justru seakan menemui jalan sunyi.

DIBANDINGKAN Wayang Purwa Jawa, banyak perbedaan dengan Wayang Banjar. Seperti wayang kulit Banjar lebih kecil dibanding Wayang Jawa lebih mirip dengan Wayang Bali. Termasuk, dari bahan baku wayang terbuat dari kulit binatang, terutama sapi, kambing atau kerbau.

Dalam Wayang Banjar juga tidak diiringi gending serta perangkat dibuat dari besi, bukan dari logam perunggu yang dipakai Wayang Jawa. Dengan ritme gamelan yang mengiring lebih keras dan cepat, dibandingkan wayang Jawa yang juga diiringi sinden atau penembang gending wanita atau waranggana.

BACA : Lakon Wayang Banjar di Temaran Blencong, Akhir Malam Karasmin Budaya

Penggiring pertunjukan Wayang Purwa Banjar pun dikenal dengan alat musik yang keras dari baja atau besi terdiri dari sarun satu, sarun dua (sarantam), kanung, dan dawu serta agung kecil dan agung besar. Ini ditambah, kangsim gendang atau babun yang terdiri dari babun besar dan kecil.

Termasuk, Babun besar berfungsi untuk mengiringi wayang kulit dan wayang gung, sementara babun kecil sebagai musik selingan mengiringi tembang dan tarian baksa atau topeng.

Dalang Taufik Rahmat Hidayat atau Dalang Upik asal Desa Barikin, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), mengakui banyak perbedaan antara Wayang Banjar dengan Wayang Purwa Jawa.

Dalang yang kesohor dan kerap diundang dalam karasmin atau perayaan dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta ini mengungkapkan dengan perbedaan itu, Wayang Banjar pun sangat berbeda dari cerita, bentuk wayang dan tampilannya.

“Alhamdulillah, selama ini, ternyata Wayang Banjar masih disukai masyarakat. Terbukti, saat pertunjukan justru banyak pula datang dari kawula muda Banua. Ini membuktikan jika Wayang Banjar itu masih diminati,” ucap Dalang Upik saat dikontak jejakrekam.com, belum lama tadi.

Ia mengakui sebelum mentas dalam memeriahkan hajatan tuan rumah, tentu perlu sebuah ritual khusus atau piduduk dalam tradisi Banjar agar jalannya cerita wayang yang diangkat bisa berlangsung aman dan lancar, tanpa ada ganjalan atau gangguan.

BACA JUGA : Jalan Sunyi Wayang Banjar, Bertahan di Tengah Budaya Makin Glamor

Dalang Upik mengungkapkan saat ini keberadaan para pegiat Wayang Banjar, terutama pada dalang bisa dihitung dengan jari di Kalimantan Selatan. Ia memperkirakan saat ini, yang tersisa hanya berkisar 25 hingga 30 dalang saja.

“Dari Kota Banjarmasin sampai Kabupaten Balangan, ya masih ada dalang. Intinya, setiap kabupaten masih ada dalang yang bisa memainkan Wayang Banjar. Walau yang terbanyak masih terkonsentrasi di Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Hulu Sungai Tengah (HST),” papar Dalang Upik.

Salah satu dalang senior asal Kandangan, seperti Dalang M Kaderiansyah alias Kaderi yang sering manggung bersama Dalang Upik membawa wiracerita seperti dari Mahabrata, Ramayana dan lakon-lakon kepahlawanan dengan bertutur bahasa Banjar dalam setiap pertunjukannnya. Hingga penonton yang berada di belakang kelir atau layar bisa menikmati suguhan Wayang Banjar yang diterangi pelita (blencong) atau lampu minyak.

Menariknya, dalam Hikayat Banjar, menyebutkan Wayang Banjar sudah berkembang sejak era Kerajaan Negara Dipa. Bahkan, pertunjukan atau lakon wayang ini bisa era kaitannya dengan keberadaan roh nenek moyang berkelana hingga selalu dipentaskan saat menayangkan lakon carangan di malam hari.

BACA LAGI : Bukan Mitos, Kerajaan Negara Dipa Dibangun Bangsawan Tanah Jawa

Makanya, Wayang Banjar bisa kerap dikenal dengan Wayang Karasmin atau wayang yang diperuntukkan untuk hiburan atau keramaian. Wayang Tahun yang dipentaskan sebagai tanda ucapan syukur atas berakhirnya musim panen padi.

Wayang Tatamba yang dihelat karena sang dalang berhasil menyembuhkan seseorang dari penyakitnya. Ada juga pertunjukkan wayang kulit Banjar yang berkaitan dengan spiritual yakni Wayang Sampir. Begitu pula, dengan pementasan Wayang Sampir berkaitan dengan hajatan atau nazar. Dalam penyajiannya, dalang bertindak sebagai pemimpin upacara yang memiliki kemampuan mengusir roh-roh jahat yang sering mengganggu ketenteraman manusia.

BACA JUGA : Damarwulan Banjar, Kesenian Asli Banjarmasin Berada di Tepi Zaman

Dalang Upik pun tak memungkiri jika Wayang Banjar benar-benar punya kekhasan sendiri, termasuk eksistensi desa seni, Desa Barikin yang sangat erat dengan keberadaan seniman era Kerajaan Negara Dipa. Ini terkait dengan kisah 7 bersaudara yang melatih warga untuk menggeluti seni tari topeng, tari Baksa, Gamelan, sampai wayang kulit, ketika singgah ke Pematang Kambat, dalam misi hijrah ke Kerajaan Negara Daha yang saat ini dkenal dengan Sumur Datu, Desa Barikin.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.