Menjenguk Benteng Terakhir Lahan Gambut di Hulu Batola

Oleh : Nasrullah

ALKISAH, seorang ayah menggenggam tangan putranya sambil menyusuri tepi jalan. Langkah sang ayah terhenti dan memandang rimbunnya pepohonan sawit, kemudian wajahnya memandang ke langit lalu menunduk terkulai. Tak lama kemudian sang ayah bercerita pada putranya, “Nak tahu kah kau, dulu lahan sawit itu hutan galam. Kalau musim kemarau, ayah diajak kakek mencari ikan haruan dalam sumur atau beje. Kami juga menangkapi ikan bapuyu” kata sang ayah. “Ikan haruan dan bapupu itu apa Yah” tanya sang anak menyela cerita ayahnya. “Nanti kau cari saja di google, apa itu ikan haruan dan apa itu bapuyu. Dengarkan dulu cerita ayahmu ini”
Sang ayah lanjut bercerita, ia semakin erat menggenggam tangan anaknya.

MUSIM kemarau itu pula kami sering berkelit dari kebakaran api di lahan ini. Kami juga membuat tatas apui (pembatas api) agar api tidak menjalar ke pemukiman. Ayah hapal nama-nama tempat di sini yang secara umum hanya disebut padang, tapi penduduk kampung punya nama-nama sendiri. Kini berubah menjadi blok-blok dengan nama asing.”

“Kalau musim hujan bagaimana, ayah?” tanya sang anak ketika suara ayahnya tertahan. “Ketika musim hujan, selain bencana banjir kami juga panen ikan. Ada juga menebang pohon galam, mengambil purun. Kau tahu nak, rombongan orang membawa purun itu terlihat indah sekali. Mereka seperti konvoi menarik ratusan ikat batang purun ke kampung”. Sang ayah terdiam sejenak. “Kini semua tidak ada lagi nak, yang ada hanya cerita. Lahan ini berganti sawit” beberapa butir air mata tampak menetes.

Cerita di atas hanya ilustrasi saja, tapi sangat mungkin akan terjadi 50 tahun akan datang. Sang ayah atau orang tua itu, boleh jadi adalah kita sendiri atau anak-anak kita yang menjadi ayah atas cucu-cucu kita nantinya.

Sekarang mari kita tengok realitasnya, di hulu kabupaten Batola atau dalam persfektif mata angin di bagian utara Batola, ada kecamatan yang dulu lingkungannya dianggap tidak berharga. Lingkungan itu hanya terdiri atas hutan galam, atau pepohonan berbagai jenis kayu yang biasanya tumbuh di tepi sungai.

Rasionalitas Penjaga Lahan Gambut

Kecamatan di hulu Batola sesungguhnya tidak begitu dilirik dalam agenda pembangunan kabupaten, inilah kutukan demografi dan geografis. Penduduk yang jumlahnya sedikit dan lahan paling luas adalah berat diongkos pembangunan. Apalagi di dalam tanahnya tidak ada kandungan kekayaan alam seperti batu-bara, minyak bumi yang membuat pemerintah daerah kaya raya atau menghasilkan orang kaya baru.

Barulah ketika ada perusahaan sawit yang ingin membuka perkebunan, tanah menjadi berharga karena hutan galam dikonversi sebagai lahan sawit. Mimpi indah menjadi karyawan perkebunan sawit, mendapat gajih bulanan, dan paling praktis dapat uang ganti rugi atau ganti untung atas lahan yang disebut padang, atau sumur warga.

Namun dari sembilan desa di kecamatan itu hanya ada satu desa yang masih bertahan tidak ingin mengkonversi lahan desa untuk perkebunan sawit. Inilah yang saya anggap desa ini sebagai benteng terakhir lahan gambut di hulu Batola.

BACA : Di Kalsel, 27 Ribu Hektare Lahan Gambut di Kawasan HGU Perusahaan Perkebunan Sawit dan Tambang Batubara

Bagaimana tidak, hutan galam, dengan berbagai keragaman hayati masih terjaga meski akibat pembuatan kanal di bagian paling belakang wilayah desa merubah siklus pasang surut ekologi gambut, sedangkan desa lain direlakan warga menjadi bagian dari perkebunan sawit ditambah janji-janji kemakmuran.

Pertanyannya, apa rasionalitas warga untuk mempertahankan lahan gambut yang terdiri dari hutan galam, tanaman kumpai lengkap dengan paket sumur (beje), kebun purun, dan nama-nama lokal daerah padang itu.

Pertama, alasan ekonomis bahwa hutan gambut adalah harta karun yang tak pernah habis-habisnya disediakan untuk kesejahteraan warga. Hutan ini bisa dikonversi menjadi uang dengan cara menjual galam, menjual purun atau dianyam menjadi tikar, menjual ikan haruan (gabus), bapuyu (beto), sepat dan lain sebagainya. Jika kekayaan lahan gambut dimanfaatkan melalui tangan warga dengan peralatan dan teknologi konvensional, maka proses recovery akan berjalan cepat yang diantarkan siklus tahunan musim kemarau dan penghujan.

Kedua, tetap sebagai tuan di kampung sendiri. Bahwa padang dengan segala isinya adalah dimanfaatkan warga desa yang mereka bisa bekerja secara turun temurun. Mereka adalah tuan sekaligus karyawan untuk petak danum (tanah-air) sendiri, mereka orang-orang merdeka tidak di bawah pimpinan mandor, tidak mengenal buruh atau staf.

Ketiga, keseimbangan ekologis. Jika hutan galam masih ada siklus pasang surut masih terjadi, gambut menjadi ciri khas Barito Kuala. Mereka adalah pahlawan ekologi, yang kini bertahan di dalam benteng dan sesekali keluar di garis perbatasan karena tangan-tangan nakal eksavator siap bekerja jika warga sedang lengah atau oknum perusahaan mengintai kelemahan hukum dengan menakuti warga untuk dilaporkan ke pihak berwajib jika melakukan tindakan destruktif terhadap aset perusahaan.

BACA JUGA : Tak Ada Peta Riil, Raperda Lahan Gambut di Kalsel Sulit Diwujudkan

Keempat, menjaga ikan agar tidak hanya tersisa nama dan gambar saja. Di satu-satunya desa terakhir itu, masih bisa ditemukan ikan haruan yang beratnya lebih dari satu kilogram, atau ikan bapuyu sebesar telapak tangan. Selama lahan gambut itu ada, kebiasaan warga mencari ikan dengan memancing dan memasang berbagai perangkap kelestarian ikan masih terjaga. Tanpa hal itu, species ikan haruan yang kata albumin, ikan bapupu yang guring dan terasa manis jika dibakar, ikan sepat yang selalu nikmat, perlahan-lahan akan mengalami kepunahan.

Benteng Terakhir vs Ekspansi Sawit

Akhir-akhir ini, warga sering dibuat tidak tenang karena garis batas desa dengan desa tetangga sering diganggu pihak ketiga yakni perusahaan perkebunan sawit yang membuka lahan di zona tidak jelas batas milik siapa. Gaya klasik pihak oknum perusahanan perkebunan adalah garap dulu, jika tidak ada protes lanjutkan saja. Kalau warga protes, berhenti sejenak dan jika mereka lengah garap lagi. Cara ini tak ubahnya seperti main kucing-kucingan saja, sekali lengah langsung terkam.

Jika ada warga protes, karena aset rusak, ancaman saja secara hukum berdengung. Namun mereka lupa, telah mengkonversi ekologi tanpa legalitas hukum tentang lahan digarap adalah tindakan ilegal. Jangan salahkan warga jika menjadi prajurit spartan untuk menjaga benteng terakhir gambut di hulu Batola ini.

Jika anda pembaca yang budiman menonton film-film tentang warga yang berjuang menjaga desanya dari ancaman alien, atau prajurit yang bertahan dalam benteng menahan kepungan lawan.

Kenyataannya ada di salah satu desa di hulu Batola itu, tidak dalam film tapi dalam kenyataan. Benteng mereka adalah hutan galam, serbuan alien adalah eksavator yang siap mengubah lahan. Kini sekitar benteng telah dikepung kanal mengubah pasang surut air dan ekologi terganggu.

Pertanyaan saya untuk pembaca yang budiman apakah anda hanya akan menjadi penonton saja? Lalu kemudian bercerita pada anak cucu kelak, “Nak dulu ada satu desa yang warganya berjuang keras melawan ekspansi perkebunan sawit, tapi kemudian mereka kehabisan energi. Air beracun akibat pupuk dari perkebuan sawit mengkontaminasi sungai mereka. Nak patung-patung ikan itulah bukti bahwa di desa itu pernah makmur, penduduknya tidak kekurangan gizi. Itu dulu nak, dulu sekali…”(jejakrekam)

Penulis adalah warga Kecamatan Kuripan, Batola, dan mengajar di Prodi Pendidikan Sosiologi Antropologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat

 

Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time