Wacana Guru Impor Kontroversial, Pengamat Pendidikan : Bisa Ancam Ideologi Indonesia

WACANA impor guru asing yang dilontarkan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), menimbul pro dan kontra di tengah masyarakat. Terlebih saat ini, tingkat kesejahteraan guru honorer saja masih belum ada kepastian.

NURUL Hidayati, salah satu guru honorer di sebuah SMA swasta di Banjarmasin heran dengan wacana yang tak masuk akal itu. Menurut dia, saat ini saja kesejahteraan para pendidik masih belum pasti, malah mencuatnya wacana impor guru asing untuk mengajar di Indonesia.

Bagi Nurul, nasib kesejahteraan guru honorer baik di sekolah swasta maupun negeri di Indonesia, hingga kini saja belum juga tuntas. Ia menyebut belum tentu guru asing memahami karakter siswa serta kurikulum pendidikan antara Indonesia dan luar negeri.

BACA : Bergaji Tak Layak, 1.075 Guru Honorer di Kabupaten Banjar Harus Segera Di-SK-kan

“Guru dari luar negeri belum tentu lebih baik dari guru lokal, daripada menggaji guru dari luar lebih baik anggarannya diberikan kepada kami yang mengajar di sini,” ujar Nurul Hidayati kepada jejakrekam.com, Selasa (14/5/2019).

Sementara, pakar pendidikan Uniska MAAB Dr Jarkawi berpendapat ketimbang mendatangkan guru asing, sebaiknya pemerintah mengembangkan kompetensi para guru di tanah air.

“Di sisi kesempatan kerja, lebih baik menggunakan guru lokal saja, sebab masih banyak lulusan perguran tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan seusai lulus kuliah,” ucap Wakil Rektor I Uniska MAAB ini.

Namun, Jarkawi setuju jika mendatangkan guru dari luar negeri untuk meningkatkan mutu pendidikan tanah air. “Tapi jangan terlalu lebar dengan mendatangkan guru impor, tetap dengan kriteria yang dibutuhkan dunia pendidikan kita,” ucap dia.

BACA JUGA : Hasil Survei Pustekkom 60 Persen Guru di Indonesia Gagap Teknologi Informasi

Jarkawi menilai kebijakan yang percuma mendatangkan guru asing, jika kualitasnya justru setara dengan guru lokal. “Tapi kita patut hati-hati andai guru asing yang mengajar itu justru menanamkan ideologi yang bertentangan dengan tradisi ketimuran kita. Sebab, fase sekolah dasar dan menengah tahap penting dalam membentuk karakter anak didik,” ucap Jarkawi.

Ia menyebut dunia pendidikan mau tidak mau harus responsif dengan tantang globalisasi termasuk mengadopsi sistem pendidikan dari negara maju.

“Itu sudah menjadi konsekuensi dari globalisasi, negara luar saja tidak sedikit menggunakan tenaga pengajar dari negara lain, tapi yang terpenting kriteria kompetensi dan wilayah kerja mereka harus dimatangkan,” tandas Jarkawi.

BACA LAGI : Tak Kunjung Diangkat Jadi PNS, Guru Honorer Pilih Dukung Prabowo-Sandi

Wacana impor guru asing ditepis Deputi Bidang Koordinasi Pendikan dan Agama Kemenko PMK Agus Sartono di Jakarta, Senin (13/5/2019). Seperti dikutip dari tirto.id,  Agus Sartono menyebut tidak menutup kemungkinan guru-guru luar negeri benar-benar didatangkan ke Indonesia.

“Pengajar asing yang didatangkan hanya untuk urusan training of trainer (TOT). Dengan menyelenggarakan TOT lebih efektif dibanding mengirim guru-guru Indonesia ke luar negeri untuk mengikuti pelatihan singkat,” tuturnya.(jejakrekam)

 

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS