Tak Terima Kalah, Terkena Delusi

TANGGAL 17 April 2019 adalah babak baru bagi Indonesia. Sejarah akan mencatat bahwa ini lah catatan penting bagi negeri ini, dimana pemilu serentak dihelat. Beberapa catatan pinggir dari episode pesta demokrasi lima tahun ini. Kita disuguhkan sebuah pentas pemilu, dialektikal realitas politik identitas dan perdebatan panas.

PANAS karena adanya atraksi seru, dimana peragaan serangan claim, merambah media maisntrem dan media baru. Media mainstrem menghadirkan ala perhitungan cepat, dimana semua lembaga survey yang kualified dan rekomended,mengunggulkan pasangan Jokowi.

Sementara, kubu Probowo menyanggah dengan argumentasi bahwa mereka yang unggul berdasarkan kalkulasi internal. Probowo saat itu langsung melakukan serangan, bahwa telah terjadi banyak kecurangan.

Hari demi hari, kontruksi opini ditembakkan melalui dunia digital, ialah peluru opini kecurangan. Seolah-olah KPU sebagai penyelenggara pemilu telah melakukan  skenario kecurangan massif.

BACA : Sisakan Kotabaru di Kalsel, Prabowo Kalahkan Jokowi Lampaui Hasil Pilpres 2014

Padahal kecurangan yang dilakukan dengan sengaja, langsung dapat dideteksi, dan kontan mendapat risiko sanksi. Namun  kesalahan karena human eror, bukanlah kecurangan yang disengaja, dan harus diperbaiki.

Kecenderungan berpikir kritis, harus disikapi dengan bijak. Jangan sampai fanatisme berlebihan, telah membongkar rasa persaudaraan dan  berpikir positif. Akhirnya, berita  hoax dipercaya, dan dishare tanpa saring. Dan kebenaran kelompok kian tak bisa terbantahkan, sementara kelompok lain, di claim keliru, dan melakukan kemenangan dengan menipu.

Medekonstruksi kebohongan sudah disediakan melalui wadah mekanisme konstitusi yakni jalur Bawaslu  dan MK.  Persoalan muncul, ketika ancaman people power menjadi senjata, saat kabar real count, tak sesuai dengan kehendak. Tentu ini tak lazim dalam dunia demokrasi,dimana ketidakpuasan dibalas dengan dengan gerakan, yang pada akhirnya akan  mendapatkan perlawanan yang sama. Lalu sampai kapankah akan berakhir?

BACA JUGA : Massa Prabowo-Sandi Demo KPU Kalsel, Nurzazin : Jika Curang, Biar Allah Menghukum

Yang terbaik, memang kita tunggu tanggal 22 Mei nanti.  Siapa pun yang unggul kita hormati.  Yang tidak puas, tempuh melalui jalur yang sudah disediakan. Kita sudahi perbedaan, dan terima kenyataan. Kenyataan kita, adalah NKRI dan persatuan. Ketidaksanggupan menerima kekalahan, baik peserta pilpres maupun pileg, akan menyebabkan terkena Delusi atau Waham.

Delusi ialah suatu keyakinan yang dipegang secara kuat namun tidak akurat, yang terus ada walaupun bukti menunjukkan hal tersebut tidak memiliki dasar dalam realitas. Delusi dapat menyudutkan seseorang untuk melakukan tindakan yang mengacaukan situasi. Seseorang bertindak berdasarkan persepsi salah yang membuat kita membayangkan respons negatif dari orang lain.

BACA LAGI : Satu Demi Satu Pejuang Demokrasi Berjatuhan, KPU Usahakan Beri Santunan

Diakui pasca pemilu, akan banyak melahirkan orang yang stress berat. Realitas yang tak linear dengan harapan, menjebak manusia dalam  frustasi dan kesedihan panjang. Memang kodratnya manusia bersedih jika mendapat beban, ingkar dan tak bersyukur saat bergelimang dalam kesenangan.

Hanya jiwa yang tenang, hati yang salim yang mampu menetralkan hati, mengembalikan pada satu titik, yakni semua realitas, terjadi karena skenario Allah, yang harus diterima. Pertanyaannya, apakah peserta pemilu dapat menerima kekalahan?. Jawabannya ada di sekitar kita.(jejakrekam)

Penulis adalah  Pemerhati Komunikasi, Kemasyarakatan dan Keagamaan.

Tinggal di Banjarmasin