Bunga Pukul Sembilan Mekar di Bundaran Mini Tugu Adipura

ADA keindahan tersendiri saat melintas di Tugu Adipura yang berada di persimpangan Jalan Lambung Mangkurat, senyawa dengan Jalan RE Martadinata dengan Jalan Pasar Baru dan Jalan Simpang Telawang, Kelurahan Kertak Baru Ilir, berada di pusat Kota Banjarmasin.

TANAMAN bunga yang ditanam di bundaran mini tugu supremasi keindahan ibukota Provinsi Kalimantan ini tengah mekar. Bunga yang populer disebut bunga pukul sembilan, karena mekar setiap jam sembilan pagi menjadi objek foto yang cukup menawan bagi para fotografer.

Nama bunga ini pun ada berbagai versi. Ada yang menyebut bunga portulaka, krokot, canti manis, sutera bombay hingga nama latinnya portulaca grandiflora. Saat mekar, bunga jenis krokot, kelopaknya mirip mawar, sehingga dalam bahasa Inggris kerap juga disebut rose moss, eleven o’clock, mexican rose, mose rose, sun rose, rock rose, hingga moss-rose purslane.

BACA : Alun-Alun dan Menanti Komitmen Banjarmasin Wujudkan RTH Publik

Dikutip dari Alamendah’s Blog, dijelaskan bunga pukul sembilan ini berkerabat dekat dengan bunga gelang biasa (portulaca oleracea L.). Bunga yang aslinya berasal dari Amerika Serikat yakni Argentina, Brasil dan Uruguay ini kemudian menyebar seantero negeri.

Bunga yang juga dinamkan cantik manis dan sutera Bombay ini merupakan tanaman terma semusim yang berbatang basah. Batang tanaman sepanjang antara 15-30 cm dan sering bercabang mulai dari pangkalnya. Batangnya mampu tumbuh tegak atau sebagai menjalar di permukaan tanah. Warna batang krokot ini merah atau hijau dengan rambut-rambut tipis batas ruas batangnya.

Bunga pukul sembilan memiliki dau tunggal dan tidak bertangkai, berbentuk silindris dan tebal berdaging serta berair. Ukuran daun ini memiliki panjang sekitar 1 – 3,5 cm. Bunganya berkelompok 2–8 yang muncul diujung batang. Bunga ini mekar pagi hari sekitar pukul 9 dan layu ketika sore hari. Warna bunganya bervariasi mulai merah, putih, orange, hingga kuning. Karena kebiasaan mekarnya pada menjelang pukul sembilan pagi, bunga ini ahirnya disebut sebagai bunga pukul sembilan.

BACA JUGA : Taman Vertikal Itu Hanya Polesan, Banjarmasin Butuh Lebih Banyak RTH

Memiliki buah berukuran sangat kecil, berukuran 5-8 mm berbentuk bulat telur. Biji Bunga Cantik Manis ini berbentuk bulat kecil dengan warna cokelat muda.Tanaman hias dari famili Portulacaceae ini mudah tumbuh pada dataran rendah hingga daerah berketinggian 1.400 meter dpl. Termasuk, dalam bunga yang mudah perawatannya dan tidak memerlukan banyak air.

Tanaman ini pun sering dipakai untuk ground cover (tanaman penutup tanah) atau pun ditanam di dalam pot. Namun, khasiat bunga ini sebagai tanaman obat herbal juga telah diteliti para ahli, karena memiliki kandungan portulal, betacyanin, betanin, dan betandin. Dengan kandungan tersebut, seluruh bagian tumbuhan ini berkhasiat untuk mengobati sakit tenggorokan, memar, radang kulit, maupun luka bakar.

BACA JUGA : Balai Kota Pastikan 100 Persen Lahan RTH Kamboja

Pengamat perkotaan dari Intakindo Kalsel, Nanda Febryan Pratamajaya mengakui saat ini di Banjarmasin memang tengah gencar dengan penamanan bunga, apakah sebagai ground cover, taman vertikal serta lainnya.

“Sebenarnya, keberadaan bunga pukul sembilan itu hanya aksesoris kota. Analoginya begini, ketika seseorang telah berpakaian, maka bunga atau taman ini hanya seperti rompi atau topi,” kata Nanda Febryan Pratamajaya kepada jejakrekam.com, Rabu (3/4/2019).

Menurut Nanda, Banjarmasin sebenarnya sangat butuh taman atau pohon-pohon yang berfungsi menghasilkan oksigen, menyerap karbon serta menciptakan sirkulasi udara yang sejuk dan sehat.

“Nah, keberadaan taman bunga atau veterikal, hanya aksesoris atau sederhananya hanya warna-warni kota. Jika ingin Banjarmasin menjadi kota sehat, tentu butuh jenis pohon tertentu yang bisa mendaur ulang udara kota,” ucap planolog jebolan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini.

BACA LAGI : RTRW Banjarmasin Segera Direvisi, Ini Beberapa Perubahannya

Menurut dia, alangkah baiknya jika Banjarmasin bisa menambah pulau jalan yang menjadi bagian dari jalan dapat berfungsi ganda sebagai keindahan kota serta meningkatkan keselamatan lalu lintas. “Ya, seperti di depan Polresta Banjarmasin itu telah dibangun pulau jalan. Model semacam ini bisa ditiru, sehingga bisa menambah ruang terbuka hijau (RTH) bagi kota,” papar Nanda.

Ia mengakui Banjarmasin sangat kekurangan RTH sebagai fasilitas publik, sehingga sudah sewajarnya jika dibangun lagi pulau-pulau jalan, sehingga bisa mempercantik kota serta menambah volume RTH.(jejakrkeam)

 

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS