Ahli Utama Intakindo Pertanyakan Amdal Lalin Jembatan Sungai Alalak

BERBIAYA supermahal, Jembatan Sungai Alalak atau ada pula menyebut Jembatan Kayutangi Ujung yang baru menelan dana Rp 264.561.819.000 atau Rp 264,5 miliar lebih bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBBN). Terhitung 30 November 2018, selama 840 hari kalender digarap jembatan model cable stayed berbentang 850 meter ini digarap.

PROYEK penggantian Jembatan Sungai Alalak milik Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR melalui Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Kalsel ini digarap konsorsium, PT Wijaya Karya-PT Pandji Bangun Persada dengan konsultan pengawas, PT Adiya Widya Jasa jo Anugerah Kridapradana dan PT Puri Dimensi.

Demi memuluskan megaproyek ini, diputuskan efektif Senin (1/4/2019), penutupan total arus lalu lintas (lalin) di Jembatan Sungai Alalak lama, akan diberlakukan, usai dua hari dilakukan prasimulasi dan simulasi di akses penghubung Jalan Brigjen H Hasan Basry-Jalan Trans Kalimantan, Handil Bakti, Barito Kuala itu.

BACA : Selama Dua Tahun, Ini Rekayasa Lalu Lintas Berlaku di Kayutangi dan Handil Bakti

Ahli Utama Jembatan dari Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Kalimantan Selatan, Hasan Husaini pun berpendapat penggantian jembatan lawas dengan Jembatan Sungai Alalak yang baru memang sangat dibutuhkan publik.

“Ini mengingat arus lalu lintas harian rata-rata berdasar hasil survei sangat meningkat tajam di daerah penghubung batas kota, antara Banjarmasin dan Handil Bakti, Barito Kuala. Tentu saja, semua ini tak terlepas karena meningkatnya populitas penduduk di sekitar wilayah itu, termasuk pemakai jalan dari Kalimantan Tengah semakin hari makin meningkat,” tutur Hasan Husaini kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Minggu (31/3/2019).

Dengan kondisi jembatan yang lama tak lagi bisa menampung volume kendaraan bermotor, Hasan Husaini mengakui memang perlu diganti dengan jembatan yang jauh lebih lebar dan bentang panjang.

“Yang pasti, Jembatan Sungai Alalak perlu analisis mengenai dampak lingkungan lalu lintas (amdal lalin). Bukan hanya sekadar teori di atas kertas, tapi harus berdasar survei dan investigasi kondisi aktual yang sebenarnya,” tutur insinyur teknik Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

BACA JUGA : Jembatan Sungai Alalak Resmi Ditutup Senin Sore

Hasan Husaini pun jika semua ditopang amdal lalin tentunya kemacetan yang ditimbulkan bisa diatasi dngan koordinasi pihak terkait selama pelaksanaan proyek Jembatan Sungai Alalak yang baru.

“Saya yakin kalau penutupan dan pengalihan arus akses jalan ini besok (Senin, 1/4/2019) akan menimbulkan kemacetan  tidak teratasi. Bahkan, memicu stress yang berkepanjangan untuk masyarakat sekitar dan pemakai arus lalu lintas dari arah Kalteng atau Marabahan menuju Banjarmasin, maupun sebaliknya,” papar magister teknik ITS Surabaya ini.

BACA LAGI : Picu Stress Tinggi, Fenomena Leher Botol Bakal Terjadi di Kayutangi Ujung

Menurut Hasan Husaini, bukan keindahan arsitektur Jembatan Sungai Alalak yang baru dibanggakan, justru yang ditekankan apakah perencanaannya sudah memenuhi kebutuhan arus lalu lintas ke depan.

“Terutama mengatasi jumlah arus yang begitu pesat perkembangannya. Kalau tidak, maka percuma  saja indah dan artistic, kalau keluar dari fungsi pembangunan yang diharapkan oleh semua lapisan masyarakat,” tuturnya.

Justru, Hasan Husaini melihat ada hal yang sebenarnya terjadi dalam megaproyek Jembatan Sungai Alalak ini diduga akibat tidak mantapnya penerapan feasibility study pembangunan jembatan baru terkait fungsinya sebagai akses lalu lintas ke depan.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Didi GS