Ancam Mogok Massal, Juragan Klotok Berencana Mengadu ke Gubernur Kalsel

DITENGGAT Minggu (3/3/2019) ini agar tak mengizinkan lagi penumpang naik ke atas atap klotok, dilawan para juragan. Mereka memprotes kebijakan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banjarmasin yang akan menandai dan melarang operasional klotok yang membandel terhadap aturan itu.

ANCAMAN mogok massal untuk melayani rute wisata susur sungai di perairan Sungai Martapura, tepatnya berawal di Dermaga Siring Tendean disuarakan Ketua Persatuan Motoris Klotok Maju Karya Bersama, Burhanuddin.

“Memang, kami sudah menerima surat peringatan dari Dishub Banjarmasin terkait larangan mengizinkan penumpang naik ke atas atap klotok yang berlaku besok hari, 3 Maret 2019,” ucap Burhanuddin kepada jejakrekam.com, Sabtu (2/3/2019).

BACA :  Besok, Penumpang Klotok Wisata Susur Sungai Dilarang Naik ke Atas Atap

Namun, kebijakan Dishub Banjarmasin ini dituding Burhanuddin dan kawan-kawan hanya sepihak. Untuk melawannya, Burhanuddin mengatakan berdasar kesepakatan untuk mogok beroperasi saat pemberlakuannya pada esok hari.

“Kalau mereka merazia klotok kami, itu sama saja membalikkan piring nasi kami. Kami nanti akan laporkan masalah ini ke Gubernur Kalsel Sahbirin Noor. Kami minta perlindungan dari Gubernur Kalsel,” ucap Burhanuddin.

BACA JUGA : Ditarget Enam Bulan, Purwarupa Klotok Wisata ala Dishub Diterapkan

Jika nanti ditandai dan dilarang beroperasi, Burhanuddin mengatakan yang merasakan dampak tentu para juragan atau motoris klotok. “Makan apa nanti anak bini kami. Kecuali mereka mau bayar kerugian usaha kami,” katanya.

Menurutnya, sampai kapan pun, mereka tetap mempertahankan atap klotok wisatanya bisa dinikmati penumpang sebagai alas duduk. Jika klotok merasa oleng, sudah diantisipasi dengan meminta para penumpang kembali turun ke bawah, duduk santai menikmati panorama Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin.

“Malah, wisatawan dari luar berani duduk di atas. Kami sempat tegur, tapi mereka beralasan berani duduk di atas atap. Nah, itu kan kemauan mereka, bukan kami yang menyuruh,” balas Burhanuddin.

Malah, sebut dia, justru duduk di atas atap klotok jauh lebih leluasa bagi penumpang sembari menikmati view Sungai Martapura. Menurut Burhanuddin, hal itu rata-rata bukan pendapat dari para motoris, namun berasal dari para penumpang.

“Kalau kami larang, mereka malah mengeluh. Jadi, kami ini serba salah. Apalagi, desain klotok ini sudah dirancang nenek moyang yang sudah paham kondisi sungai di Banjarmasin. Ini alasan kami tetap mempertahankan model klotok yang ada,” tegas Burhanuddin.

BACA LAGI :  Berbiaya Rp 50 Juta, Dishub Banjarmasin Bikin Contoh Klotok Aman

Lagi-lagi, Burhanuddin mempertanyakan model klotok aman meniru gaya speedboat atau longboat itu, dengan alasan jauh lebih aman dibandingkan klotok wisata yang ada. “Dengan model yang ada, kami mudah mencari kebocoran karena penumpang berada di atas atap. Beda, kalau model yang disodorkan Dishub itu, sulit untuk mencari penyebab kebocoran, malah-malah bisa tenggelam,” sahutnya.

Diancam mogok massal, Kepala Dishub Banjarmasin Ichwan Noor Chalik bersikukuh tak khawatir. Ia menegaskan aturan tetap dijalankan untuk melarang para penumpang naik ke atas atap klotok.

“Kalau mereka mogok, yang rugi mereka sendiri. Sebab, destinasi wisata Siring Tendean tidak akan terpengaruh. Apalagi, kami punya wewenang untuk menutup dua dermaga klotok ilegal yang ada di Siring Tenden. UU harus ditegakkan, kalau tidak aparat pemerintah yang menjalankan UU, siapa lagi,” cecar Ichwan Noor Chalik.

BACA LAGI :  Ragu Keandalan Klotok ala Dishub, Pemilik Ngotot Pertahankan Model yang Ada

Dia kembali menegaskan kebijakan dijalankan semata-mata untuk mengutamakan keselamatan penumpang wisata susur sungai di Sungai Martapura. “Jadi, lebih utama dibandingkan memperhatikan para juragan klotok mau mogok massal atau apapun itu namanya,” tandas Ichwan.(jejakrekam)

 

Penulis Arpawi
Editor Didi GS