‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari di Kecamuk Perang Banjar

Foto : Berbagai Sumber

KARYA tulis begawan sejarah Banjar, Prof Idwar Saleh pun kini ‘digugat’ sejumlah peneliti sejarah. Naskah ini ditulis ahli sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin dan dijadikan referensi utama. Utamanya, kiprah tokoh sentral Perang Banjar (1859-1905), meluas hingga ke daerah pedalaman Sungai Barito, berkecamuk selama 46 tahun. Sedangkan, versi dokumen Belanda, perang itu hanya berlangsung empat tahun dari 1859-1863.

BUKU berjudul Pangeran Antasari, Tokoh Pentjetus Perang Bandjarmasin (1859-1863) yang ditulis Idwar Saleh, terdiri dari delapan bab. Diawali dari bab I memuat maksud pokok dan tujuan penyelidikan, bab II daftar sumber yang dipergunakan, bab III silsilah tokoh pimpinan utama dalam Perang Banjar. Kemudian, di bab IV memuat tokoh-tokoh lain yang dianggap penting.

Selanjutnya, sang penulis sekaligus peneliti sejarah Perang Banjar, Idwar Saleh juga memuat dalam bab V berisi tinjauan singkat peristiwa-peristiwa yang menyebabkan Perang Banjar dan arti Pangeran Antasari dalam peristiwa itu. Secara khusus, peran Pangeran Antasari dikupas penulis dalam bab VI dalam Perang Banjar yang berlangsung dari 1859 hingga 1863.

BACA :  Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat dan Tipu Muslihat Belanda

Dari hasil penyelidikan Idwar Saleh juga dibahas dalam bab VII berisi perbandingan dengan sumber-sumber yang ada di daerah serta beberapa pendapat golongan-golongan yang sekarang ada di Kalimantan Selatan. Di bab penutup atau bab VIII, Idwar Saleh mencantumkan kesimpulan, lampiran dan lukisan Pangeran Antasari.

Naskah dalam bentuk buku ini disusun Idwar Saleh di Jakarta, pada 1 Juni 1960. Termasuk, ada beberapa arsip bertulis tangan dan stensil dari petikan mesin tik yang dilampirkan sang penulis.

Peneliti sejarah Wajidi Amberi mengakui naskah berjudul Pangeran Antasari Tokoh Pentjetus Perang Bandjarmasin 1859-1863, yang ditik stensilan tahun 1966 ini merupakan bahan usulan Pangeran Antasari sebagai Pahlawan Nasional.

BACA JUGA :  Politik Belah Bambu Snouck dalam Perang Banjar

Gelar Pangeran Antasari ketika diangkat menjadi Raja Banjar di daerah darurat di pedalaman DAS Barito adalah Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Pria yang bernama asli Gusti Inu Kartapati ini dinobatkan sebagai pimpinan tertinggi di Kesultanan Banjar pada 14 Maret 1862, di hadapan para kepala suku Dayak dan adipati (setingkat gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan, seperti Tumenggung Surapati atau Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.

“Bagi sebagian kalangan yang pernah membaca naskah ini, jelas bernuansa tendensius. Satu sisi isi naskah ini mengangkat kepahlawanan Pangeran Antasari. Namun, di sisi lain, justru melemahkan peran Pangeran Hidayatullah, terutama dalam Perang Banjar,” kata Wajidi Amberi kepada jejakrekam.com, Jumat (18/1/2019).

Peneliti yang pernah bekerja di Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan ini mengungkapkan dalam isi naskah yang ditulis Idwar Saleh ini menyimpulkan Pangeran Hidayatullah  justru menyerah kepada Belanda.

“Ironisnya, tesis ini malah diamini bahkan dijadikan rujukan oleh penulis-penulis sejarah lainnya. Sudah sepatutnya, para sejarawan Banjar mampu meng-counter tesis yang terdapat dalam naskah ini,” kata Wajidi Amberi.

BACA JUGA :  Pangeran Tamjid Bukan Pengkhianat Kesultanan Banjar

Menurut dia, boleh saja sumber referensi yang mengupas Perang Banjar dengan menampilkan peran masing-masing tokohnya dari rujukan yang sama, asalkan ada interprestasi yang berbeda.

“Jauh lebih baik lagi, jika memiliki bukti atau novum baru. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Pangeran Hidayatullah bukan menyerah melainkan ditipu oleh Belanda,” kata Wajidi Amberi.

Magister PIPS Universitas Lambung Mangkurat ini mengatakan semestinya dalam Perang Banjar itu  malah melahirkan beberapa pahlawan nasional dari Tanah Banjar. “Ya, seperti Perang Aceh, banyak tokoh yang jadi pahlawan nasional. Bukan hanya Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Panglima Polim, justru banyak tokoh yang jadi pahlawan nasional dari Perang Aceh berlangsung pada 1873 hingga 1904,” tutur Wajidi Amberi.

Berdasar sejumlah referensi yang masyhur dalam Perang Banjar, justru banyak tokoh selain Pangeran Antasari. Tokoh sentral lainnya adalah Pangeran Hidayatullah, merupakan Sultan Hidayatullah Halililah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman, yang mengatur strategi perlawanan terhadap kolonial Belanda.

BACA LAGI :  Usai Antasari, Pejuang Banjar Lainnya akan Difilmkan

Kemudian, panglima Perang Banjar, Demang Lehman yang bergelar Kiai Adipati Mangku Negara, yang wafat dalam usia 32 tahun ( lahir pada 1832) usai menjalani hukuman gantung di Martapura pada 27 Februari 1864, hingga kepalanya diboyong Belanda. Kepala Demang Lehman pun masih tersimpan di Museum Leiden Belanda.

Tokoh lainnya adalah Tumenggung Abdul Jalil bergelar Tumenggung Macan, yang syahid dalam pertempuan di Benteng Tundakan, Balangan pada 24 September 1861, ketika berumur 21 tahun.

Ada pula, Penghulu Rasyid, ulama Tanah Banjar yang angkat senjata melawan Belanda dalam Perang Banjar dan pencetus gerakan jihad Baratib Baamal. Daerah pertempuran berhadapan dengan serdadu terlatih Belanda pun berlangsung di Banua Lima atau kawasan Hulu Sungai sekarang.

Kemudian, pejuang dari kalangan suku Bakumpai yang terkenal adalah Panglima Wangkang atau Mas Demang Wangkang. Figur ini merupakan tokoh perlawanan rakyat Bakumpai di Distrik Bakumpai (kini Kabupaten Barito Kuala), meneruskan perjuangan sang ayah yang dihukum mati Belanda, Pambakal Kendet.

Selanjutnya, ada pula tokoh Perang Banjar lainnya, Sultan Muhammad Seman atau Sultan Banjar dalam masa darurat memerintah pada 1865-1905 (versi lain 1875-1905). Putra Pangeran Antasari ini pun menjalankan operasi Perang Banjar dari daerah DAS Barito seperti Dusun dan Muara Teweh hingga perbatasan Kesultanan Banjar-Kerajaan Kutai.

Tokoh Perang Banjar lainnya adalah Panglima Batur. Seorang panglima perang yang menghimpun pasukan Dayak untuk konfrontasi dengan Belanda. Bahkan, pasukan yang dikomando Panglima Batur ini berhadapan langsung dengan pasukan khusus Belanda, marsose yang berpengalaman dalam Perang Aceh di bawah pimpinan Letnan Christofel.

BACA LAGI : 24 September 1625; Hari Kemenangan Sang Sultan

Terakhir tokoh perlawanan kaum hawa Tanah Banjar, Ratu Zalecha putri Sultan Muhammad Seman. Bernama lahir Gusti Zaleha ini merupakan figur yang menggerakkan emansipasi wanita di Kalimantan. Terbukti, wanita-wanita suku Dayak seperti Bulan Jihad, Ilen Masidah dan lainnya tergabung dalam pasukan yang dipimpin Ratu Zalecha melawan serdadu Belanda di berbagai daerah pertempuran selama Perang Banjar berkecamuk.(jejakrekam)

 

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi