Geram, Walikota Ibnu Perintahkan Satpol PP Tertibkan Penghuni Kolong Jembatan Antasari

DIPAGAR sudah, gubuk yang berada di bawah kolong Jembatan Antasari juga telah dibongkar Satpol PP Kota Banjarmasin. Namun, para penghuni tetap memilih bertahan. Mereka menggelar terpal di seputar pos yang berada di Siring Antasari.

RUPANYA para penghuni tak pernah jera dengan penertiban dari aparat Satpol PP Banjarmasin. Meski Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin melalui Bidang Jembatan khawatir keberadaan gubuk-gubuk itu akan mempengaruhi kontruksi jembatan lawas itu.

Stempel gubuk para penghuni kolong jembatan ini juga dinilai Pemkot Banjarmasin merusak estetika kota, karena kawasan Jembatan Antasari termasuk dalam lintasan wisata susur sungai dan berdekatan dengan Hotel Swissbell Borneo.

Hal ini membuat Walikota Banjarmasin Ibnu Sina pun geram. “Saya minta segera Satpol PPP untuk menertibkan para penghuni kolong Jembatan Antasari. Sebab, kawasan itu sudah tidak enak dipandang mata,” kata Walikota Ibnu Sina kepada awak media, usai mengikuti pelantikan dua anggota tambahan PPK di Panggung Terbuka, Balai Kota, Kamis (10/1/2019).

Menurut Ibnu Sina, pemerintah kota sudah memberi tawaran bagi para penghuni kolong jembatan untuk tinggal di rumah singgah atau pun rumah susun. Namun, lagi-lagi mereka menolak dengan dalih tak bisa bekerja mencari uang.

BACA :  Ditawari Bansos, Penghuni Kolong Jembatan Enggan ke Rumah Singgah

“Karena mereka tidak mau ya terpaksa ditertibkan. Kalau perlu dipagari nanti kawasan itu. Padahal, kita selama ini sudah manusiawi,” ujar Ibnu Sina.

Sebelumnya, anggota Komisi IV DPRD Banjarmasin Noorlatifah menyarankan agar para penghuni kolong jembatan itu segera didata, kemudian dipindahkan ke rumah susun atau rumah singgah.

“Sebab, mereka juga warga Banjarmasin. Jadi, perlu pendekatan yang manusiawi. Keberadaan mereka di seputar kawasan Jembatan Antasari memang mengganggu keindahan kota,” ucap legislator Golkar ini.

Menurut Lala, sapaan akrab politisi perempuan beringin, kehidupan tak layak yang dijalani para penghuni kolong jembatan itu patut segera dientaskan ke tempat yang lebih manusiawi.

BACA JUGA :  Usai Dipagar, Bangun Gubuk, Dua Penghuni Kolong Jembatan Jatuh Sakit

Sebelumnya, Nurjanah yang merupakan penghuni kolong Jembatan Antasari ini mengungkapkan dirinya bersama delapn orang yang tinggal, tak mendapat perhatian dari pemerintah kota.

“Kalau pun ditawarkan, kami tetap memilih tinggal di sini. Sebab, dekat dengan tempat bekerja di Pasar Harum Manis sebagai pengupas kulit bawang. Pulang dari pasar, bisa pemulung,” kata Nurjanah.

Alasan pekerjaan lagi-lagi jadi dalih Nurjanah dan rekannya. Ia membayangkan ketika harus tinggal di rumah singgah, justru tak bisa bekerja mencari uang. Malah dalam pikirannya bisa dijadikan semacam pembantu rumah tangga. “Lebih baik tinggal di sini, bisa bekerja dan cari uang untuk kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Didi GS